Sampah Antariksa China Jatuh di Kalteng, Serpihan Roket ZhuQue-2E Hebohkan Warga Kotim
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Insiden jatuhnya sampah antariksa China kembali menjadi sorotan setelah serpihan logam berukuran besar ditemukan di tengah perkebunan kelapa sawit milik PT Agro Bukit, Kilometer 26, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan benda tersebut merupakan bagian dari roket ZhuQue-2E (ZQ-2E) yang diluncurkan dari China. Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus sampah antariksa China yang jatuh di wilayah Indonesia, sekaligus memicu diskusi mengenai tanggung jawab dan pengelolaan puing-puing benda langit di orbit Bumi.
Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa temuan tersebut merupakan objek kedua di lokasi yang sama. Sebelumnya, warga juga menemukan logam terkoyak di area perkebunan sawit yang diduga berasal dari sumber yang sama.
“Ini objek kedua setelah kemarin juga ditemukan objek logam terkoyak di kebun sawit. Sumbernya diduga sama, sampah antariksa China bekas roket ZhuQue-2E milik China. Sampah antariksa tidak bisa diprakirakan secara pasti titik jatuh dan waktunya, tetapi lintasan orbitnya bisa ditentukan,” kata Thomas kepada wartawan, Rabu (21/10).
Kronologi kejadian bermula pada Minggu (18/10) sore, ketika warga di wilayah Kotim mendengar suara dentuman keras disertai gemuruh dari arah langit. Sehari kemudian, Senin (19/10), warga menemukan pecahan logam berukuran cukup besar di kawasan yang sama. Benda itu diduga kuat merupakan bagian dari tabung bahan bakar cair roket.
Jejak Peluncuran Roket ZhuQue-2E
Roket ZhuQue-2E diluncurkan pada 14 Oktober 2026 dari zona inovasi antariksa komersial Dongfeng di China. Roket tersebut lepas landas pukul 19.40 waktu setempat dan berhasil menempatkan 10 satelit ke orbit yang telah ditentukan. Satelit-satelit itu membawa muatan komputasi berkinerja tinggi, perangkat komunikasi laser berkecepatan tinggi antar-satelit, maupun antara satelit dan Bumi.
Menurut surat kabar China, Global Times, ZhuQue-2E merupakan roket berbahan bakar cair kriogenik yang dikembangkan melalui desain sistematis dengan memanfaatkan teknologi pendahulunya, ZhuQue-2. Roket ini memiliki diameter 3,35 meter dengan diameter selubung (fairing) maksimum 4,2 meter, serta tinggi mencapai 55,9 meter. Massa yang diangkut saat lepas landas mencapai 267 ton dengan daya dorong lepas landas sebesar 338 ton.
Saat diluncurkan, roket ini membawa muatan eksperimental khusus seberat 2,8 ton yang dirancang untuk kebutuhan jaringan konstelasi skala besar ke orbit setinggi 900 kilometer. Peluncuran tersebut merupakan bagian dari program ‘komputasi bintang’ China, sebuah proyek ambisius untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di antariksa yang terdiri dari 2.800 satelit komputasi.
Fenomena Sampah Antariksa yang Tak Terhindarkan
Kasus jatuhnya sampah antariksa China di Kalimantan Tengah bukanlah peristiwa pertama. Sejumlah wilayah Indonesia sebelumnya pernah menjadi lokasi jatuhnya serpihan roket atau satelit yang sudah tidak berfungsi. Meski demikian, menurut para ahli, kejadian semacam ini sulit diprediksi secara presisi, terutama menyangkut titik dan waktu jatuhnya.
Thomas menegaskan bahwa lintasan orbit benda antariksa sebenarnya dapat dihitung, namun faktor-faktor seperti gesekan atmosfer, perubahan massa, dan rotasi benda membuat prediksi titik jatuh menjadi tidak pasti. Karena itu, koordinasi antara lembaga riset, pemerintah daerah, dan masyarakat sangat diperlukan untuk mengantisipasi potensi bahaya.
Dari sisi hukum internasional, benda antariksa yang jatuh ke wilayah negara lain menimbulkan pertanyaan mengenai tanggung jawab negara peluncur. Konvensi tentang Tanggung Jawab Internasional untuk Kerusakan yang Disebabkan Benda Antariksa (Liability Convention) tahun 1972 mengatur bahwa negara peluncur bertanggung jawab atas kerugian yang timbul akibat benda antariksa miliknya. Namun, implementasi aturan ini kerap menghadapi tantangan, terutama ketika jatuhnya sampah antariksa China terjadi di kawasan terpencil dan menimbulkan kerugian yang sulit dihitung secara materiil.
Antisipasi dan Kesadaran Masyarakat
Masyarakat diimbau tidak menyentuh atau memindahkan serpihan yang ditemukan sebelum ada pemeriksaan dari pihak berwenang. Serpihan roket dapat mengandung bahan berbahaya, termasuk sisa bahan bakar cair kriogenik yang bersifat mudah terbakar atau beracun. BRIN bersama instansi terkait terus melakukan identifikasi dan pengamanan lokasi temuan.
Ke depan, penguatan sistem pemantauan sampah antariksa menjadi keniscayaan. Dengan semakin banyaknya peluncuran roket, termasuk untuk kepentingan konstelasi satelit komersial dan infrastruktur AI di antariksa, volume sampah antariksa China maupun dari negara lain berpotensi terus meningkat. Diperlukan kerja sama internasional yang lebih serius untuk memitigasi risiko, mulai dari desain roket yang lebih ramah lingkungan hingga mekanisme deorbit yang terkendali.
Insiden di Kotim menjadi pengingat bahwa eksplorasi antariksa yang semakin masif memiliki konsekuensi nyata di Bumi. Jatuhnya sampah antariksa China di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa batas antara langit dan daratan semakin tipis, dan kesiapsiagaan menjadi kunci. Dengan transparansi informasi, koordinasi lintas lembaga, serta kesadaran masyarakat, risiko yang timbul dari puing-puing antariksa dapat diminimalkan, sekaligus mendorong tata kelola antariksa global yang lebih bertanggung jawab.
