Tragedi Karhutla Bromo: Korban Meninggal Karhutla Bertambah, Total Enam Nyawa Melayang
Inforiau – 23 Oktober 2026 | Duka mendalam menyelimuti keluarga besar penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Jumlah korban meninggal karhutla terus bertambah setelah satu korban luka berat yang dirawat intensif di RSUD dr. Soetomo Surabaya menghembuskan napas terakhirnya. Dengan demikian, total korban meninggal karhutla di Bromo kini mencapai enam orang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Soebroto, membenarkan kabar duka tersebut. “Benar (meninggal dunia). Kami atas nama Pemprov Jatim menyampaikan duka mendalam,” ujarnya saat dikonfirmasi di Surabaya, Jumat (23/10/2026). Korban terakhir yang meninggal adalah Suraji, seorang karyawan Artotel Bromo yang turut membantu proses pemadaman api saat kebakaran melanda kawasan tersebut.
Suraji sempat menjalani perawatan lebih dari sepekan di RSUD dr. Soetomo. Sebelumnya, ia bersama Munawi, anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP), dirawat intensif akibat luka bakar serius. Namun, nyawa keduanya tak tertolong. Munawi meninggal dunia pada Senin (19/10/2026) sekitar pukul 15.00 WIB setelah kondisi kritis dengan luka bakar mencapai 51 persen. Sementara Suraji menghembuskan napas terakhir beberapa hari kemudian.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan kedua korban. Ia memastikan RSUD dr. Soetomo telah memberikan pelayanan maksimal. “Ibu Gubernur sudah bilang tangani semaksimal mungkin, nggak usah ngomong administrasi apa sama sekali. Tapi memang kondisinya kritis,” jelas Emil. “RSUD Soetomo semaksimal mungkin sudah memberikan daya upayanya untuk menyembuhkan. Kita mendoakan karena yang bersangkutan ini gugur dalam menjalankan tugas melindungi warga dari potensi meluasnya kebakaran hutan,” tambahnya.
Insiden bermula pada Kamis (15/10/2026) ketika titik api terdeteksi di Bukit Kembang Puncak Sari dan Pusung Lingker, wilayah Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Hembusan angin kencang tiba-tiba mengubah arah dan memperbesar kobaran api. Kepulan asap pekat mengepung lokasi, membuat tim gabungan terjebak di medan terjal. Enam orang dilaporkan terjebak, dan seluruhnya meninggal dunia. Sebelum Munawi dan Suraji, empat korban lainnya telah lebih dulu meninggal, termasuk petugas resmi Balai Besar TNBTS.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memastikan bahwa korban meninggal karhutla berhak mendapatkan bantuan, termasuk tali asih. Namun, hingga kini data penerima bantuan belum disetor ke Kementerian Sosial. “Jadi dia tetap dapat bantuan sama dengan korban bencana alam, atau korban bencana sosial. Semuanya dapat dukungan, bantuan yang sama,” kata Gus Ipul dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (23/10/2026). Ia menjelaskan bahwa bantuan akan diberikan kepada korban maupun keluarganya, serta untuk perbaikan rumah yang terdampak.
Karhutla tidak hanya menelan korban jiwa manusia, tetapi juga mengancam satwa liar. Di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, petugas menemukan seekor ular sanca darah mati terpanggang. Ular yang sering ditemukan menjadi korban karhutla meliputi sanca kembang, sanca borneo, dan kobra raja. Kebakaran telah merusak habitat asli mereka, menambah panjang daftar korban meninggal karhutla dari dunia fauna.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang masih melakukan investigasi terkait penyebab pasti kebakaran dan melakukan upaya pemulihan di kawasan TNBTS. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.
Dengan bertambahnya korban meninggal karhutla menjadi enam orang, tragedi ini menjadi pengingat akan besarnya risiko yang dihadapi para relawan dan petugas dalam melindungi kawasan konservasi. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyatakan komitmennya untuk terus membantu keluarga korban dan meningkatkan koordinasi dalam penanggulangan bencana serupa di masa depan.
