Trump Buka Peluang Serangan Baru ke Iran, Teheran Ancam Sasar Kabel Bawah Laut
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka membuka peluang untuk melancarkan operasi militer baru terhadap Iran, sementara Teheran merespons dengan ancaman menyerang kabel komunikasi bawah laut. Situasi ini menegaskan bahwa Trump buka peluang serangan baru ke Iran, Teheran ancam sasar kabel bawah laut [titlebase], menjadi salah satu perkembangan paling sensitif dalam konflik yang telah berlangsung hampir delapan bulan sejak Februari lalu.
Dalam sebuah kampanye di Florida, Jumat (23/10), Trump menyebut kemungkinan AS kembali melakukan operasi militer yang ia sebut sebagai “little Epic Fury”. Ia tidak merinci bentuk maupun waktu operasi tersebut. Militer AS sebelumnya menggunakan nama “Operation Epic Fury” untuk operasi perang terhadap Iran. Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa AS sebenarnya dapat mengakhiri perang dengan Iran dalam waktu singkat.
“Kita bisa mengakhirinya dengan sangat cepat. Apakah kita ingin mengakhirinya atau hanya membiarkannya mereda?” kata Trump sebelum bertolak ke Florida. Ia juga menegaskan aliran minyak masih berlangsung melalui Selat Hormuz dan menyatakan, “Kami mendapatkan semua yang kami inginkan.” Sikap Trump terhadap perang Iran dalam beberapa waktu terakhir terkesan berubah-ubah, baik terkait tujuan maupun batas waktu konflik. Awal bulan ini, ia bahkan menyatakan AS tidak akan melancarkan serangan sebelum pemilihan umum sela yang menentukan peta penguasaan Kongres.
Pernyataan terbaru Trump memperkuat narasi bahwa Trump buka peluang serangan baru ke Iran, Teheran ancam sasar kabel bawah laut [titlebase], di tengah persiapan militer yang dilaporkan semakin matang. Utusan Khusus Trump sekaligus Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, dalam sebuah podcast pada Jumat (23/10) menyatakan AS bisa saja menyerang Iran pada akhir pekan ini, meski ia menegaskan Trump tetap mengutamakan negosiasi. “Ya, tentu saja. Sikap Trump sudah sangat jelas. Dia terbuka, siap, dan mudah diakses untuk kesepakatan dan kami telah duduk di meja perundingan selama berbulan-bulan,” kata Barrack.
Barrack juga menyoroti dorongan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang disebut ingin menggulingkan rezim Iran yang kini dipimpin Mojtaba Ali Khamenei. Namun menurut Barrack, Trump tidak tertarik pada ide tersebut karena tujuan utama Washington hanya mendesak Iran menghentikan program pengembangan senjata nuklir. Trump sendiri membantah mengetahui rencana serangan akhir pekan ini, tetapi memuji Barrack sebagai tokoh politik yang berpengaruh.
Laporan The New York Times menyebut AS dan Israel tengah mematangkan rencana operasi militer singkat namun intensif setelah pemilihan umum paruh waktu November. Militer kedua negara meningkatkan latihan, termasuk penerbangan di atas wilayah Irak untuk melatih manuver serangan. Target potensial mencakup fasilitas nuklir, persenjataan rudal dan drone, serta infrastruktur energi Iran. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dilaporkan bertemu Netanyahu di Israel untuk membahas kemungkinan serangan lanjutan, termasuk terhadap fasilitas bawah tanah Pickaxe Mountain yang dikaitkan dengan program nuklir Iran.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengklaim tengah menyiapkan senjata baru yang dijuluki “bapak dari segala bom”. Juru bicara IRGC, Hossein Mohebi, menyatakan persediaan rudal Iran meningkat 1,5 kali lipat setelah perang 12 hari melawan Israel pada Juni 2025, dengan jangkauan, daya hancur, dan akurasi yang semakin berkembang. Iran juga disebut mengubah doktrin pertahanannya menuju kemampuan pencegahan yang lebih kuat serta strategi perang asimetris.
Yang paling mengkhawatirkan, dua pejabat keamanan senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah menyusun rencana menargetkan kabel bawah laut yang menghubungkan jaringan komunikasi di kawasan Teluk apabila AS dan Israel kembali menyerang. Kedua pejabat tidak merinci lokasi maupun metode serangan. Ancaman ini menambah dimensi baru pada eskalasi, mengingat kabel bawah laut merupakan tulang punggung komunikasi dan transaksi keuangan global.
Perang AS-Iran yang pecah pada 28 Februari telah menimbulkan korban dan dampak kemanusiaan besar. Serangan AS dan Israel terhadap Iran serta serangan Israel ke Lebanon menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan lainnya mengungsi. Upaya diplomatik juga menemui jalan buntu. Nota kesepahaman yang ditandatangani AS dan Iran pada Juni setelah mediasi Pakistan dan Qatar dilaporkan macet akibat perselisihan mengenai navigasi dan keamanan di Selat Hormuz.
Dengan dinamika yang terus berkembang, situasi ini menunjukkan bahwa Trump buka peluang serangan baru ke Iran, Teheran ancam sasar kabel bawah laut [titlebase], menjadi peringatan serius bagi stabilitas keamanan dan ekonomi global. Kombinasi ancaman militer terbuka, persiapan operasi rahasia, dan ancaman terhadap infrastruktur kabel bawah laut menciptakan risiko eskalasi yang sulit diprediksi. Masyarakat internasional pun dituntut mendorong jalur diplomasi agar konflik tidak meluas dan mengganggu jalur energi serta komunikasi dunia.
