Alas Roban The Series: Ketika Horor Batang Berubah Jadi Gerbang Wisata Dunia
Inforiau – 21 Oktober 2026 | Suasana Alun-Alun Batang mendadak berubah menjadi arena pemutaran film terbuka pada Senin malam, 19 Oktober 2026. Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan pemutaran perdana alas roban the series, sebuah serial garapan sutradara Sondang Pratama yang mengambil lokasi syuting langsung di wilayah Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang. Acara nonton bareng (nobar) ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan bagian dari strategi besar Pemerintah Kabupaten Batang untuk mempromosikan potensi pariwisata daerah ke tingkat nasional hingga internasional.
Malam itu sempat diwarnai kejutan. Di awal penayangan, suara dialog dalam serial tiba-tiba menghilang, menyisakan alunan musik latar yang membangun suasana menegangkan. Insiden tersebut sontak memantik perbincangan hangat di tengah penonton, sebagian mengaitkannya dengan nuansa mistis yang melekat kuat pada nama Alas Roban. Namun, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan dengan tegas menepis spekulasi itu. “Enggak, enggak, enggak, itu hanya kesalahan teknis, bukan mistis. Ya, teknis saja,” ujarnya sambil tertawa ringan saat ditemui usai acara.
Di balik bumbu misteri tersebut, alas roban the series menyimpan misi yang jauh lebih besar. Serial ini tidak hanya menyajikan hiburan bergenre horor, tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Menurut Faiz, Alas Roban merupakan bagian dari tanah, hutan, dan air yang suci yang dikaruniakan Tuhan dan harus dijaga kelestariannya.
“Film ini tidak hanya menyajikan sebuah hiburan, apalagi sebuah hiburan dengan narasi horor, tapi juga lebih dari itu, bagaimana ke depan kita terus menjaga alam, menjaga warisan kekayaan yang telah dikaruniakan kepada Kabupaten Batang,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2026).
Kualitas produksi alas roban the series terbilang serius. Deretan aktor dan aktris papan atas Tanah Air turut menghidupkan alur cerita yang menegangkan, di antaranya Michelle Ziudith yang memerankan Sita, Fara Shakila sebagai Gendis, serta kehadiran Arie Andika, Dosma, Kiwil, Tenno Ali, hingga Rio Dewanto. Tak ketinggalan, Bupati Faiz Kurniawan sendiri turut tampil sebagai pemeran dalam serial tersebut, menambah daya tarik tersendiri bagi warga yang hadir menyaksikan langsung.
Strategi Kreatif Promosi Wisata Daerah
Bagi pemerintah daerah, pemanfaatan media film merupakan strategi kreatif untuk memperkenalkan potensi lokal ke kancah global demi menggerakkan roda perekonomian. Faiz menjelaskan prinsipnya bahwa pemerintah selalu mengupayakan segala instrumen yang bisa digunakan untuk lebih mengenalkan Kabupaten Batang.
“Apapun metodenya, baik dalam bentuk event, terus kemudian juga film, karena di berbagai negara manapun banyak spot-spot yang itu menjadi viral karena dipakai untuk syuting film. Nah, dari situlah yang kemudian kita pakai strategi supaya lebih memperkenalkan Kabupaten Batang yang ujungnya adalah bagaimana meningkatkan dan mengembangkan perekonomian daerah, salah satunya dari pariwisata,” jelasnya.
Strategi tersebut dinilai mulai membuahkan hasil nyata. Hal ini terlihat dari meningkatnya kunjungan wisatawan ke Batang. Selain itu, muncul inisiatif wisata baru seperti paket Tour de Alas Roban yang diinisiasi secara mandiri oleh masyarakat setempat. Fenomena ini menunjukkan bahwa alas roban the series mampu menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi kreatif di tingkat akar rumput.
Keberhasilan acara pemutaran perdana ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap karya lokal. Dengan dukungan kuat dari pemerintah dan industri kreatif, alas roban the series memiliki peluang besar menarik perhatian di tingkat nasional maupun internasional. Momen nobar di Alun-Alun Batang menjadi bukti bahwa film dapat berfungsi sebagai media efektif untuk mengenalkan suatu wilayah kepada masyarakat luas, sekaligus memperkuat identitas budaya dan lingkungan yang ada.
Ke depan, pemerintah Kabupaten Batang berkomitmen terus mengoptimalkan berbagai instrumen promosi serupa. Harapannya, alas roban the series dapat menjadi pintu gerbang bagi Batang untuk dikenal lebih luas, sekaligus menggerakkan sektor pariwisata yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Sebagai penutup, pemutaran perdana ini bukan sekadar perayaan sebuah karya sinematik, melainkan langkah nyata pemerintah daerah dalam merangkul industri kreatif sebagai mitra pembangunan. Dengan memadukan hiburan, pesan pelestarian alam, dan promosi wisata, Batang menunjukkan bahwa potensi lokal dapat mendunia tanpa harus kehilangan jati dirinya.
