Kalimantan Membara: Jeritan Paru-Paru di Tengah Kabut Asap Empat Bulan
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Kepulan asap yang tak kunjung sirna di langit Kalimantan kembali menyita perhatian nasional. Karhutla yang telah berlangsung hingga empat bulan lamanya masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda, memaksa warga menghirup udara beracun setiap hari sementara pemerintah terus mengerahkan segala daya untuk memadamkan titik api yang terus bermunculan.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat karhutla di tiga provinsi di Kalimantan—Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat—telah mencapai 18.973 hektare. Angka ini jauh melampaui luasan kebakaran di tiga provinsi Sumatra yang tercatat 2.431 hektare, dengan Sumatra Selatan menjadi wilayah terbesar di sana sebesar 2.050 hektare.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa kondisi karhutla di Kalimantan menjadi salah satu perhatian utama pemerintah. Kalimantan Tengah tercatat sebagai provinsi dengan jumlah titik panas tertinggi di antara enam provinsi prioritas, menjadikannya episentrum bencana tahunan ini.
Kepulan Asap dan Sesak yang Tak Berkesudahan
Keprihatinan publik mencuat setelah content creator Erika Richardo membagikan pengalamannya saat mendarat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Melalui unggahannya, ia mengaku langsung sesak menghirup udara setempat dan mempertanyakan bagaimana warga bertahan selama berbulan-bulan.
“Baru sampai sudah sesak banget hirup udara di sini. Gimana mereka yang sudah hidup begini ya selama empat bulan? Dan tetap disuruh untuk menyesuaikan,” tulisnya, dikutip dari unggahan di platform Threads.
Ungkapan itu memicu gelombang simpati sekaligus amarah warganet. Banyak yang mengeluhkan minimnya penanganan konkret serta lambatnya penetapan hukum terhadap dalang pembakaran lahan. Kualitas udara di Kalimantan Tengah berada dalam kategori tidak sehat hingga berbahaya, mengancam kesehatan pernapasan warga, terutama anak-anak dan lansia.
Relawan dan Artis Turun ke Garis Depan
Di tengah keputusasaan, solidaritas justru tumbuh. Artis Ratna Galih baru saja tiba di Indonesia sepulang menghadiri wisuda anaknya di Madinah, langsung terbang ke Kalimantan Selatan dan melanjutkan perjalanan ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah, untuk menjadi relawan pemadaman api.
Ia dan para relawan lain berjuang memadamkan api di tengah suasana gelap, saat orang lain terlelap tidur, demi memastikan kobaran api tidak menjalar ke permukiman warga. Semangat itu menjadi oase di tengah kondisi yang memprihatinkan.
Strategi Pemerintah: Dari Water Bombing hingga Dry Ice
Pemerintah tidak tinggal diam. BNPB mengerahkan 38.772 personel dan 35 armada untuk penanganan di Kalimantan. Bahkan, dua armada yang semula beroperasi di Kalimantan dikirim ke Jawa Timur untuk menangani karhutla di kawasan Arjuno-Welirang, Argopuro, Gunung Saeang, Bromo, serta TPA Supit Urang di Kota Malang.
“Kepala BNPB menambah satu helikopter water bombing dari Kalimantan Selatan ke Malang dan satu pesawat OMC dari Kalimantan Barat,” ujar Berton.
Selain water bombing, pemerintah menguji metode modifikasi cuaca menggunakan dry ice atau es kering untuk mengurai kabut asap di atmosfer. Metode ini menyasar lapisan inversi yang menahan asap dekat permukaan bumi, dengan harapan memperbaiki jarak pandang dan menurunkan polutan berbahaya.
| Wilayah | Luas Karhutla | Keterangan |
|---|---|---|
| Tiga Provinsi Kalimantan | 18.973 ha | Kalteng, Kalsel, Kalbar |
| Tiga Provinsi Sumatra | 2.431 ha | Sumsel terbesar (2.050 ha) |
| Total Nasional (per 22 Oktober) | 22.595,70 ha | Masih dalam penanganan |
Penegakan Hukum dan Pencegahan
Kepala BNPB mengarahkan agar penanganan memadukan teknologi seperti OMC dengan kearifan lokal dan upaya spiritual, termasuk Salat Istisqa. Pemerintah daerah diminta memperkuat sosialisasi dan mengimbau masyarakat menghentikan pembakaran lahan.
Penegakan hukum pun terus berjalan. Sebanyak 13 korporasi dan 243 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus karhutla, sebuah sinyal bahwa negara serius menindak dalang pembakaran lahan.
Meski intervensi di atmosfer terus dilakukan, pemadaman karhutla hingga tuntas dan pencegahan pembakaran lahan tetap menjadi kunci utama. Tanpa itu, langit kelabu di atas Kalimantan akan terus menjadi jeritan paru-paru yang terlupakan.
Bencana ini bukan sekadar soal api dan asap, melainkan cermin keseriusan negara dalam menjaga lingkungan dan kesehatan warganya. Selama penanganan masih bersifat reaktif dan pencegahan belum menjadi prioritas, Kalimantan akan terus menjadi wilayah yang paling rentan terhadap amukan karhutla setiap tahunnya.
