Menkes Oksigen Karhutla: Budi Gunadi Buka Suara soal Foto Viral, Warga Palangka Raya Tetap Berjuang di Tengah Asap Pekat
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Isu Menkes oksigen karhutla kembali mencuat setelah foto Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menggunakan tabung oksigen saat berkunjung ke Kalimantan Tengah viral di media sosial. Di tengah kabut asap pekat yang masih menyelimuti Kota Palangka Raya, klarifikasi sang menteri menjadi sorotan publik. Menkes oksigen karhutla bukan sekadar perbincangan daring, melainkan cerminan nyata betapa seriusnya dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan warga.
Budi Gunadi Sadikin membenarkan foto tersebut, namun menegaskan bahwa dirinya tidak mengalami sesak napas seperti yang dinarasikan. Foto yang beredar memperlihatkan dirinya duduk sambil menggunakan tabung oksigen di Rumah Oksigen MDMC PMW Kalteng, Palangka Raya. Narasi di media sosial menyebut bahwa belum genap 24 jam berada di Kalteng, Budi sudah tidak kuat menghadapi asap karhutla. Namun, melalui akun Instagram pribadinya, ia mengunggah video lengkap kunjungannya untuk meluruskan informasi yang keliru.
Dalam video tersebut, Budi terlihat mengunjungi Rumah Oksigen dan Bus Oksigen di Palangka Raya. Saat berada di Rumah Oksigen, ia duduk sambil menggunakan oksigen dan mengaku merasakan manfaat dari fasilitas tersebut, termasuk peningkatan saturasi oksigen. “Saya menggunakan oksigen di Rumah Oksigen untuk merasakan langsung manfaatnya, bukan karena sesak napas,” jelasnya dalam video itu. Klarifikasi ini penting untuk meredam spekulasi yang berkembang, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah dalam menyediakan layanan kesehatan di tengah bencana asap.
Meski demikian, warganet tetap menyoroti kondisi masyarakat setempat yang tidak memiliki pilihan untuk menghindari paparan asap. Sebagian warga tetap harus bekerja, bersekolah, dan mencari nafkah meskipun kualitas udara memburuk. Salah satu komentar di media sosial menggambarkan beratnya situasi: “Kami warga biasa harus tetap keluar rumah, sementara pejabat bisa menggunakan oksigen. Kami hanya bisa pasrah.” Hal ini memicu perdebatan mengenai dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Kondisi di lapangan kian memprihatinkan. Pada Sabtu (24/10/2026), asap pekat akibat karhutla masih menyelimuti Kota Palangka Raya. Wina, seorang warga, mengaku terpaksa keluar rumah karena ada urusan yang harus diselesaikan. “Asapnya sangat pekat hari ini, jarak pandang pun kian terbatas saat berkendara. Saya harus berkendara dengan hati-hati,” ujarnya. Edy, warga lainnya, juga mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. “Kalau lagi berkendara saat asap seperti ini, jadinya harus sangat berhati-hati, karena rawan akibat jarak pandang terbatas,” tuturnya.
Berdasarkan laporan rutin Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalteng hingga 23 Oktober 2026, akumulasi kejadian karhutla di seluruh provinsi mencapai 6.952 kejadian dengan luasan terbakar 20.108,18 hektare. Khusus untuk Palangka Raya, tercatat 957 kejadian dengan luasan terbakar 1.286,94 hektare. Sementara itu, kejadian harian per 23 Oktober 2026 pukul 18.00 WIB terdapat 51 kejadian karhutla se-Kalimantan Tengah dengan luasan terbakar 140,31 hektare. Untuk Palangka Raya sendiri tercatat tiga kejadian dengan luasan terbakar 15,95 hektare.
| Wilayah | Akumulasi Kejadian | Luas Terbakar (ha) |
|---|---|---|
| Kalimantan Tengah | 6.952 | 20.108,18 |
| Palangka Raya | 957 | 1.286,94 |
Sebelumnya, dalam kunjungannya memantau sejumlah fasilitas kesehatan di Palangka Raya, Menkes Budi Gunadi Sadikin meminta warga membatasi aktivitas di luar ruangan untuk meminimalkan dampak kesehatan akibat asap karhutla. Imbauan ini sejalan dengan upaya pemerintah menyediakan Rumah Oksigen dan Bus Oksigen sebagai layanan darurat bagi masyarakat yang membutuhkan. Namun, kontroversi Menkes oksigen karhutla menunjukkan adanya kesenjangan persepsi antara pejabat dan warga yang terdampak langsung.
Pengamat lingkungan menilai insiden ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat penanganan karhutla, bukan sekadar klarifikasi. “Fokus utama harus pada upaya pencegahan dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan, serta memastikan hak masyarakat atas udara bersih terpenuhi,” ujar seorang pengamat yang enggan disebutkan namanya. Sementara itu, Dinas Kesehatan setempat terus melakukan sosialisasi mengenai bahaya asap dan membagikan masker kepada warga.
Di tengah polemik Menkes oksigen karhutla, masyarakat berharap ada solusi konkret untuk mengatasi kabut asap yang telah berbulan-bulan melanda. Kualitas udara yang buruk tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Rumah sakit dan puskesmas di Palangka Raya melaporkan lonjakan pasien dengan keluhan pernapasan sejak karhutla meluas.
Kunjungan Menkes ke Kalteng sejatinya bertujuan memastikan layanan kesehatan tetap optimal di tengah bencana. Namun, cara penyampaian dan simbol yang digunakan, seperti tabung oksigen, justru menuai kritik. Publik menilai pejabat seharusnya lebih empatik terhadap penderitaan warga. Ke depan, transparansi dan komunikasi yang baik menjadi kunci agar kebijakan kesehatan dapat diterima dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Dengan demikian, isu Menkes oksigen karhutla menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla memerlukan kerja sama semua pihak, bukan hanya pemerintah. Masyarakat diminta tetap waspada, mengurangi aktivitas luar ruangan, dan menggunakan masker saat terpaksa keluar. Sementara pemerintah diharapkan meningkatkan upaya pemadaman, penegakan hukum, serta menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai. Hanya dengan sinergi, dampak buruk karhutla dapat diminimalisir.
