Din Syamsuddin Resmikan Gedung Al Iman di Jepara, Tegaskan Peran Muhammadiyah di Tengah Dinamika Islam dan Kekuasaan
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Tokoh nasional sekaligus mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Din Syamsuddin, MA, kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, Din Syamsuddin hadir di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, untuk menghadiri Pengajian Akbar sekaligus meresmikan Gedung Al Iman Asrama Putra Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Mustadl’afin Muhammadiyah Bangsri, Ahad (25/10/2026). Kehadiran Din Syamsuddin dalam acara yang berlangsung di SMK Muhammadiyah 04 Bangsri tersebut menjadi penanda komitmen persyarikatan dalam memperkuat layanan sosial dan pendidikan bagi anak-anak asuh.
Acara yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bangsri ini dimulai pukul 07.30 WIB dan berlangsung khidmat. Tampak hadir jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jepara, pengurus PCM Bangsri, Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar atau yang akrab disapa Gus Hajar mewakili Bupati Jepara, pimpinan amal usaha Muhammadiyah, para santri, wali santri, serta jamaah dan masyarakat umum. Bagi warga yang tidak dapat hadir langsung, panitia menyediakan siaran langsung melalui kanal resmi PDM Jepara.
Rangkaian acara diawali dengan penampilan berbagai amal usaha Muhammadiyah di Kecamatan Bangsri. TK Aisyiyah 06 menampilkan Tari Rampak, sementara siswa SMK Muhammadiyah 04 Jepara membawakan pembacaan puisi. Suasana semakin semarak dengan lantunan lagu Amin Paling Serius, atraksi Tapak Suci dari PTSPM Bangsri, serta nadzoman syair berbahasa Arab dan Jepang dari Pondok Pesantren Muhammadiyah Bangsri yang merupakan kolaborasi LKSA Mustadl’afin dan MBS QUBA. Penampilan praacara ditutup dengan Tari Manuk Dadali dari SD Muhammadiyah Bangsri.
Pada momen inilah Din Syamsuddin secara resmi meresmikan Gedung Al Iman LKSA Mustadl’afin Muhammadiyah Bangsri. Peresmian tersebut menjadi penanda dimulainya pemanfaatan gedung yang dipersiapkan untuk menunjang pengasuhan dan kebutuhan tempat tinggal santri putra. Memasuki acara inti, kegiatan dibuka dengan pembacaan Kalam Ilahi oleh Aji Hikmawan, santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Bangsri, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Sang Surya, dan Mars Jepara oleh tim paduan suara IGABA Bangsri.
Dalam sambutannya, Ketua PCM Bangsri menyampaikan rasa syukur atas selesainya pembangunan Gedung Al Iman. Menurutnya, gedung tersebut bukan sekadar bangunan fisik, melainkan wujud komitmen persyarikatan dalam menyediakan tempat tinggal yang layak, nyaman, dan islami bagi anak-anak asuh LKSA Mustadl’afin Muhammadiyah Bangsri. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para donatur serta seluruh pihak yang telah mendukung hingga gedung dapat diselesaikan dan diresmikan.
Apresiasi terhadap perkembangan Muhammadiyah di Bangsri juga disampaikan PDM Jepara. PCM Bangsri dinilai menunjukkan perkembangan progresif melalui berbagai amal usaha, mulai dari pendidikan usia dini hingga sekolah menengah, serta layanan pengasuhan anak dan pendidikan pesantren. Sementara itu, Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar menegaskan dukungan Pemerintah Kabupaten Jepara terhadap kiprah Muhammadiyah, khususnya dalam bidang sosial dan pendidikan.
Kehadiran Din Syamsuddin dalam agenda ini sekaligus mengingatkan publik pada pemikiran akademiknya yang kerap menjadi rujukan. Dalam disertasinya berjudul Religion and Politics in Islam: The Case of Muhammadiyah in Indonesia’s New Order yang diselesaikannya di University of California, Los Angeles (UCLA) pada 1991 di bawah bimbingan Profesor Leonard Binder, Din Syamsuddin mencoba menjawab pertanyaan mendasar: bagaimana sebuah gerakan Islam mempertahankan cita-cita keagamaannya ketika berhadapan dengan kekuasaan politik yang memiliki agenda dan logikanya sendiri.
Pemikiran Din Syamsuddin tersebut menempatkan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang tidak berorientasi pada perebutan kekuasaan melalui partai politik, namun tetap memiliki pengaruh luas terhadap kehidupan publik melalui pendidikan, dakwah, kesehatan, dan pelayanan sosial. Ia menegaskan bahwa sikap nonpartisan tidak identik dengan apolitis. Organisasi keagamaan dapat memengaruhi arah kehidupan politik tanpa harus menjelma menjadi partai atau menempatkan kadernya dalam jabatan pemerintahan.
Din Syamsuddin juga membaca dinamika hubungan Islam dan negara melalui pertarungan antara Islam yang dipolitisasi dan Islam yang tidak dipolitisasi secara langsung. Menurutnya, depolitisasi Islam di bawah Orde Baru merupakan bagian dari strategi negara untuk membatasi kekuatan politik Islam. Namun, perubahan itu tidak serta-merta berarti hilangnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat. Sebaliknya, muncul perkembangan Islam kultural yang menempatkan pendidikan, intelektualisme, pembaruan pemikiran, dan penguatan institusi sosial sebagai saluran penting artikulasi nilai-nilai keagamaan.
Pandangan tersebut relevan dengan apa yang ditunjukkan Muhammadiyah di Bangsri. Melalui pembangunan Gedung Al Iman, Muhammadiyah membuktikan bahwa pengaruh keagamaan dapat tumbuh melalui pelayanan sosial dan pembentukan kesadaran masyarakat, bukan semata melalui jalur politik formal. Din Syamsuddin dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa kekalahan atau penyempitan ruang politik formal tidak selalu identik dengan kemunduran pengaruh Islam secara keseluruhan.
Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa kebangkitan kultural tidak boleh langsung dianggap sebagai pengganti sempurna bagi partisipasi politik. Tanpa kemampuan mengartikulasikan kepentingan masyarakat dan mengoreksi kekuasaan, pengaruh kultural berisiko kehilangan daya transformatifnya. Gagasan ini menjadi cermin bagi organisasi keagamaan agar tetap menjaga keseimbangan antara khidmat sosial dan keberanian menyuarakan kebenaran.
Peresmian Gedung Al Iman di Jepara menjadi bukti nyata bahwa peran Din Syamsuddin tidak berhenti pada wacana akademik. Kehadirannya memberi semangat bagi jamaah dan santri, sekaligus menegaskan bahwa Muhammadiyah terus bergerak di jalur pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial. Masyarakat Kabupaten Jepara pun menyambut baik langkah tersebut sebagai bagian dari upaya bersama membangun generasi yang berakhlak dan berilmu.
Dengan diresmikannya Gedung Al Iman, LKSA Mustadl’afin Muhammadiyah Bangsri kini memiliki fasilitas yang lebih memadai untuk mengasuh dan mendidik santri putra. Ke depan, dukungan dari pemerintah daerah, donatur, dan masyarakat diharapkan terus mengalir agar amal usaha Muhammadiyah semakin berkembang. Peresmian ini sekaligus menutup rangkaian acara dengan suasana syukur dan harapan baru bagi masa depan pendidikan Islam di Bangsri, Jepara.
