Di Tengah Badai MSCI, 74% Emiten RI Tetap Cetak Laba dan Pendapatan Melonjak 15,9 Persen
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Jakarta – Integritas pasar modal Indonesia tengah diuji, namun kinerja fundamental emiten justru menunjukkan ketangguhan yang mencolok. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa di tengah gejolak pasar akibat sentimen penyedia indeks global MSCI, mayoritas perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia masih mampu membukukan kinerja positif dan mencetak laba.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan bahwa pada kuartal II-2026, pendapatan perusahaan tercatat tumbuh 15,9 persen. Dari total 962 emiten yang tercatat di pasar modal Indonesia, sebanyak 74 persen di antaranya berhasil mencatatkan laba bersih.
“Saya ingin menunjukkan kepada Bapak, Ibu semua bahwa fundamental ekonomi dan juga fundamental perusahaan-perusahaan yang tercatat di pasar modal Indonesia adalah sangat kuat,” ujar perempuan yang akrab disapa Kiki itu dalam Sidang Kabinet di Istana Negara Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Reformasi Integritas Sejak Awal 2026
Di tengah kontras antara kinerja emiten yang solid dan tekanan pasar, OJK memperkuat reformasi integritas pasar modal sejak Januari 2026. Langkah ini mencakup peningkatan transparansi, likuiditas, penegakan hukum (enforcement), serta penguatan sinergi antarlembaga.
Salah satu langkah paling mencolok adalah penjatuhan sanksi sebesar Rp1,5 triliun kepada pihak yang melakukan perdagangan terkoordinasi (coordinated trading). Sanksi ini disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia. OJK juga tengah menelusuri dua perusahaan lain yang diduga melakukan praktik manipulasi pasar.
“Ada satu hal yang mungkin menjadi catatan yang kita juga objektif menerima adalah melalui enforcement yang dipandang belum cukup keras. Jumat kemarin, Bapak Presiden, izin kami melaporkan bahwa kami telah melakukan sanksi mungkin terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia,” jelas Kiki.
Tekanan MSCI dan Respons Otoritas
Gejolak pasar saham pada 16 Oktober 2026 tidak lepas dari pengumuman penyedia indeks global MSCI, yang menjadi acuan bagi investor institusi dan manajer investasi dunia dalam menentukan alokasi investasi. Dalam laporan Juni 2026, MSCI telah memberikan catatan mengenai perkembangan pembenahan pasar modal Indonesia dan menyatakan akan mengeluarkan pengumuman konsultasi pada November 2026 apabila perbaikan dinilai belum memadai.
Ancaman penurunan status Indonesia dari emerging market ke standalone ini menjadi perhatian serius, namun OJK menegaskan bahwa tekanan pasar tidak mencerminkan kondisi kinerja emiten yang sebenarnya. Selain MSCI, terdapat penyedia indeks lain seperti FTSE Russell dan Bloomberg Index yang juga memantau perkembangan pasar domestik.
Prospek Cerah Sejumlah Emiten
Di sisi lain, sejumlah emiten justru memiliki prospek pertumbuhan yang menjanjikan. PT Darma Henwa Tbk (DEWA), emiten Grup Bakrie dengan Nirwan Bakrie sebagai pemilik manfaat, diproyeksikan mencetak lonjakan laba bersih 142,6 persen pada 2027 menjadi Rp1,64 triliun dibandingkan estimasi 2026 sebesar Rp676 miliar. Analis BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan saham DEWA berpotensi melonjak hingga hampir 100 persen, ditopang pendapatan yang naik dari Rp7,22 triliun pada 2026 menjadi Rp11,78 triliun pada 2027.
Emiten konglomerat Prajogo Pangestu, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), juga memperluas portofolio melalui anak usahanya PT Redeco Petrolin Utama. Perusahaan meresmikan fasilitas tangki bitumen berkapasitas total 12.000 m³ di Merak, Banten, yang terdiri dari tiga tangki berkapasitas 3.000 m³, 4.000 m³, dan 5.000 m³. Dengan penambahan ini, RPU akan mengoperasikan total 75 tangki penyimpanan untuk berbagai produk.
Sementara itu, PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) akan membagikan dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp338,23 miliar atau Rp75 per saham pada 20 November 2026. Pembagian ini didasarkan pada laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp774,77 miliar per 30 Juni 2026.
Fundamental Kuat di Tengah Ketidakpastian
Kombinasi antara kinerja emiten yang solid, reformasi integritas yang terus berjalan, serta ekspansi bisnis sejumlah perusahaan besar menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia memiliki fondasi yang kokoh. Meski tantangan dari sentimen global masih membayangi, data fundamental menjadi sinyal positif bagi pelaku pasar untuk melihat melampaui gejolak jangka pendek.
Dengan 74 persen emiten membukukan laba dan pertumbuhan pendapatan dua digit, OJK optimistis bahwa pembenahan yang dilakukan akan mampu menjaga kepercayaan investor. Langkah penegakan hukum yang tegas dan transparansi yang semakin baik diharapkan dapat mempertahankan posisi Indonesia di kancah pasar modal global, sekaligus memastikan bahwa tekanan pasar tidak menggerus nilai fundamental perusahaan tercatat yang sesungguhnya masih sangat kuat.
