Indeks Kospi Anjlok 5,28 Persen, Regulasi AI Tekan Bursa Korea
Inforiau – 06 November 2026 | Indeks Kospi di Bursa Korea Selatan ditutup anjlok 300,00 poin atau 5,28 persen ke level 5.383,80 pada Kamis (5/11/2026). Tekanan jual dipicu kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat yang memunculkan kekhawatiran pengetatan regulasi investasi kecerdasan buatan (AI), terutama pada pusat data dan semikonduktor.
Sepanjang sesi, indeks Kospi bergerak di rentang 5.336,88 hingga 5.586,46. Volume perdagangan tercatat tipis 256,8 juta saham senilai 22,6 triliun won atau sekitar US$16,8 miliar. Saham turun melampaui yang naik, 534 berbanding 344. Korea Exchange sempat mengaktifkan sell-side sidecar selama lima menit pada pukul 10.16 waktu setempat untuk menahan pelemahan.
Investor asing melepas saham senilai 3,39 triliun won. Institusi dan ritel justru mencatat pembelian bersih masing-masing 841,8 miliar won dan 2,28 triliun won. Analis Mirae Asset Securities, Kim Seok-Hwan, menilai kemenangan Partai Demokrat memperkuat kekhawatiran pasar terhadap pembatasan regulasi AI yang berdampak pada emiten semikonduktor.
Tekanan terhadap indeks Kospi sebenarnya telah berlangsung beberapa pekan. Pada 30 Oktober 2026, indeks Kospi sempat anjlok lebih dari 5 persen, sementara pada 2 November 2026 masih susut 1,39 persen. Goldman Sachs bahkan memangkas target 12 bulan indeks Kospi dari 12.000 menjadi 9.000 pada 25 Oktober 2026. Meski begitu, valuasi saham Korea Selatan dinilai sangat murah dengan rasio price-to-earnings estimasi 12 bulan sekitar 4 kali, terendah sejak 2006.
Di kawasan Asia-Pasifik, pergerakan bursa beragam. Nikkei 225 turun 1,79 persen, Topix naik 1,16 persen, CSI 300 menguat 0,29 persen, Hang Seng melonjak 3,67 persen, S&P/ASX 200 naik 2,61 persen, dan IHSG menguat 2,25 persen. Namun, sorotan tetap tertuju pada indeks Kospi yang menjadi indeks paling tertekan.
Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan regulasi AI dan kinerja emiten semikonduktor. Meski volatilitas tinggi, valuasi murah dapat menjadi peluang jika kekhawatiran terhadap imbal hasil investasi AI mereda.
Editor: Ahmad Syafwan
