Pasar IPO Indonesia 2027 Bergairah: 23 Perusahaan Siap Melantai, F&B Mendominasi Pipeline
Inforiau – 05 November 2026 | Bursa Efek Indonesia (BEI) terus memperkuat ekosistem pasar modal dengan mengumumkan 23 perusahaan telah menyelesaikan program pendampingan dan siap melaksanakan IPO pada tahun 2027. Inisiatif kolaboratif antara BEI dan Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui coaching clinic ini menandai optimisme baru dalam aktivitas penawaran umum perdana saham di Indonesia setelah aktivitas IPO 2026 yang relatif sepi.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, menyatakan bahwa hampir seluruh peserta program tersebut berpotensi siap melaksanakan IPO pada tahun depan. Namun, keputusan final untuk melantai di bursa tetap menjadi prerogratif masing-masing perusahaan. “Dalam setahun terakhir ini, BEI bekerja sama dengan Kementerian UMKM melalui program coaching clinic. Ada 23 perusahaan dan rasanya hampir seluruhnya pada tahun depan sudah siap IPO,” ungkap Saidu dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta.
Dari aspek sektor usaha, komposisi peserta program pendampingan menunjukkan pola yang menarik. Perusahaan makanan dan minuman (food and beverage/F&B) mendominasi dengan porsi sekitar 30% dari total peserta. Sektor fesyen menyumbang sekitar 20%, sementara 50% sisanya tersebar di berbagai sektor usaha lain, mencerminkan diversifikasi yang sehat dalam pipeline calon emiten.
Pendekatan BEI terhadap program pendampingan ini tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan kuantitas perusahaan yang melantai di bursa. Sebaliknya, regulator pasar modal Indonesia menempatkan prioritas tinggi pada kualitas dan kesiapan calon emiten. Saidu menekankan bahwa setiap perusahaan harus memenuhi seluruh ketentuan pencatatan saham yang berlaku sebelum melaksanakan IPO. “Kami ingin kualitas perusahaan tercatat di Indonesia meningkat. Yang harus disiapkan bukan hanya perusahaan siap sebelum IPO, tetapi juga setelah menjadi perusahaan publik, mereka siap menanggung kewajiban-kewajibannya,” jelas Saidu.
Komitmen ini sejalan dengan perkeatan regulasi IPO yang dilakukan BEI melalui revisi Peraturan Bursa Nomor I-A yang mulai berlaku pada 9 Oktober 2026. Revisi tersebut meningkatkan persyaratan keuangan bagi calon emiten dan mewajibkan perusahaan di Papan Utama memiliki saldo laba. BEI juga mengubah ketentuan penghitungan saham beredar publik (free float), menghapus batas minimum harga penawaran umum, serta menambah persyaratan dokumen bagi calon emiten, termasuk proyeksi keuangan lima tahun dan dokumen riset ekuitas.
Kontras dengan optimisme untuk tahun 2027, aktivitas IPO 2026 menunjukkan tren yang mengecewakan. Hingga awal Oktober 2026, baru tujuh perusahaan yang berhasil melaksanakan IPO, jauh dari target BEI yang membidik 50 perusahaan baru tercatat di bursa pada tahun tersebut. Emiten yang telah melakukan IPO tahun ini mencakup PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp2,16 triliun.
Meskipun demikian, BEI masih memiliki sejumlah calon emiten dalam pipeline yang berpotensi mengejar target tahunan. Hingga awal Oktober, terdapat tujuh calon emiten yang berada dalam proses pencatatan saham, dengan komposisi yang beragam berdasarkan skala aset. Dari sisi sektor, pipeline IPO masih didominasi industri kesehatan dengan empat calon emiten, disusul dua perusahaan energi dan satu perusahaan dari sektor industrials.
Fenomena sepinya aktivitas IPO 2026 juga tercermin dalam performa saham emiten yang telah melantai sebelumnya. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), yang melakukan IPO pada April 2022 dengan harga Rp338 per saham, mengalami penurunan dramatis hingga mencapai Rp37 per saham pada September 2026. Penurunan hampir 90% ini menunjukkan volatilitas dan tantangan yang dihadapi beberapa emiten dalam mempertahankan nilai saham mereka di pasar.
Di sisi lain, platform-platform inovatif mulai bermunculan untuk memperluas akses investasi IPO kepada investor ritel. Bitget, melalui platform IPO Prime-nya, menghadirkan peluang bagi pengguna untuk berpartisipasi dalam alokasi saham pra-IPO. Antropic, raksasa kecerdasan buatan, menjadi perusahaan ketiga yang masuk dalam platform tersebut. Sistem ini membagi proses pemesanan menjadi dua tahapan: Putaran VIP dengan batas pemesanan $1 miliar dan Putaran Publik dengan biaya di muka lebih rendah sebesar 5%.
Inisiatif seperti IPO Prime mencerminkan upaya industri untuk mendemokratisasi akses ke peluang investasi IPO yang sebelumnya didominasi oleh investor institusional dan nasabah dengan kekayaan besar. CEO Bitget, Gracy Chen, menyatakan bahwa platform ini bertujuan untuk memudahkan lebih banyak orang mengakses peluang investasi yang sebelumnya sulit dijangkau.
Melalui program coaching clinic dan berbagai inisiatif lainnya, BEI berharap semakin banyak perusahaan, khususnya dari sektor UMKM, memiliki pemahaman dan kesiapan untuk memanfaatkan pasar modal sebagai alternatif sumber pendanaan bagi pengembangan usaha. Langkah strategis ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pasar modal yang lebih kuat dan berkelanjutan di Indonesia.
Dengan 23 calon emiten yang telah menjalani program pendampingan dan siap untuk IPO di tahun 2027, prospek pasar modal Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Komitmen BEI untuk meningkatkan kualitas calon emiten, dikombinasikan dengan upaya regulasi yang lebih ketat dan inovasi platform investasi, diharapkan dapat menciptakan momentum positif bagi pertumbuhan pasar modal Indonesia di tahun-tahun mendatang.
