Kylian Mbappé Tersandung Kontroversi Besar: Lelucon soal Mao Zedong Memicu Boikot Masif di China
Inforiau – 05 November 2026 | Penyerang Real Madrid Kylian Mbappé menghadapi badai kontroversi yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah sebuah lelucon yang dianggap menyinggung memicu reaksi keras dari masyarakat China. Insiden yang bermula dari percakapan santai di sebuah acara talk show kini telah berkembang menjadi krisis besar yang mempengaruhi karir internasional pemain berbakat asal Prancis tersebut.
Kontroversi dimulai ketika Kylian Mbappé menjawab pertanyaan dalam acara bincang-bincang The Bridge tentang meme favorit yang beredar di media sosial. Dalam video yang kemudian menjadi viral, pemain berusia 27 tahun itu ditanya mengenai meme yang menggambarkan dirinya sebagai seorang diktator. Mbappé kemudian memilih sebuah meme yang menampilkan wajahnya ditempelkan pada tubuh Mao Zedong, pendiri Republik Rakyat China, dan mengatakan bahwa itu adalah meme yang paling membuatnya tertawa.
“Seseorang—kurasa dia seorang diktator China,” ujar Kylian Mbappé sambil tertawa dalam video tersebut. Pernyataan spontan ini kemudian menjadi pemicu ledakan kemarahan di media sosial China. Mbappé bahkan mengaku sering menggunakan meme tersebut sebagai bahan candaan dengan teman-temannya di klub.
Mao Zedong, yang meninggal pada 1976, dipandang sebagai tokoh revolusioner dan pendiri bangsa China yang hampir sakral di mata masyarakat setempat. Mengolok-olok atau merendahkan Mao Zedong dianggap sebagai perbuatan yang sangat tidak pantas dan menyinggung kebanggaan nasional. Di China, tokoh tersebut masih dihormati secara luas, dan kritik terhadapnya jarang dilakukan secara terbuka.
Reaksi dari masyarakat China datang dengan cepat dan masif. Sejumlah merek besar China memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan Kylian Mbappé dalam hitungan jam. Dongpeng, produsen minuman energi terkemuka, menjadi yang pertama mengumumkan penghentian seluruh bentuk kerja sama dengan pemain Real Madrid tersebut. Perusahaan tersebut menyatakan tidak menoleransi perilaku yang dianggap menyinggung perasaan masyarakat China.
Mengikuti langkah Dongpeng, Mengniu, perusahaan produk susu terbesar di China, juga mengumumkan keputusan serupa. Selain itu, Milkground dan produsen peralatan olahraga On juga mengambil tindakan dengan menghapus konten Kylian Mbappé dari platform media sosial mereka yang khusus melayani wilayah China.
Dampak kontroversi tidak hanya berhenti pada pemutusan kontrak sponsor. China Media Group, induk penyiar televisi pemerintah CCTV, mengumumkan penangguhan siaran pertandingan La Liga. Ini berarti pertandingan Real Madrid, klub tempat Mbappé bermain, tidak akan disiarkan di televisi nasional China. Pengembang game EA Sports dan Konami juga mengambil tindakan dengan menghapus konten Kylian Mbappé dari versi game mereka yang tersedia di China, sehingga pemain game di negara tersebut tidak lagi bisa memilih pemain Prancis tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengeluarkan pernyataan resmi yang keras: “Perkataan dan tindakan yang melukai perasaan rakyat China secara alami akan menghadapi penolakan bersama dari berbagai kalangan masyarakat China.” Pernyataan ini mencerminkan keseriusan pemerintah China dalam merespons insiden yang melibatkan Kylian Mbappé.
Menghadapi gelombang kritik yang luar biasa, Kylian Mbappé akhirnya memutuskan untuk meminta maaf secara terbuka. Permintaan maaf tersebut disampaikan melalui pernyataan dalam tiga bahasa—Prancis, Mandarin, dan Inggris—untuk memastikan pesan sampai kepada audiens China. Dalam pernyataannya, Mbappé mengakui bahwa komentarnya tidak tepat dan menyesali tindakan yang telah dilakukannya.
Namun, permintaan maaf dari Kylian Mbappé tidak sepenuhnya meringankan situasi. Meskipun pemerintah China secara formal menerima permintaan maafnya, mereka tidak memberikan sinyal bahwa akan meringankan efek dari boikot yang telah diberlakukan. Bukti nyata dari sikap keras China terlihat ketika tidak ada pertandingan La Liga yang disiarkan di televisi nasional pada akhir pekan berikutnya. Laga Racing Santander versus Real Madrid yang dimenangkan Real Madrid dengan skor 3-0 pada Minggu, 1 November 2026, tidak ditayangkan di CCTV.
Insiden ini menunjukkan betapa sensitifnya isu-isu historis dan nasionalisme di China, terutama yang berkaitan dengan tokoh-tokoh penting seperti Mao Zedong. Hal ini juga mengungkapkan kekuatan media sosial dalam memicu reaksi massal dan dampak nyata terhadap karir atlet profesional. Bagi Kylian Mbappé, kontroversi ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya memperhatikan konteks budaya dan sensitivitas lokal ketika berbicara di depan publik global.
Real Madrid dan La Liga juga merasakan dampak negatif dari insiden ini, mengingat China adalah pasar yang sangat besar dengan potensi pemasukan hak siar yang signifikan. Hilangnya siaran pertandingan di China bukan hanya masalah bagi Mbappé secara pribadi, tetapi juga berdampak pada organisasi olahraga yang lebih besar.
Situasi ini mencerminkan kompleksitas dunia olahraga modern, di mana atlet tidak hanya harus fokus pada performa di lapangan, tetapi juga harus sangat berhati-hati dalam setiap pernyataan publik mereka. Sebuah lelucon yang dianggap tidak berbahaya di satu budaya dapat memicu krisis besar di budaya lain, dengan konsekuensi yang sangat nyata dan merugikan.
