Profesor Cambridge Pertahankan Mahkota Dunia Tiddlywinks, Duel Tujuh Jam di Pub Bersejarah
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Dunia olahraga Inggris kembali diwarnai kisah menarik dari cabang yang mungkin jarang terdengar, namun memiliki tradisi panjang. Di tengah hiruk-pikuk persaingan english championship yang biasa dipenuhi sorotan sepak bola, sebuah pertarungan sengit justru terjadi di atas meja sebuah pub di Cambridge. Profesor Patrick Barrie, seorang akademisi berusia 61 tahun, sukses mempertahankan gelar juara dunia tiddlywinks setelah menjalani laga dramatis selama tujuh jam melawan penantang dari Amerika Serikat.
Pria yang sehari-hari mengajar di Department of Chemical Engineering and Biotechnology, University of Cambridge, itu menaklukkan Dave Lockwood, veteran tiddlywinks asal Washington DC yang dikenal dengan julukan “the Dragon”. Pertandingan final World Singles Tiddlywinks Championships digelar pada Kamis (22/10) di Castle Inn, sebuah pub di jantung kota Cambridge, dengan skor akhir 26-23.
Menariknya, format kejuaraan ini memang menyerupai duel tinju kelas dunia. Hanya juara nasional tunggal yang berhak menantang sang pemegang gelar. “Anda punya seorang juara dan hanya pemenang tunggal nasional yang bisa menantang Anda,” ujar Prof Barrie, menjelaskan sistem challenger yang berlaku. Sistem ini menjadikan setiap pertandingan puncak sebagai ajang pembuktian reputasi, bukan sekadar turnamen terbuka biasa.
Dalam wawancara usai laga, Prof Barrie mengaku merasakan campuran emosi yang rumit antara euforia dan kelegaan. “Ini campuran aneh antara kegembiraan dan rasa lega. Saya sangat senang. Pertandingannya panjang, berlangsung tujuh jam. Ketat dan penuh perjuangan,” katanya. Ia menambahkan bahwa status favorit justru menimbulkan tekanan tersendiri, karena publik mengharapkan kemenangan darinya.
Bagi Prof Barrie, Lockwood bukan lawan sembarangan. Keduanya telah saling mengenal lama dan memiliki rivalitas sehat. “Saya tahu Dave, saya sudah mengenalnya lama, dan dia lawan yang tangguh di hari terbaiknya. Saya harus berusaha sekuat tenaga memastikan hari itu bukan hari terbaiknya,” ujarnya. Ia pun mengaku senang bisa kembali membawa pulang trofi kebanggaan tersebut.
Meski terkesan permainan sederhana, tiddlywinks ternyata menuntut kombinasi keterampilan fisik dan pemikiran intelektual. Pemain harus menekan satu keping plastik kecil terhadap keping lain agar melompat ke udara dan masuk ke dalam cangkir. “Ini campuran yang bagus antara keterampilan fisik dan pemikiran intelektual,” jelas Prof Barrie, yang melihat olahraga ini sebagai latihan strategi layaknya catur dengan sentuhan presisi.
Sejarah mencatat, permainan ini sudah ada sejak era Victoria akhir, namun versi modernnya lahir dari pertemuan para mahasiswa Cambridge di Christ’s College pada 1955, sebagaimana dijelaskan English Tiddlywinks Association. Fakta ini menegaskan bahwa tiddlywinks bukan sekadar permainan iseng, melainkan bagian dari warisan budaya kompetitif kampus yang terus dijaga hingga kini.
Prestasi Prof Barrie ini menjadi pengingat bahwa semangat kompetisi tidak selalu identik dengan sorotan kamera dan stadion megah. Di ruang-ruang sederhana seperti pub, tradisi panjang tetap hidup. Bahkan, dalam konteks yang lebih luas, capaian akademisi Cambridge ini bisa dilihat sebagai cermin bagaimana budaya kompetisi di Inggris—dari lapangan hingga meja pub—terus menjadi bagian dari identitas, sejalan dengan atmosfer english championship yang menuntut konsistensi dan mental juara.
Meski demikian, dunia kompetisi selalu menyimpan cerita berbeda di setiap cabang. Di sisi lain, dinamika olahraga Inggris juga tercermin dari performa tim nasional rugby putri yang tengah menghadapi tekanan. Kekalahan beruntun dari Kanada menunjukkan bahwa mempertahankan posisi puncak tidak pernah mudah, baik di level individu seperti Prof Barrie maupun di level tim.
Kemenangan Prof Barrie menjadi simbol bahwa dedikasi panjang, latihan konsisten, dan penguasaan strategi adalah kunci utama. Dalam banyak diskusi tentang english championship, narasi tentang ketangguhan mental selalu menjadi sorotan utama. Kisah sang profesor memperlihatkan bahwa ketenangan di bawah tekanan adalah faktor penentu, sama seperti yang dibutuhkan klub-klub besar saat bersaing di kompetisi bergengsi.
Bagi publik Cambridge, duel di Castle Inn itu bukan sekadar pertandingan biasa. Ini adalah perayaan tradisi, persahabatan, dan sportivitas. Prof Barrie kini kembali ke rutinitasnya sebagai pengajar, namun mahkota dunianya tetap melekat, menunggu penantang berikutnya yang berani menantang sang juara.
Pada akhirnya, kisah ini menegaskan bahwa gelar juara tidak hanya soal trofi, tetapi tentang konsistensi dan keberanian mempertahankan posisi. Dalam ekosistem kompetisi apa pun, termasuk yang sering dikaitkan dengan english championship, mentalitas juara sejati diuji bukan saat menang, melainkan saat harus mempertahankan gelar di bawah ekspektasi besar.
