Inforiau – 24 Oktober 2026 | Industri perfilman Indonesia kembali dihebohkan dengan kehadiran film horor lokal berjudul Pirunduk. Film yang mengangkat cerita rakyat Kalimantan Selatan ini mencatat jumlah penonton hari pertama film Pirunduk, selisih ribuan dari Saranjana kota ghaib dan Kuyank. Berdasarkan data sementara dari bioskop-bioskop di seluruh Indonesia, Pirunduk berhasil menarik perhatian penonton dengan capaian yang signifikan, meskipun masih berada di bawah dua film horor pendahulunya. Perbedaan jumlah penonton hari pertama film Pirunduk, selisih ribuan dari Saranjana kota ghaib dan Kuyank ini menjadi sorotan tersendiri di kalangan pengamat film nasional.
Film Pirunduk sendiri merupakan karya anak Banua yang digarap dengan melibatkan mayoritas pemain dan kru lokal. Penulis skenario sekaligus produser Bimasakti Pictures, Budi Ismanto, mengungkapkan kebanggaannya terhadap film ini. “Film Pirunduk ini adalah sebuah film yang menurut saya kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan. Ceritanya mengangkat kisah urban legend di Tanah Banjar. Kemudian hampir 95 persen pemainnya adalah asli orang Banjar, kru-nya 60 persen asli orang Banjar, dan lokasi syutingnya semuanya di Tanah Banjar. Jadi ini benar-benar film orang Banua,” ujar Budi dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).
Meski demikian, capaian jumlah penonton hari pertama film Pirunduk, selisih ribuan dari Saranjana kota ghaib dan Kuyank menunjukkan bahwa film ini masih kalah bersaing dengan dua film horor sebelumnya. Saranjana Kota Ghaib dan Kuyank diketahui telah lebih dulu mencuri perhatian penonton dengan angka yang lebih tinggi. Selisih ribuan penonton ini menjadi catatan penting bagi tim produksi untuk terus meningkatkan promosi dan distribusi.
Film Pirunduk disutradarai oleh Billy Christian dan mengisahkan Siti (Aulia Sarah), seorang perempuan yang menikahi juragan Badarudin (Bucek Depp) demi melunasi utang ayahnya. Namun, pernikahan tersebut justru membuat Siti terjebak dalam rumah tangga penuh kekerasan. Dalam kondisi terdesak, ia memilih mempelajari ilmu hitam Pirunduk untuk menundukkan suaminya. Cerita yang kuat dan akar budaya lokal menjadi daya tarik tersendiri bagi film ini.
Pada gala premier di Jakarta (15/10) lalu, film tersebut mendapat respons positif dari pencinta film Indonesia, termasuk masyarakat Kalimantan Selatan. “Respon para pencinta film Indonesia sangat positif. Kami juga sangat bersyukur respons masyarakat Banjarmasin khususnya, Kalimantan Selatan pada umumnya, sangat positif terhadap film Pirunduk yang hari ini kami menggelar gala premiere,” kata Budi. Antusiasme ini diharapkan dapat mendorong peningkatan jumlah penonton di hari-hari berikutnya.
Perbandingan jumlah penonton hari pertama film Pirunduk, selisih ribuan dari Saranjana kota ghaib dan Kuyank juga menjadi bahan diskusi di media sosial. Banyak warganet yang tetap memberikan dukungan moral kepada film karya anak daerah ini. Mereka berharap Pirunduk dapat terus berkembang dan mengejar ketertinggalan. Dukungan masyarakat Kalsel dinilai sangat penting untuk memajukan industri kreatif daerah.
Sebagai informasi, berikut adalah perbandingan perolehan penonton hari pertama ketiga film tersebut:
| Judul Film | Jumlah Penonton Hari Pertama |
|---|---|
| Saranjana Kota Ghaib | XX.XXX |
| Kuyank | XX.XXX |
| Pirunduk | XX.XXX |
Meskipun angka pastinya belum dapat dipastikan, selisih ribuan penonton menjadi indikator bahwa Pirunduk masih memiliki peluang untuk mengejar. Tim produksi terus melakukan berbagai upaya promosi, termasuk menggelar acara nonton bareng dan bekerja sama dengan komunitas film lokal.
Film Pirunduk tidak hanya sekadar tontonan horor, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan budaya Banjar ke kancah nasional. Dengan 95 persen pemain dan 60 persen kru asli Banjar, serta seluruh lokasi syuting di Tanah Banjar, film ini menjadi bukti nyata bahwa karya lokal mampu bersaing. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, diharapkan dapat terus mengalir.
Ke depan, jumlah penonton hari pertama film Pirunduk, selisih ribuan dari Saranjana kota ghaib dan Kuyank bukanlah akhir dari segalanya. Masih ada waktu bagi film ini untuk meraup penonton lebih banyak. Strategi promosi yang tepat dan word of mouth positif dari penonton yang sudah menonton diharapkan dapat meningkatkan jumlah penonton di hari-hari berikutnya.
Sebagai kesimpulan, film Pirunduk telah menorehkan sejarah sebagai film horor lokal pertama yang melibatkan hampir seluruh elemen masyarakat Banjar. Meskipun jumlah penonton hari pertama film Pirunduk, selisih ribuan dari Saranjana kota ghaib dan Kuyank, hal ini tidak menyurutkan semangat para pembuat film. Dukungan penonton menjadi kunci utama untuk memajukan industri perfilman daerah dan nasional. Mari kita saksikan Pirunduk di bioskop kesayangan Anda.
