Makan Nasi Bungkus Berbau, Puluhan Santri Ponpes Nazilah Darussalam Terkapar Usai Peringatan HSN
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Kasus keracunan santri Ponpes Nazilah kembali mencuat setelah puluhan penghuni pondok pesantren di Desa Sampali, Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, mendadak tumbang usai menyantap hidangan pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026. Sebanyak 32 santri dan pengurus dilaporkan mengalami mual, muntah, mules hebat, hingga demam, dan harus dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapat perawatan intensif.
Peristiwa yang menjadi sorotan publik ini bermula pada Kamis, 22 Oktober 2026, ketika rombongan pondok pesantren menghadiri puncak peringatan HSN tingkat Sumatera Utara di Alun-alun Kabupaten Deli Serdang. Usai kegiatan, panitia membagikan makan siang berupa nasi kotak dan nasi bungkus dengan aneka lauk. Namun, salah satu paket makanan yang diterima rombongan pondok diduga telah tidak layak konsumsi.
Lauk Ikan Nila Diduga Sudah Berlendir dan Berbau
Pimpinan Pesantren Nazilah Darussalam, M Dahrul Yusuf, mengungkapkan bahwa santrinya kebetulan menerima nasi bungkus dengan lauk ikan nila yang kondisinya sudah tidak normal. Menurutnya, panitia menyediakan empat jenis paket makanan, dan salah satunya berupa nasi bungkus berisi ikan nila yang telah berlendir serta mengeluarkan bau tidak sedap.
“Selesai acara dapat makan siang, makanan itu ada empat jenis. Nasi kotak lauk daging, nasi bungkus lauk ayam, nasi bungkus lauk ikan nila yang masih bagus, dan nasi bungkus yang lauknya ikan nila sudah berlendir dan bau. Kita kebetulan dapat yang nomor empat,” jelas Dahrul saat dihubungi, Jumat, 23 Oktober 2026.
Gejala mulai muncul pada sore hingga malam hari. Dahrul mengaku pertama kali mendengar keluhan mules dari warga di luar lingkungan pondok saat magrib. Namun, ia belum terlalu memfokuskan perhatian karena menganggapnya sebagai gangguan pencernaan biasa. Baru sekitar pukul 22.00 WIB, keluhan serupa kembali berdatangan, dan jumlahnya terus bertambah pada siang berikutnya.
Puncaknya terjadi menjelang subuh. Saat hendak menunaikan salat Subuh, Dahrul menyadari masjid pondok sepi karena tak seorang pun santri hadir. Setelah kamar-kamar diperiksa, puluhan santri dan pengurus ternyata sudah terkapar lemas di tempat tidur. Kondisi itulah yang membuat pihak pondok segera mengevakuasi mereka ke klinik terdekat.
32 Orang Dirawat di Tiga Fasilitas Kesehatan
Hingga Jumat siang, tercatat 32 santri dan pengurus menjalani perawatan di tiga lokasi berbeda, yakni Klinik Sufi Sehat, Klinik Joko, dan Rumah Sakit Madani. Sebagian korban dilaporkan sudah mulai membaik dan tidak lagi memerlukan infus, sementara sisanya masih menjalani observasi medis.
“Mereka buang-buang air terus. Sekarang sudah dibawa ke Klinik Sufi Sehat semua. Ada juga yang sudah mulai membaik dan tidak diinfus,” ujar Dahrul. Ia menambahkan, selain yang dirawat, masih ada sejumlah santri yang tetap tinggal di pondok karena kondisinya dinilai tidak memerlukan opname.
Dari penelusuran di lapangan, dugaan keracunan santri Ponpes Nazilah ini ternyata tidak berdiri sendiri. Dahrul mengaku sempat menghubungi pengurus pesantren lain yang turut diundang dalam acara HSN tersebut. Hasilnya, ia menerima informasi bahwa sedikitnya empat pondok pesantren lain juga melaporkan santrinya mengalami gejala serupa, bahkan mengirimkan rekaman video santri yang sedang dirawat.
“Ada empat pesantren lain yang mengalami keracunan, mereka mengirim video santri dirawat,” tuturnya. Ia pun berharap pemerintah daerah dan panitia penyelenggara HSN segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyediaan konsumsi dalam kegiatan berskala besar, agar kejadian keracunan santri Ponpes Nazilah tidak terulang di kemudian hari.
Pemkab Deli Serdang Turun Tangan
Menanggapi insiden ini, jajaran Pemerintah Kabupaten Deli Serdang bersama pengurus pondok tampak mendatangi lokasi perawatan untuk meninjau langsung kondisi para korban. Pihak penyelenggara disebut telah menerima laporan terkait dugaan makanan tidak layak yang dibagikan dalam acara tersebut, termasuk paket yang berasal dari Bagian Kesra Setda Deli Serdang.
Sejumlah pihak mendesak agar sampel makanan segera diuji di laboratorium untuk memastikan penyebab pasti keracunan. Pemeriksaan juga diharapkan menyasar proses pengemasan, penyimpanan, hingga distribusi makanan yang diduga sudah melewati batas waktu layak konsumsi.
Kesimpulan
Insiden keracunan santri Ponpes Nazilah menjadi pengingat pentingnya standar keamanan pangan dalam setiap kegiatan berskala besar, terlebih yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai daerah. Dugaan adanya lauk ikan nila yang telah berlendir dan berbau seharusnya menjadi alarm bagi panitia maupun penyedia konsumsi untuk lebih teliti dalam melakukan kontrol kualitas. Penanganan medis yang cepat telah menyelamatkan banyak korban, namun evaluasi menyeluruh dan uji laboratorium tetap diperlukan agar penyebab pasti dapat diketahui dan kejadian serupa tidak kembali menimpa para santri di kemudian hari.
