Geger Industri Gim: BioWare Tutup Setelah 31 Tahun, Mass Effect Baru Resmi Dibatalkan
Inforiau – 22 Oktober 2026 | Industri gim global diguncang kabar besar. Pengembang legendaris BioWare resmi menutup operasionalnya setelah lebih dari tiga dekade berkarya, dan proyek sekuel Mass Effect terbaru yang sudah memasuki tahap awal pengembangan resmi dibatalkan. Pengumuman ini disampaikan Electronic Arts (EA) pada Rabu, 21 Oktober 2026, melalui memo internal dari Presiden EA Cam Weber dan Direktur Operasi David Tinson, yang kemudian dikonfirmasi langsung oleh BioWare melalui akun media sosial resminya.
Penutupan BioWare menjadi bagian dari restrukturisasi besar EA yang memangkas sekitar 400 karyawan, atau sekitar tiga persen dari total tenaga kerja global perusahaan. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 posisi berasal dari BioWare, termasuk penutupan kantor studio di Edmonton, Alberta, Kanada. EA menyatakan akan membantu karyawan terdampak mencari peluang kerja lain di internal perusahaan.
Lahir dari Edmonton, Mendunia Lewat Narasi
Didirikan pada 1995, BioWare membangun reputasinya lewat petualangan role-playing yang mendalam. Dari fantasi pedang dan sihir seperti Baldur’s Gate dan Neverwinter Nights, hingga epik fiksi ilmiah seperti Star Wars: Knights of the Old Republic, Mass Effect, dan Dragon Age. Studio ini dikenal karena penekanannya pada cerita, interaksi karakter, dan pilihan pemain yang benar-benar memengaruhi jalan cerita. EA sendiri mengakuisisi BioWare pada 2007.
Namun, beberapa tahun terakhir menjadi masa sulit. Upaya studio merambah genre penembak multipemain lewat Anthem (2019) dinilai menjauh dari kekuatan utamanya sebagai pencipta narasi pemain tunggal yang memikat. Game tersebut gagal menemukan basis penggemar loyal seperti yang dimiliki Fortnite atau Overwatch, dan layanannya sudah ditutup lebih awal pada tahun ini.
Rangkaian Rilis yang Tak Sesuai Harapan
Dua seri terbaru dari waralaba paling populer BioWare juga menerima respons beragam. Mass Effect: Andromeda (2017) diterima jauh lebih dingin dibandingkan trilogi sebelumnya. Sementara Dragon Age: The Veilguard yang dirilis 31 Oktober 2024 menuai ulasan mayoritas positif, tetapi hanya mencapai sekitar 1,5 juta pemain pada kuartal peluncurannya, atau hampir 50 persen di bawah ekspektasi EA. Setelah itu, BioWare dipangkas menjadi tim kecil yang berfokus terutama pada Mass Effect berikutnya, yang telah diumumkan sejak 2020.
| Peristiwa | Tahun |
|---|---|
| BioWare didirikan | 1995 |
| Diakuisisi EA | 2007 |
| Mass Effect: Andromeda | 2017 |
| Anthem | 2019 |
| Dragon Age: The Veilguard | 2024 |
| BioWare ditutup | 2026 |
Efek Domino Akuisisi Rp850 Triliun
Langkah ini datang dua bulan setelah EA resmi menjadi perusahaan privat melalui akuisisi senilai 55 miliar dolar AS (sekitar Rp850 triliun) yang dipimpin dana kekayaan negara Arab Saudi, Public Investment Fund (PIF), bersama Silver Lake Partners dan Affinity Partners yang dikelola menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner. Transaksi tersebut meninggalkan EA dengan beban utang sekitar 18 hingga 20 miliar dolar AS dan komitmen memangkas biaya tahunan hingga 700 juta dolar AS, dengan 170 juta di antaranya berasal dari apa yang disebut EA sebagai efisiensi organisasi.
Dalam memo mereka, Weber dan Tinson menyebut keputusan diambil setelah meninjau ulang arah bisnis dan investasi selama beberapa bulan terakhir, di tengah persaingan industri yang memanas dan semakin banyaknya pilihan hiburan bagi pemain. EA memilih memusatkan sumber daya pada game dan layanan yang dinilai punya potensi pertumbuhan lebih besar, sekaligus mengurangi jumlah proyek besar yang dikerjakan bersamaan.
Dampak ke Studio Lain
Restrukturisasi tidak berhenti di BioWare. Full Circle, pengembang skate. yang telah memasuki early access, kehilangan sebagian karyawan meski gamenya disebut meraih banyak kesuksesan. Di Maxis, pengembang The Sims, EA menghentikan sementara pengembangan Project Lotus agar sumber daya dialihkan ke inisiatif lain bernama Project Evergreen. EA menegaskan akan terus berinvestasi pada game olahraga, Apex Legends, Battlefield, serta proyek petualangan berlisensi seperti Star Wars Jedi dan game Iron Man dari Marvel, dengan Respawn Entertainment dan DICE disebut akan berkolaborasi menggarap judul baru.
Dalam pernyataan perpisahannya, BioWare menyampaikan terima kasih kepada para pengembang dan pemain. “Apa yang dibangun bersama oleh generasi-generasi BioWare adalah sesuatu yang layak dirayakan dan dikenang. Game-game ini menjadi jauh lebih berarti karena Anda memainkannya, memperdebatkan pilihan Anda, jatuh cinta pada karakter-karakternya, dan menjadikan dunia ini milik Anda sendiri,” tulis studio tersebut.
Penutupan BioWare melengkapi deretan penutupan studio dan layanan game sepanjang tahun ini, mulai dari Build A Rocket Boy hingga Ubisoft yang mematikan server Champions Tactics. Meski game-game lama BioWare masih dapat dibeli dan dimainkan, berakhirnya studio ini menandai babak baru bagi industri gim global, sekaligus menutup era salah satu nama paling berpengaruh dalam sejarah genre role-playing. Bagi para penggemar, kehilangan BioWare bukan sekadar kehilangan pengembang, melainkan kehilangan rumah bagi cerita-cerita yang membentuk imajinasi mereka selama lebih dari tiga dekade.
