Danantara Borong Saham BUMN di Tengah IHSG Tertekan, Lima Emiten Ini Jadi Incaran
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Aksi pembelian saham oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi angin segar bagi pasar modal Indonesia. Langkah sovereign wealth fund tersebut dalam mengakumulasi saham BUMN Danantara dinilai memberikan sentimen positif di tengah upaya bursa pulih dari tekanan isu MSCI. Setidaknya lima emiten pelat merah menjadi sorotan karena dinilai berpotensi diuntungkan dari masuknya dana institusional ini, yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, menilai kelima saham BUMN Danantara tersebut menarik dicermati karena menawarkan kombinasi dukungan pembelian institusional dan imbal hasil dividen yang tinggi. Menurutnya, masuknya Danantara ke pasar saham menjadi sinyal yang telah dinantikan pelaku pasar sejak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terguncang isu MSCI. Danantara mulai membeli saham BUMN sejak Rabu, 21 Oktober 2026, dan berencana terus menambah kepemilikan sepanjang harga dinilai menarik serta memiliki prospek bisnis yang baik.
Pembelian saham tersebut dilakukan melalui manajer investasi profesional yang dipilih berdasarkan proses uji tuntas, dengan orientasi memperoleh keuntungan investasi. Langkah Danantara pun diikuti penguatan IHSG selama beberapa hari berturut-turut. Pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, IHSG ditutup menguat 59,54 poin atau 1,12 persen ke level 5.387,91. Kinerja tersebut menjadikan IHSG sebagai indeks dengan performa terbaik di antara pasar berkembang Asia Pasifik ketika bursa kawasan justru melemah. Keesokan harinya, Jumat, 23 Oktober 2026, IHSG kembali mengakhiri perdagangan di zona hijau dengan penguatan 0,95 persen ke level 5.439,26.
Dari sisi imbal hasil dividen, Jason memaparkan bahwa berdasarkan harga penutupan perdagangan sebelumnya dan dividen yang dibagikan dalam 12 bulan terakhir, BMRI menawarkan imbal hasil dividen sekitar 14,1 persen, tertinggi di antara lima saham tersebut. Berikutnya, BBRI menawarkan sekitar 11,9 persen dan BBNI sebesar 10,2 persen. Di luar perbankan, TLKM memiliki imbal hasil dividen sekitar 10,1 persen dan PGAS mencapai 9,2 persen. Kombinasi valuasi menarik dan dividen tinggi inilah yang membuat saham BUMN Danantara kian dilirik investor.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengakumulasi sejumlah saham pada Kamis, 22 Oktober, dan beberapa hari sebelumnya. Menurutnya, ketika membeli saham, Danantara melihat peluang dari sisi risk-reward yang saat ini dinilai cukup menarik. Ia menyinggung saham-saham BUMN memiliki fundamental dan prospek pertumbuhan yang baik. Danantara tercatat memiliki 39 saham emiten dalam portofolionya, baik secara langsung melalui PT Danantara Asset Management maupun melalui anak perusahaan yang digenggam. Seluruh perusahaan dalam portofolio tersebut merupakan emiten pelat merah, mulai dari bank jumbo hingga saham tambang di bawah holding MIND ID, serta anak-anak usaha Pertamina.
Meski demikian, riset Pilarmas Investindo Sekuritas menekankan bahwa dampak investasi tersebut tetap bergantung pada realisasi penempatan dana dan perbaikan fundamental perusahaan. Konsistensi pembelian saham dapat menjadi sentimen positif bagi pasar, tetapi keberadaan Danantara sebagai calon sumber permintaan saham BUMN tidak otomatis menjamin harga saham terus meningkat. Selain itu, perlu dibedakan antara pembelian saham di pasar dan buyback, karena buyback secara umum merujuk pada pembelian kembali saham oleh perusahaan penerbitnya sendiri.
Pengamat pasar modal, Nefo Handojo, menilai kondisi fundamental perusahaan di Bursa Efek Indonesia, termasuk emiten BUMN, masih menjadi salah satu penopang daya tarik pasar saham Indonesia. Menurutnya, koreksi harga saham saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental perusahaan. Ia menilai valuasi saham di pasar, termasuk saham BUMN Danantara, relatif murah dibandingkan kondisi sebelumnya. Nefo juga menyoroti ketidakpastian terkait keputusan MSCI yang masih menjadi salah satu faktor tekanan terhadap pasar saham, dan berharap regulator dapat melakukan perbaikan untuk menjawab berbagai perhatian yang disampaikan MSCI.
Secara keseluruhan, langkah Danantara membeli saham BUMN di tengah tekanan pasar menjadi sinyal bahwa valuasi emiten pelat merah dinilai atraktif. Lima saham BUMN Danantara yang menjadi sorotan menawarkan daya tarik dari sisi dividen dan fundamental yang kuat. Namun, investor tetap perlu mencermati realisasi penempatan dana, kinerja keuangan, serta kondisi pasar secara keseluruhan. Aksi Danantara bukan jaminan harga saham akan terus naik, sehingga keputusan investasi tetap harus didasarkan pada analisis yang matang dan pemahaman terhadap risiko yang ada.
