Inforiau – 03 November 2026 | Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, dan berdialog langsung dengan para petani kakao setempat. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Wapres dialog dengan petani kakao bahas pupuk subsidi alat pertanian menjadi sorotan utama, mengingat sektor perkebunan kakao merupakan salah satu penopang ekonomi masyarakat di wilayah itu.
Dialog yang digelar di tengah-tengah kebun kakao tersebut dihadiri oleh puluhan petani yang datang dari berbagai kecamatan. Mereka menyampaikan berbagai keluhan dan harapan, mulai dari sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi hingga kebutuhan akan peralatan pertanian yang lebih modern. Wapres Gibran tampak mendengarkan dengan saksama setiap aspirasi yang disampaikan para petani.
Keluhan Petani Soal Pupuk Subsidi
Dalam dialog tersebut, sejumlah petani mengeluhkan kelangkaan pupuk subsidi yang sering terjadi, terutama pada musim tanam. Mereka mengaku kesulitan memperoleh pupuk dengan harga terjangkau, sehingga biaya produksi meningkat dan berdampak pada penurunan pendapatan. Menanggapi hal ini, Wapres menegaskan bahwa pemerintah akan terus berupaya memperbaiki sistem distribusi pupuk subsidi agar tepat sasaran.
“Kita ingin memastikan bahwa pupuk subsidi benar-benar sampai ke tangan petani. Jangan sampai ada permainan di lapangan yang membuat petani kesulitan,” ujar Wapres dalam keterangannya.
Ia juga meminta kepada dinas pertanian setempat untuk melakukan pendataan ulang terhadap petani penerima pupuk subsidi, sehingga alokasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil. Selain itu, Wapres mendorong penggunaan pupuk organik sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Kebutuhan Alat Pertanian Modern
Selain pupuk, para petani kakao juga menyampaikan kebutuhan akan alat pertanian yang lebih efisien, seperti mesin pengering biji kakao, alat pemecah buah, dan peralatan pengolahan pascapanen lainnya. Mereka berharap pemerintah dapat memberikan bantuan berupa alat-alat tersebut untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk kakao.
Menanggapi aspirasi itu, Wapres Gibran berjanji akan mengoordinasikan dengan Kementerian Pertanian dan kementerian terkait untuk menyediakan bantuan alat pertanian bagi petani kakao di Mamuju. “Kita akan coba fasilitasi. Jangan sampai petani sudah susah payah menanam, tapi hasilnya tidak maksimal karena keterbatasan alat,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Wapres dialog dengan petani kakao bahas pupuk subsidi alat pertanian juga menyoroti pentingnya pendampingan dan pelatihan bagi petani agar dapat mengelola kebun secara lebih produktif. Ia menilai bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) petani sama pentingnya dengan penyediaan sarana produksi.
Dukungan untuk Hilirisasi Kakao
Lebih lanjut, Wapres menyinggung soal hilirisasi komoditas kakao. Menurutnya, pengolahan kakao di dalam negeri perlu didorong agar nilai tambah dinikmati oleh petani dan pelaku usaha lokal. Ia berharap daerah dapat mengembangkan industri pengolahan kakao skala kecil dan menengah yang melibatkan petani sebagai pemasok bahan baku.
“Kita tidak mau terus-terusan mengekspor biji kakao mentah. Hilirisasi harus jalan, dan petani harus jadi bagian dari rantai nilai itu,” kata Wapres.
Para petani yang hadir menyambut baik komitmen tersebut. Mereka berharap kunjungan Wapres tidak sekadar seremonial, tetapi diikuti dengan realisasi program yang konkret. Salah seorang petani, Hasbullah (45), mengaku senang bisa menyampaikan langsung keluhannya kepada pemerintah pusat. “Kami berharap pupuk subsidi lancar dan ada bantuan alat. Selama ini kami mengolah kakao secara tradisional,” ujarnya.
Sinergi Pusat dan Daerah
Dalam dialog itu, Wapres dialog dengan petani kakao bahas pupuk subsidi alat pertanian juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten. Wapres meminta agar pemerintah daerah aktif mengawal distribusi pupuk dan memastikan program bantuan berjalan efektif.
Ia juga mengingatkan pentingnya data yang akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan. Menurutnya, pendataan petani yang valid akan memudahkan penyaluran bantuan dan mengurangi potensi tumpang tindih.
Kunjungan Wapres ke Mamuju ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja di Sulawesi Barat. Selain berdialog dengan petani kakao, Wapres juga dijadwalkan meninjau sejumlah infrastruktur dan program pembangunan di daerah tersebut.
Pengamat pertanian dari Universitas Hasanuddin, Dr. Andi Mappatoba, menilai bahwa dialog semacam ini penting untuk menjembatani aspirasi petani dengan kebijakan pemerintah. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada implementasi di lapangan. “Yang paling krusial adalah pengawasan distribusi pupuk dan kesiapan anggaran untuk bantuan alat. Jangan sampai janji manis di atas kertas,” katanya.
Dengan adanya dialog ini, diharapkan Wapres dialog dengan petani kakao bahas pupuk subsidi alat pertanian dapat menghasilkan solusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan petani kakao, khususnya di Sulawesi Barat. Pemerintah diharapkan segera menindaklanjuti aspirasi tersebut melalui program yang terukur dan berkelanjutan.
Sebagai penutup, komitmen pemerintah untuk mendengarkan langsung suara petani menjadi langkah positif dalam membangun sektor pertanian yang lebih tangguh. Keberhasilan dialog ini akan terlihat dari perbaikan akses pupuk subsidi, ketersediaan alat pertanian, dan peningkatan produktivitas kakao yang pada akhirnya bermuara pada kesejahteraan petani.
