Diplomasi Putin: Janji Bantu Akhiri Perang Timur Tengah hingga Pasokan Solar ke AS
Inforiau – 07 November 2026 | Diplomasi Putin kembali menjadi sorotan dunia. Di sela KTT Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) di Turkmenistan, Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis (8/10/2026). Putin menyatakan Moskow siap melakukan segala upaya untuk membantu mengakhiri perang di Timur Tengah. Pertemuan itu berlangsung setelah Iran dan Amerika Serikat saling mengajukan proposal baru untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Putin menilai Iran telah menunjukkan upaya nyata mengakhiri konflik sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari. Ia juga menyoroti hubungan Rusia-Iran yang semakin erat sejak invasi Ukraina 2022. Ukraina dan negara Barat menuduh Iran memasok drone Shahed dan rudal jarak pendek ke Rusia, sementara Moskow dituduh memberi data intelijen untuk serangan terhadap sasaran AS di Timur Tengah. Sebelumnya, Putin dan Pezeshkian berkomunikasi via telepon pada 7 Oktober.
Di Washington, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan dengan Putin untuk memasok solar ke AS. Melalui media sosial pada Jumat (9/10/2026), Trump menyebut Rusia akan segera mengirim lebih dari 300.000 ton solar, disusul 500.000 ton pada November, 1 juta ton, dan 3 juta ton berikutnya. Kesepakatan ini muncul setelah keduanya berbicara lewat telepon dan berlawanan dengan kebijakan sanksi AS terhadap Moskow. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengkritik langkah itu sebagai keputusan lemah dari mitra yang kuat.
Putin juga membantah tudingan bahwa Rusia berada di balik gelombang demonstrasi besar di Eropa. Dalam wawancara dengan VGTRK yang tayang Minggu (25/10/2026), ia menyebut tuduhan itu berlebihan dan merupakan cara pemimpin Eropa mengalihkan tanggung jawab. Menurut Putin, mereka semula menyalahkan AS, lalu beralih ke Rusia. Ia menilai para pemimpin Eropa tidak mau menganalisis penyebab utama ketidakpuasan masyarakat.
Upaya diplomasi lain terjadi pada Selasa (27/10/2026). Presiden Finlandia Alexander Stubb dan PM Norwegia Jonas Gahr Store berbicara 90 menit dengan Putin mengenai perang Ukraina. Stubb menyebut diperlukan pembicaraan langsung, meski Store mengakui ada perbedaan pandangan besar. Kremlin menyatakan Putin menegaskan kebijakan konfrontatif Uni Eropa dan NATO memperpanjang pertempuran. Ketiga pemimpin sepakat menjaga komunikasi telepon.
Di dalam negeri, Putin memulai masa jabatan presiden enam tahun berikutnya setelah kemenangan pemilu. Kekuasaannya yang dominan membuat perang Ukraina tetap menjadi inti proyek politiknya. Pengamat menilai tidak ada indikasi perubahan kebijakan. Bagi banyak pihak, dinamika ini menunjukkan Putin tetap menjadi aktor sentral, tetapi kebijakan luar negerinya menyimpan risiko besar bagi stabilitas global.
Editor: Apriyanto
