Christos Tzolis Jadi Sorotan, Arsenal Kalahkan Liverpool 1-0 di Anfield
Inforiau – 08 November 2026 | Christos Tzolis menjadi nama yang ramai dibicarakan setelah Arsenal meraih kemenangan penting 1-0 atas Liverpool di Anfield. Pemain sayap asal Yunani itu bukan pencetak gol, tetapi keterlibatannya dalam momen kontroversial dan perannya di lini serang membuat performanya mendapat sorotan.
Arsenal merekrut Christos Tzolis dari Club Brugge dengan nilai 34 juta paun. Ia dikontrak lima tahun dan memakai nomor punggung 17. Kedatangan Tzolis disebut sebagai langkah untuk mempertajam lini depan setelah Leandro Trossard dilepas ke Besiktas. Direktur Olahraga Arsenal, Andrea Berta, menilai Tzolis serba bisa, kuat di ruang sempit, dan memiliki statistik gol serta assist yang impresif selama tiga musim terakhir.
Debut Christos Tzolis berjalan manis. Saat Arsenal mengalahkan Coventry City 3-0, ia menjadi starter dan bermain 76 menit. Catatan menunjukkan tiga umpan kunci, empat tembakan, serta dua tembakan tepat sasaran. Martin Odegaard memuji kelincahan dan kecerdasannya dalam melihat ruang serta menemukan operan tepat.
Di Anfield, Arsenal unggul pada menit ke-16 lewat Kai Havertz setelah memanfaatkan umpan Declan Rice. Pada menit ke-29, Christos Tzolis terlibat insiden dengan Cody Gakpo di kotak penalti. Kedua tangannya menyentuh paha Gakpo hingga penyerang Liverpool itu jatuh. Wasit Andy Madley tidak memberi penalti, dan VAR mendukung keputusan tersebut. Analis menilai tindakan Tzolis naif dan ceroboh, tetapi tidak cukup untuk menghukum Liverpool dengan penalti karena Gakpo dinilai tak akan menjangkau bola.
Pada menit ke-67, Tzolis kembali menunjukkan kualitasnya. Ia menguasai bola di sisi kiri dan mengirim umpan ke tengah, tetapi penyelesaian Odegaard masih bisa dihalau Jeremy Jacquet. Arsenal bertahan hingga akhir dan naik ke puncak klasemen.
Secara keseluruhan, Christos Tzolis memperlihatkan potensi besar sebagai rekrutan anyar Arsenal. Debut gemilangnya menjadi modal, tetapi insiden di Anfield menjadi pengingat bahwa ketenangan dan pengambilan keputusan di area sensitif perlu terus diasah.
Editor: Apriyanto
