Skuad Como Meledak: Fabregas Puji Kedalaman Tim Usai Bantai Manchester United dan Kunci Posisi 4 Besar Serie A
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Kedalaman skuad Como menjadi sorotan utama setelah I Lariani menorehkan rentetan hasil impresif dalam sepekan terakhir. Pelatih Cesc Fabregas secara terbuka memuji kematangan tim asuhannya yang mampu melewati jadwal padat dengan gemilang, termasuk kemenangan bersejarah 4-1 atas Manchester United di pentas Liga Champions, sebelum membungkam Sassuolo 2-0 pada lanjutan Serie A di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Como, Sabtu (24/10/2026) malam WIB.
Kemenangan atas Sassuolo menjadi kemenangan ketiga berturut-turut bagi skuad Como dan mengukuhkan posisi mereka di peringkat keempat klasemen sementara Serie A dengan koleksi 17 poin. Sementara itu, Sassuolo yang tampil tanpa bek Timnas Indonesia Jay Idzes akibat cedera harus tertahan di posisi ke-14 dengan delapan poin.
Douvikas Jadi Pahlawan Dua Gol
Penyerang asal Yunani, Anastasios Douvikas, tampil sebagai bintang lapangan dengan torehan brace atau dua gol yang lahir pada babak kedua. Kebuntuan yang bertahan sepanjang babak pertama akhirnya pecah pada menit ke-49 ketika Douvikas menuntaskan umpan terukur Maxence Caqueret dari jarak dekat. Sebelas menit berselang, tepatnya menit ke-60, pemain berusia 27 tahun itu kembali mencatatkan namanya di papan skor lewat sepakan keras dari tengah kotak penalti yang gagal dibendung kiper Stefano Turati.
Sepanjang babak pertama, skuad Como sebenarnya tampil mendominasi. Gelandang Martin Baturina berulang kali melepaskan ancaman berbahaya, sementara Caqueret turut menebar teror, namun aksi cekatan Turati masih mampu menggagalkan sejumlah peluang. Sassuolo sempat merespons lewat skema serangan balik cepat Benja Dominguez pada menit ke-19, tetapi tembakannya melebar. Di babak kedua, Kieron Bowie juga sempat mengancam, namun sepakannya masih melambung.
Fabregas Soroti Energi dan Rotasi
Usai laga, Fabregas menekankan bahwa tantangan sesungguhnya musim ini adalah menghadapi pertandingan-pertandingan yang berdekatan. Menurutnya, laga melawan Manchester United dan Fiorentina sebelumnya telah menguras energi pasukannya, sehingga kemampuan menjaga kebugaran menjadi kunci.
“Datang ke sini untuk bertanding, penting bagi kami tiba dengan energi yang cukup. Dengan para pemain yang sudah menunggu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk mendapat kesempatan bermain,” ujar mantan gelandang Arsenal dan Chelsea itu.
Ia pun menyoroti kontribusi pemain yang jarang tampil. Pada laga melawan Sassuolo, Kambwala dan Ricci mendapatkan kesempatan bermain, sementara Lahdo menjalani debutnya. “Memiliki semua pemain yang siap dimainkan dan bisa membantu hingga akhir musim adalah hal yang baik,” tambahnya.
Menurut Fabregas, rotasi yang tepat membuat skuad Como tetap kompetitif meski harus berlaga di berbagai ajang. Ia bahkan menyinggung bahwa tim-tim terbesar kerap kesulitan ketika melakukan terlalu banyak perubahan, sehingga kematangan skuad menjadi pembeda.
Pertahanan Solid Meski Lini Belakang Baru
Selain ketajaman lini serang, ketangguhan pertahanan Como juga mencuri perhatian. Mereka berhasil mencatatkan clean sheet meski menurunkan susunan lini belakang yang seluruh pemainnya baru pertama kali bermain bersama. Fabregas menilai timnya semakin mahir mengelola berbagai fase pertandingan, kemampuan yang terus diasah bahkan sejak malam sulit melawan Manchester United di Old Trafford.
“Ketika sebuah tim bertahan dengan baik, itu selalu lebih baik daripada menyerang. Kami harus membangun kepercayaan diri. Jika Anda melihat lini pertahanan hari ini, ini pertama kalinya mereka semua bermain bersama. Ditambah Ricci di depan mereka. Ada kerja keras di baliknya,” jelasnya.
Fabregas juga memuji Douvikas yang dinilainya memiliki semua atribut untuk menjadi salah satu penyerang tengah paling ditakuti di kompetisi ini. “Dia berlatih dengan intensitas maksimal, dia orang yang sangat murah hati. Dalam tiga tahun terakhir, dia menjadi salah satu rekrutan yang memberi kepuasan,” ujarnya.
Ambisi Como di Balik Kejayaan di Lapangan
Kebangkitan skuad Como tak lepas dari proyek besar yang tengah dibangun klub. Como 1907 yang pernah terpuruk di kompetisi kasta bawah kini menjelma menjadi proyek ambisius yang memadukan olahraga, bisnis, fesyen, dan pariwisata. Klub yang bermarkas di tepi Danau Como ini bahkan sempat menanti 21 tahun untuk kembali ke Serie A pada musim 2024-2025.
Suasana Kota Como menjelang laga melawan Manchester United menjadi potret nyata perpaduan dua dunia. Di alun-alun kota, suporter Manchester United memenuhi ruang publik dengan nyanyian lantang, sementara wisatawan berkemeja kasual menikmati liburan di salah satu destinasi paling memesona di Italia Utara. Malam harinya, suasana berubah semarak ketika Como menaklukkan raksasa Inggris dengan skor telak 4-1.
Bagi klub, hasil di lapangan memberikan dorongan besar bagi citra yang tengah dibangun, yakni Como 1907 sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman lebih dari sekadar 90 menit pertandingan. Sepak bola di kota ini hadir berdampingan dengan pemandangan danau, kafe, hotel, serta atmosfer yang memikat wisatawan mancanegara.
Jadwal Berat Menanti
Dengan modal 17 poin dan posisi keempat, skuad Como kini dituntut menjaga konsistensi. Tantangan terdekat adalah menghadapi jadwal padat yang terus berlanjut, di mana rotasi cerdas dan kedalaman skuad akan menjadi senjata utama Fabregas. Di sisi lain, Sassuolo harus segera bangkit dari tekanan dan memperbaiki performa mereka yang kembali mengecewakan.
Kemenangan atas Sassuolo menegaskan bahwa skuad Como bukan sekadar kejutan sesaat. Kombinasi strategi rotasi yang matang, ketajaman penyerang seperti Douvikas, serta soliditas lini belakang menjadikan I Lariani sebagai salah satu tim yang patut diperhitungkan di papan atas Serie A musim ini. Jika mampu mempertahankan momentum, bukan tidak mungkin ambisi besar dari Lombardia ini berbuah manis di akhir musim.
