Konser Andrea Bocelli di Borobudur Terancam Batal, MUI Buka Dialog Lintas Agama
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: antara sikap penolakan dan dialog kebudayaan kembali mencuat ke permukaan. Rencana penampilan tenor dunia asal Italia itu di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada 31 Oktober 2026 masih menyisakan tanda tanya besar. Di satu sisi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas menolak konser tersebut; di sisi lain, sejumlah pihak menilai momentum ini justru bisa dimanfaatkan untuk memperkuat diplomasi budaya Indonesia.
Ketidakpastian semakin menguat setelah kepolisian mencabut izin penyelenggaraan konser. Meski demikian, keputusan akhir mengenai kelanjutan acara belum diumumkan secara resmi. MUI pun membuka ruang dialog dengan berbagai pihak untuk mencari jalan keluar terbaik, tanpa menimbulkan polemik baru di tengah masyarakat.
Alasan MUI Menolak Konser Andrea Bocelli
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, menegaskan bahwa penolakan terhadap konser Andrea Bocelli bukan didasari sentimen keagamaan. Menurutnya, alasan utama adalah persoalan etika, moralitas, dan kemanusiaan universal.
“Kami tolak bukan karena lagunya. Pun bukan karena agama yang dianutnya,” ujar Sudarnoto dalam keterangan di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Ia mengungkapkan bahwa Bocelli memiliki rekam jejak yang dinilai bermasalah, terutama keterlibatannya dalam konser penggalangan dana untuk Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) pada 2010. Selain itu, Bocelli pernah menggelar konser di Tel Aviv pada 2022 yang disaksikan langsung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, meski saat itu ada seruan boikot dari aktivis pro-Palestina.
“Kami tidak bisa menerima tamu yang memberikan dukungan terhadap pembunuh. Seharusnya Bocelli menolak, tapi tidak. Kalau dia mau, sebenarnya bisa ditolak,” tegas Sudarnoto.
MUI juga merujuk pada Fatwa MUI Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina. Penolakan ini, kata Sudarnoto, merupakan konsistensi sikap politik luar negeri Indonesia yang menentang penjajahan dan mendukung kemerdekaan Palestina.
Dialog Lintas Agama dan Tabayun
Di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: antara sikap penolakan dan dialog kebudayaan, MUI tidak serta-merta menutup diri. Sekretaris Jenderal MUI, Buya Amirsyah Tambunan, menggelar forum tabayun bersama tokoh lintas agama di Gedung MUI, Jakarta, pada Kamis (22/10/2026).
“Ini forum tabayun, untuk melakukan tabayun dari berbagai perspektif. Sebelumnya, dengan pihak pariwisata dan ekonomi kreatif, mereka juga sudah hadir ke MUI. Kali ini, kita bertabayun dengan tokoh lintas agama,” ujar Amirsyah dikutip dari laman resmi MUI, Sabtu (24/10/2026).
Menurut Amirsyah, dialog terbuka diperlukan agar persoalan dapat diselesaikan tanpa memunculkan polemik baru. Ia menekankan pentingnya menjaga keberagaman sekaligus mempertimbangkan keberlangsungan sektor pariwisata dan perekonomian nasional. Namun, MUI belum menyampaikan keputusan final mengenai nasib konser tersebut.
Peluang Diplomasi Budaya
Dari sudut pandang berbeda, Wakil Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Fadli Yasir, melihat konser kelas dunia ini sebagai momentum positif untuk memperkuat diplomasi kebudayaan Indonesia. Menurutnya, seni dan musik memiliki ruang tersendiri dalam membangun hubungan antarmasyarakat yang melampaui batas geografis dan kebangsaan.
“Musik tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang pertukaran nilai, pengalaman, dan ekspresi kebudayaan,” ujar Fadli, Jumat (23/10/2026).
Dalam perspektif hubungan internasional, kebudayaan merupakan instrumen soft power yang dapat memperkuat daya tarik suatu negara. Fadli menilai konser musisi internasional dapat menjadi kesempatan memperkuat hubungan budaya, meskipun dampaknya bergantung pada tindak lanjut dan kerja sama yang dibangun.
“Diplomasi tidak hanya berlangsung melalui pertemuan antarpemerintah, tetapi juga dapat diperkuat melalui interaksi masyarakat, pertukaran seni, dan kolaborasi kebudayaan,” lanjutnya.
Polemik yang Masih Menggantung
Hingga kini, polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: antara sikap penolakan dan dialog kebudayaan masih menjadi perdebatan hangat. Kepolisian telah mencabut izin, tetapi keputusan akhir belum diumumkan. MUI meminta masyarakat menunggu hingga seluruh proses pembahasan rampung dan akan menghormati keputusan pihak-pihak terkait.
Di sisi lain, pemerintah belum memberikan pernyataan resmi terbaru. Sejumlah pengamat menilai perlu ada keseimbangan antara menjaga prinsip kemanusiaan dan membuka ruang dialog budaya. Konser Bocelli di Borobudur, jika tetap digelar, berpotensi menjadi sorotan internasional, baik dari sisi seni maupun politik.
Yang jelas, polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: antara sikap penolakan dan dialog kebudayaan telah membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana Indonesia menempatkan nilai-nilai kemanusiaan, politik luar negeri bebas aktif, dan diplomasi budaya dalam satu tarikan napas. Publik kini menanti kepastian sikap pemerintah, apakah konser tetap berjalan dengan catatan tertentu atau dibatalkan sepenuhnya.
Terlepas dari keputusan nanti, perdebatan ini menunjukkan bahwa seni dan politik kerap bersinggungan. Dibutuhkan kebijaksanaan semua pihak agar polemik tidak berlarut-larut dan merugikan citra Indonesia di mata dunia.
