Trump Iran Memanas: Ancaman 'Epic Fury' Baru dan Kubu Cuba Jadi Sorotan Global
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman serangan militer baru, sekaligus mengejutkan dunia dengan pernyataan bahwa pemerintahannya akan “mengurus Cuba” setelah konflik dengan Iran usai. Dinamika Trump Iran yang kian panas ini disampaikan Trump dalam pidato kampanye Partai Republik di Florida, Jumat waktu setempat, yang langsung memicu reaksi keras dari Teheran.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat bisa melancarkan putaran serangan baru yang ia sebut sebagai “Epic Fury kecil” apabila Teheran gagal mencapai kesepakatan dengan Washington. “Kita mungkin melakukan Epic Fury kecil lagi, atau mereka akan setuju. Kalau mereka pintar, mereka akan berkata, mari kita mulai berbisnis,” ujar Trump di hadapan pendukungnya.
Ia juga menegaskan bahwa konflik tersebut akan berakhir dengan satu dari dua cara. “Saya melihat ini akan berakhir dengan satu atau lain cara, melalui kesepakatan atau tidak,” katanya kepada media lokal Florida. Namun, Trump tidak merinci syarat apa yang harus dipenuhi Teheran untuk menghindari aksi militer.
Bayang-Bayang Operasi Epic Fury
Ancaman tersebut membangkitkan kembali ingatan dunia terhadap Operasi Epic Fury yang dilancarkan pada 28 Februari 2026. Operasi bersama Amerika Serikat dan Israel itu berlangsung selama 38 hari, menargetkan lebih dari 13.000 sasaran, dan melibatkan lebih dari 10.200 sorti udara.
Menurut keterangan Gedung Putih, tujuan operasi tersebut adalah menghancurkan kapabilitas rudal balistik dan drone Iran, angkatan lautnya, serta basis industri pertahanannya. Serangan itu diklaim telah melumpuhkan struktur komando dan kendali Iran melalui lebih dari 2.000 serangan, yang memicu kekosongan kepemimpinan dan desersi militer. Sejumlah pemimpin Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam operasi tersebut.
Pernyataan Trump itu menyusul komentar Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, yang menyebut aksi militer bisa terjadi dalam hitungan hari. “Bisakah ada serangan akhir pekan ini? Tentu saja. Presiden Trump sangat jelas. Dia terbuka dan tersedia untuk sebuah kesepakatan, dan kami sudah berada di meja perundingan selama berbulan-bulan,” ujar Barrack dalam sebuah podcast.
Teheran Peringatkan Garis Merah
Menanggapi ancaman tersebut, Iran tidak tinggal diam. Seorang pejabat Iran memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat dan Israel kembali menyerang, tidak akan ada lagi garis merah. “Jika Iran diserang, tidak akan ada lagi garis merah… dari kabel bawah laut hingga pangkalan militer, termasuk yang rahasia. AS seharusnya tidak bermain api,” tegas pejabat tersebut.
Isu Trump Iran juga diwarnai aksi propaganda di jalanan Teheran. Sebuah instalasi seni di Tajrish Square menampilkan aktor yang memerankan Trump berada di dalam sel penjara tiruan berukuran manusia. Layar elektronik di belakang kandang menampilkan gambar-gambar terkait serangan mematikan pada sebuah pernikahan di Kuhestak, Kabupaten Sirik, Provinsi Hormozgan.
Instalasi tersebut membawa slogan berbahasa Inggris, “It is a crime not to see this scene”, dan diluncurkan oleh Organisasi Penataan Kota Teheran sebagai bagian dari kampanye 15 hari. Sebelumnya, Teheran juga pernah menampilkan instalasi Trump terbaring di dalam peti mati. Langkah ini menjadi bentuk protes publik Iran terhadap kebijakan Washington.
Iran Siapkan ‘Father of All Bombs’
Di sisi lain, laporan menyebutkan Iran tengah menyiapkan senjata yang dijuluki “Father of All Bombs” di tengah meningkatnya ancaman Trump. Persiapan ini menjadi sinyal bahwa Teheran tidak berniat mundur dari konfrontasi, meski tekanan militer dan diplomatik terus meningkat.
Ketegangan hari ini pada dasarnya didorong oleh tuntutan Washington agar Iran menghentikan upaya pengembangan senjata nuklir. Namun, Iran membantah memiliki rencana semacam itu dan justru menyerukan penghentian total kampanye militer terhadap Iran serta sekutu-sekutunya di semua front.
Setelah Iran, Giliran Cuba
Yang tak kalah mengejutkan, Trump menyatakan bahwa pemerintahannya akan “mengurus Cuba” setelah perang di Iran. Ia bahkan menyebut akan segera mengirim Menteri Luar Negeri Marco Rubio untuk menutup sebuah kesepakatan. Pernyataan ini sontak membuat Havana memprediksi skenario yang “tidak ramah” bagi negaranya.
Kombinasi ancaman militer terhadap Iran dan rencana intervensi terhadap Cuba menunjukkan arah kebijakan luar negeri Washington yang semakin agresif. Bagi banyak pengamat, pernyataan Trump Iran dan Cuba ini menjadi sinyal bahwa Gedung Putih ingin menegaskan dominasi Amerika Serikat di dua kawasan sekaligus, Timur Tengah dan Karibia.
Dengan negosiasi yang belum menemukan titik terang, ancaman serangan akhir pekan, serta propaganda jalanan di Teheran, dinamika Trump Iran akan terus menjadi perhatian utama dunia. Apakah kesepakatan bisa dicapai atau justru terjadi babak baru Operasi Epic Fury, semua bergantung pada arah pembicaraan dalam beberapa hari ke depan.
