Kisah 12 Tahun sebagai Petugas Pemadam Kebakaran Hutan, Angga Setiawan Rela Tinggalkan Keluarga di Momen Lebaran
Inforiau – 03 November 2026 | Angga Setiawan masih mengingat jelas momen ketika dirinya dan tim terjepit di antara kobaran api saat melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Kepanikan sempat melanda rekan-rekannya. Namun, pria yang telah 12 Tahun sebagai Petugas Pemadam Kebakaran Hutan tinggalkan keluarga di momen Lebaran itu tetap tenang dan meminta seluruh anggota tim untuk tidak kehilangan kendali. Dengan langkah perlahan, mereka bergerak menjauhi api hingga mencapai sebuah kanal. Di tepi kanal, Angga menginstruksikan tim untuk melompat ke air dan berenang bersama. Tak lama kemudian, suara perahu cepat mendekat. Rekan kerja mereka datang menyelamatkan. Pengalaman mencekam itu hanyalah satu dari sekian banyak kisah yang ia lalui selama lebih dari satu dekade mengabdi sebagai petugas pemadam kebakaran hutan.
Bagi Angga, menjadi petugas pemadam kebakaran hutan bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa. Selama 12 Tahun sebagai Petugas Pemadam Kebakaran Hutan tinggalkan keluarga di momen Lebaran, ia harus merelakan waktu berkumpul bersama orang tercinta, terutama saat Hari Raya Idulfitri. Ketika umat Muslim merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa, Angga justru berada di garis depan memerangi api yang mengancam ekosistem dan kesehatan masyarakat. “Lebaran adalah momen yang paling berat. Saya harus meninggalkan istri dan anak-anak untuk bertugas. Tapi ini sudah menjadi tanggung jawab,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di posko pemadam kebakaran.
Selama 12 Tahun sebagai Petugas Pemadam Kebakaran Hutan tinggalkan keluarga di momen Lebaran, Angga telah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari medan yang sulit, cuaca ekstrem, hingga risiko terancam jiwa. Ia mengaku pernah mengalami kejadian hampir terperangkap api pada tahun 2019 silam. Saat itu, timnya sedang memadamkan api di lahan gambut yang kering. Angin kencang tiba-tiba mengubah arah api sehingga mengepung mereka. Berkat ketenangan dan kerja sama tim, mereka berhasil menyelamatkan diri melalui kanal yang tak jauh dari lokasi.
Pengalaman pahit itu tidak membuat Angga gentar. Justru, ia semakin termotivasi untuk terus mengabdi. Ia menyadari bahwa kebakaran hutan dan lahan memiliki dampak luas, tidak hanya bagi lingkungan tetapi juga bagi kesehatan masyarakat dan perekonomian. Asap yang ditimbulkan dapat menyebabkan gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak dan lansia. Selain itu, kebakaran hutan juga merusak habitat satwa dan memperparah perubahan iklim.
Di balik dedikasi yang tinggi, Angga mengakui bahwa keluarganya sering kali menjadi sumber kekuatan sekaligus kelemahan. Ia merasa bersalah karena tidak bisa selalu hadir saat momen penting keluarga. Namun, istrinya selalu memberikan dukungan penuh. “Istri saya tahu risiko pekerjaan ini. Dia selalu mendoakan dan mengingatkan agar saya berhati-hati. Anak-anak juga sudah terbiasa dengan ayah yang sering bertugas saat libur panjang,” tuturnya.
Selama 12 Tahun sebagai Petugas Pemadam Kebakaran Hutan tinggalkan keluarga di momen Lebaran, Angga telah menyaksikan perubahan pola kebakaran hutan dari tahun ke tahun. Ia menilai bahwa kesadaran masyarakat akan bahaya membuka lahan dengan cara membakar masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, penegakan hukum yang tegas dan edukasi yang berkelanjutan menjadi kunci pencegahan. Ia juga berharap pemerintah terus memperkuat kapasitas petugas pemadam kebakaran, baik dari segi peralatan maupun kesejahteraan.
Meski sering meninggalkan keluarga di momen Lebaran, Angga tidak pernah menyesali pilihannya. Baginya, menjadi petugas pemadam kebakaran hutan adalah bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara. Ia bangga bisa menjadi bagian dari upaya penyelamatan lingkungan. “Setiap api yang berhasil dipadamkan adalah kepuasan tersendiri. Melihat hutan kembali hijau dan masyarakat bisa beraktivitas dengan aman, itu adalah hadiah terbesar bagi saya,” ucapnya.
Kisah Angga Setiawan menjadi cerminan pengorbanan para petugas pemadam kebakaran hutan di Indonesia. Mereka sering kali bekerja tanpa mengenal waktu, jauh dari keluarga, dan menghadapi risiko yang tidak kecil. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat, sangat berarti bagi mereka. Dengan kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan, kebakaran hutan dan lahan dapat diminimalisir sehingga para petugas seperti Angga tidak perlu terlalu sering meninggalkan keluarga tercinta.
Pada akhirnya, dedikasi 12 Tahun sebagai Petugas Pemadam Kebakaran Hutan tinggalkan keluarga di momen Lebaran mengajarkan kita tentang arti pengorbanan dan tanggung jawab. Angga berharap generasi muda dapat menghargai jasa para petugas pemadam kebakaran dan turut serta dalam menjaga kelestarian hutan. Karena pada dasarnya, hutan yang lestari adalah warisan berharga bagi anak cucu kita.
