Rudal Houthi Arab Saudi Guncang Tanah Suci: Serpihan Jatuh di Mekkah, GCC Murka
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan rudal Houthi Arab Saudi menyasar sejumlah wilayah di Kerajaan Arab Saudi pada Sabtu (24/10/2026). Pasukan Pertahanan Sipil Arab Saudi melaporkan telah mencegat dua rudal balistik yang diluncurkan kelompok Houthi dari Yaman, dengan serpihan yang jatuh di sejumlah lokasi strategis, termasuk wilayah suci Mekkah. Insiden ini memicu peringatan darurat di empat provinsi dan menimbulkan kecaman keras dari Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Menurut laporan otoritas Saudi, serpihan dari rudal yang berhasil dicegat ditemukan di Wadi Al-Mughammas di Mekkah, kawasan Al-Nuzha di Jeddah, Wadi Jalil di Taif, serta Pusat Masturah di Rabigh. Juru bicara Pertahanan Sipil Arab Saudi menyatakan prosedur penanganan insiden telah dilaksanakan, meski laporan awal belum merinci adanya korban jiwa maupun besaran kerusakan. Selain itu, sebuah pesawat nirawak dilaporkan menyasar Riyadh dan berhasil dihancurkan di wilayah udara ibu kota.
Peringatan Darurat dan Pengamanan Ketat
Serangan rudal Houthi Arab Saudi ini memicu peringatan bahaya darurat di empat provinsi, termasuk Mekkah dan Jeddah. Otoritas pertahanan sipil sempat mengeluarkan instruksi agar warga “segera menuju ke tempat aman terdekat” sebelum peringatan dicabut beberapa menit kemudian. Pemerintah juga mengeluarkan peringatan hukum agar masyarakat tidak menyebarkan gambar atau informasi terkait operasi pencegatan rudal dan pesawat nirawak.
Langkah pengamanan diperketat secara signifikan. Pembelajaran jarak jauh diperpanjang bagi seluruh murid, tenaga pengajar, dan staf administratif di Riyadh serta Kegubernuran Diriyah. Pengelola Kingdom Center di Riyadh pun mewajibkan karyawan gedung 99 lantai tersebut untuk bekerja dari rumah. Yanbu menjadi titik strategis karena merupakan pusat ekspor minyak utama Arab Saudi di pesisir Laut Merah.
Kecaman Keras GCC dan Bantahan Houthi
Sekretaris Jenderal GCC, Jasem Mohamed Albudaiwi, mengutuk keras serangan yang menargetkan Mekkah, Jeddah, Taif, dan Rabigh tersebut. Menurutnya, serpihan rudal yang jatuh di Wadi Al-Mughammas mencerminkan ketidakpedulian terhadap nyawa dan keselamatan warga sipil. Ia menegaskan bahwa tindakan yang membahayakan Kota Suci Mekkah merupakan pelanggaran serius terhadap kesucian situs suci serta provokasi yang melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia.
“Serangan semacam itu tidak dapat dibenarkan maupun ditoleransi dengan alasan apa pun. Keamanan Arab Saudi merupakan bagian tak terpisahkan dari keamanan seluruh negara anggota GCC,” ujar Albudaiwi. Ia juga mengapresiasi kesiapsiagaan pasukan pertahanan udara Saudi dan menyerukan komunitas internasional mengambil sikap tegas untuk menghentikan aksi Houthi.
Namun, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, membantah sengaja menargetkan Mekkah dan Madinah. Ia menyatakan operasi kelompoknya diarahkan ke fasilitas minyak dan instalasi militer Arab Saudi, termasuk fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, kilang minyak Rabigh, bandara, serta infrastruktur jalur pipa minyak. Klaim mengenai sasaran rudal Houthi Arab Saudi ini pun masih menjadi bagian yang diperselisihkan.
Eskalasi Konflik dan Korban di Yaman
Ketegangan ini terjadi di tengah meningkatnya intensitas serangan Houthi terhadap infrastruktur militer dan sipil Arab Saudi. Insiden paling mematikan melanda Bandar Udara Internasional King Khalid di Riyadh pada awal Oktober 2026, dengan 12 orang tewas dan 309 terluka. Sebagai balasan, koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangkaian serangan udara ke Yaman pada hari yang sama, menewaskan total 16 orang, termasuk enam wanita dan satu anak di Sanaa serta korban di Hodeida.
Houthi kemudian mengaku bertanggung jawab atas serangan balasan ke Kota Aden, menargetkan pangkalan angkatan laut dan kamp militer yang diawasi pasukan Arab Saudi. Konflik Yaman kembali bergolak sejak Juli 2026 setelah sempat mereda menyusul kesepakatan gencatan senjata pada 2022. Sepanjang Oktober ini, koalisi Arab Saudi gencar menargetkan fasilitas dan posisi militer Houthi, sementara Houthi mendeklarasikan blokade terhadap kapal-kapal Saudi di perairan Laut Merah.
Eskalasi rudal Houthi Arab Saudi yang menyentuh wilayah suci menambah lapisan bahaya baru dalam konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun. Serangan terhadap Kota Suci tidak hanya menimbulkan risiko keselamatan fisik, tetapi juga melukai sentimen keagamaan miliaran umat Islam. Dunia internasional kini dituntut untuk bertindak lebih tegas agar eskalasi tidak meluas dan situs-situs suci tetap terlindungi dari konflik bersenjata yang kian tak terkendali.
