AS Kerahkan Militer di Timteng, Apa Target Serangan Baru terhadap Iran dan Akankah Berhasil?
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah mempersiapkan kemungkinan gelombang serangan baru terhadap Iran. Pertanyaan besar yang kini mencuat: AS kerahkan militer di Timteng, apa target serangan baru terhadap Iran dan akankah berhasil? Laporan terbaru menyebutkan bahwa Washington tengah mempertimbangkan berbagai opsi militer, mulai dari pengeboman fasilitas nuklir hingga infrastruktur strategis seperti jembatan, hingga operasi terhadap pulau-pulau Iran. Persiapan ini berlangsung meskipun Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa sebagian besar kemampuan militer Iran telah dihancurkan.
Menurut laporan The Wall Street Journal yang dikutip Aljazeera, sebuah kelompok tempur tambahan kapal induk dan satuan ekspedisi marinir sedang bergerak menuju kawasan Timur Tengah. Pengerahan tersebut memperluas pilihan militer yang tersedia bagi Trump, yang disebut cenderung ingin kembali melancarkan operasi besar. Namun, sejumlah pejabat AS menegaskan belum ada keputusan final untuk melaksanakan serangan. Kedatangan kelompok tempur kapal induk tambahan akan meningkatkan jumlah kapal perang AS yang beroperasi di Timur Tengah menjadi lebih dari 24 unit, indikasi kuat persiapan untuk kemungkinan dimulainya kembali operasi militer terhadap Iran.
Dalam kampanye pemilu sela untuk Partai Republik di Florida pada Jumat (23/10), Trump mengisyaratkan bahwa AS mungkin akan melancarkan operasi militer baru terhadap Iran jika Teheran tidak menyepakati penyelesaian konflik melalui negosiasi. “Kita mungkin akan melakukan ‘Epic Fury’ kecil lainnya, atau mereka akan setuju (untuk bernegosiasi),” cetus Trump, merujuk pada “Operation Epic Fury” yang dilancarkan pada akhir Februari lalu. Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, yang juga utusan khusus AS di Suriah, bahkan mengatakan bahwa Washington dapat melancarkan serangan terbaru terhadap Teheran paling cepat pada akhir pekan ini. “Apakah mungkin ada serangan akhir pekan ini? Tentu saja,” kata Barrack dalam wawancara dengan host podcast Mario Nawfal pada Jumat (23/10) waktu setempat.
Iran tidak tinggal diam. Komandan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi, memerintahkan pasukannya untuk menjaga tingkat kesiapan tempur pada level tertinggi. “Dalam kondisi perang, kelalaian atau kecerobohan apa pun dapat menimbulkan konsekuensi yang berat,” kata Jahanshahi, dikutip kantor berita Iran, Tasnim. Anggota parlemen Iran, Feda Hossein Maleki, kepada RIA Novosti menyatakan bahwa Teheran akan menggunakan opsi baru jika AS kembali memulai perang. “Kami memantau tindakan Amerika di kawasan dan sekitar Selat Hormuz. Kami telah menyampaikan kepada pihak AS bahwa jika mereka ingin memulai perang lagi, Iran akan menggunakan opsi baru,” ujarnya. Opsi tersebut mencakup perubahan cara Iran menjalankan operasi, pendekatan taktis, serta penggunaan taktik baru yang “dapat mengejutkan” dunia dan para pakar militer.
Di sisi lain, faktor politik dalam negeri AS dan Israel turut mempengaruhi dinamika konflik. Pemilu sela AS akan digelar 3 November, sementara pemilu Israel pada 27 Oktober. Jajak pendapat menunjukkan tingginya harga energi yang dipicu oleh perang Iran telah merugikan Partai Republik pimpinan Trump. Pada 8 Oktober, Trump mengunggah di media sosial bahwa Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela, dengan alasan “diskusi produktif” dengan Teheran. Namun, setelah pemilu usai, Trump mungkin merasa tidak lagi terbatas secara politik. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut berkampanye tentang perubahan rezim di Iran. Mengutip pejabat senior AS, New York Times melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Israel telah “menyusun rencana spesifik” untuk sebuah “operasi singkat namun intensif” di Iran yang akan mencakup sasaran-sasaran seperti fasilitas nuklir, infrastruktur energi, serta persenjataan rudal dan pesawat nirawak negara tersebut.
Tujuan operasi ini, menurut seorang pejabat, adalah untuk memaksa Iran melakukan kompromi diplomatik dengan melemahkan ekonominya, di tengah mandeknya perundingan mengakhiri konflik. Amerika Serikat juga tetap memberlakukan blokade terhadap ekspor minyak Iran di Selat Hormuz yang telah menguras pendapatan minyak Teheran. Pada awal Oktober, Axios melaporkan bahwa Pentagon telah menginstruksikan Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk menyelesaikan persiapan guna melanjutkan operasi tempur besar-besaran di Iran. Saat ini terdapat dua kapal induk AS di Laut Arab, dan kapal induk ketiga diperkirakan tiba pada akhir November. Pada 15 Oktober, Trump mengatakan kepada stasiun televisi sayap kanan Newsmax bahwa dirinya sedang mempertimbangkan penyerangan ke Gunung Pickaxe dekat kompleks nuklir Natanz, tempat yang diduga pejabat AS sebagai fasilitas pengayaan uranium.
Pertanyaan mengenai apakah serangan baru akan berhasil masih menjadi tanda tanya besar. Di satu sisi, AS memiliki keunggulan militer konvensional yang signifikan, dengan armada kapal induk dan kemampuan serangan presisi yang mumpuni. Namun, Iran telah menunjukkan kemampuannya dalam melancarkan serangan balasan yang tidak terduga, termasuk penggunaan rudal yang sempat mengejutkan dunia. Selain itu, faktor politik domestik di AS dan Israel, serta tekanan ekonomi global akibat harga energi, dapat membatasi ruang gerak Washington. Iran juga telah mempersiapkan taktik baru yang diklaim dapat mengejutkan lawan. Dengan demikian, meskipun AS kerahkan militer di Timteng, apa target serangan baru terhadap Iran dan akankah berhasil? Jawabannya sangat bergantung pada dinamika di lapangan, keputusan politik di Washington, dan kemampuan Iran untuk memberikan perlawanan yang efektif.
Yang jelas, eskalasi militer ini menambah ketidakpastian di kawasan Timur Tengah. Masyarakat internasional berharap agar jalur diplomasi tetap diutamakan untuk menghindari konflik terbuka yang lebih luas. AS kerahkan militer di Timteng, apa target serangan baru terhadap Iran dan akankah berhasil? Hanya waktu yang akan menjawab, namun persiapan militer yang masif menunjukkan bahwa opsi perang masih sangat terbuka.
