Prof Elfizar Gagas Kampus Masa Depan: Aman, Nyaman, Hijau dan Inklusif Jadi Kunci Universitas Berkelas Dunia

Sabtu, 06 Juni 2026 12:23:23
Prof Elfizar Gagas Kampus Masa Depan: Aman, Nyaman, Hijau dan Inklusif Jadi Kunci Universitas Berkelas Dunia
Wakil Dekan II FMIPA Unri Prof Elfizar.

PEKANBARU, Inforiau.co – Wakil Dekan II Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Riau, Prof Dr Elfizar SSi MKom, menggagas konsep “kampus idaman dan kampus masa depan” sebagai arah pembangunan perguruan tinggi modern yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga menghadirkan lingkungan akademik yang manusiawi, aman, nyaman, hijau, dan inklusif.

Menurut Prof Elfizar, perguruan tinggi pada hakikatnya bukan sekadar kumpulan gedung kuliah, laboratorium, perpustakaan, maupun kantor administrasi. Kampus merupakan ruang hidup yang mempertemukan beragam manusia dengan gagasan, cita-cita, serta harapan masa depan.

“Kampus adalah tempat ilmu diproduksi, karakter dibentuk, kepemimpinan ditempa, dan masa depan peradaban dirancang. Karena itu, pembangunan kampus tidak cukup hanya diukur dari besarnya bangunan atau anggaran, tetapi sejauh mana kampus mampu menghadirkan rasa nyaman dan memiliki bagi seluruh sivitas akademika,” ujar Prof Elfizar, Sabtu (6/6/2026).

Ia menilai, perubahan dunia pendidikan tinggi dalam satu dekade terakhir berlangsung sangat cepat, terutama akibat perkembangan teknologi digital, pembelajaran daring, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kondisi itu membuat mahasiswa tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ruang kelas konvensional.

Karena itu, kata dia, kampus harus mampu menawarkan nilai tambah berupa pengalaman akademik dan sosial yang berkualitas. “Kampus harus menjadi tempat yang membuat mahasiswa ingin datang, berdiskusi, berinteraksi, berkarya, dan tumbuh bersama,” katanya.

Kenyamanan Jadi Pondasi

Prof Elfizar juga menjelaskan, kenyamanan menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan akademik yang sehat. Lingkungan yang bersih, tertata, teduh, bebas sampah, serta memiliki fasilitas publik yang berfungsi baik diyakini dapat meningkatkan motivasi belajar dan produktivitas sivitas akademika.

Selain nyaman, aspek keamanan juga dinilai menjadi syarat utama kampus modern. Menurutnya, tidak ada kampus yang dapat disebut maju apabila masih terdapat praktik kekerasan, perundungan, pelecehan seksual, diskriminasi, maupun intimidasi.

“Mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan harus merasa aman secara fisik maupun psikologis. Keamanan kampus bukan hanya tanggung jawab satpam, tetapi budaya bersama yang dibangun melalui penghormatan terhadap sesama dan penegakan aturan yang adil,” tegasnya.

Kebijakan Pencegahan Kekerasan

Ia juga menekankan pentingnya penerapan kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi secara serius dan konsisten. Komitmen pimpinan kampus, perlindungan terhadap pelapor, serta ketegasan penegakan aturan disebut menjadi indikator penting dalam membangun kampus bermartabat.

Dalam gagasannya, Prof Elfizar turut menyoroti pentingnya ruang interaksi yang hidup di lingkungan kampus. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya belajar dari dosen di ruang kelas, tetapi juga melalui organisasi, komunitas, diskusi, dan aktivitas kemahasiswaan lainnya.

“Kampus ideal harus menyediakan ruang terbuka yang memungkinkan lahirnya percakapan intelektual dan kolaborasi lintas disiplin. Sudut-sudut kampus harus menjadi ruang bertemunya ide,” ujarnya.

Estetika Punya Peran Strategis

Tidak hanya itu, estetika lingkungan kampus juga dianggap memiliki peran strategis dalam membangun atmosfer akademik. Pohon-pohon rindang, taman hijau, jalur pejalan kaki yang nyaman, hingga ruang publik artistik dinilai mampu meningkatkan keterikatan emosional warga kampus terhadap almamaternya.

Bagi wilayah tropis seperti Riau, konsep kampus hijau disebut sangat relevan. Penataan lanskap melalui ruang terbuka hijau, pohon peneduh, dan sistem drainase yang baik akan menciptakan suasana belajar yang lebih sejuk sekaligus mendukung agenda keberlanjutan lingkungan.

Prof Elfizar juga menekankan pentingnya prinsip inklusivitas dalam tata kelola perguruan tinggi. Menurutnya, setiap individu harus memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses layanan pendidikan tanpa diskriminasi.

“Gedung ramah disabilitas, jalur kursi roda, lift memadai, toilet khusus, hingga sistem pelayanan yang tidak diskriminatif merupakan bentuk nyata komitmen kampus inklusif,” jelasnya.

Perhatian Kepada Kelompok Disabilitas

Ia menyebut perhatian terhadap kelompok disabilitas menjadi salah satu indikator penting kualitas tata kelola universitas modern. Kampus yang menghargai keberagaman dinilai akan melahirkan kreativitas dan memperkuat kohesi sosial.

Lebih jauh, Prof Elfizar berpandangan tantangan terbesar perguruan tinggi negeri di Indonesia bukan semata keterbatasan anggaran, melainkan bagaimana menghadirkan kepemimpinan visioner dan tata kelola yang konsisten.

“Kampus yang bersih, aman, tertata, dan ramah sering lahir dari perhatian terhadap hal-hal sederhana yang dilakukan secara berkelanjutan,” katanya.

Ia menegaskan, kampus berstandar global bukan hanya soal gedung megah dan fasilitas canggih, melainkan kemampuan menghadirkan lingkungan akademik yang aman, nyaman, indah, setara, dan berkelanjutan bagi seluruh komunitasnya.

“Dari lingkungan kampus yang manusiawi, estetis, inklusif, dan berkelanjutan itulah langkah menuju universitas berdaya saing global sesungguhnya dimulai,” tutup Prof Elfizar. (uli/irg)

KOMENTAR