Iran Siapkan Rencana Pemotongan Kabel Internet Bawah Laut, Investasi Raksasa AS di Teluk Terancam
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas. Iran siapkan rencana pemotongan kabel internet bawah laut, investasi raksasa AS di Teluk terancam menjadi kenyataan yang kini menghantui Washington dan sekutunya. Dua pejabat senior keamanan Iran, yang berbicara dengan syarat anonim, mengungkapkan bahwa Teheran telah menyusun rencana terperinci untuk menargetkan kabel komunikasi bawah laut kawasan Teluk apabila Amerika Serikat dan Israel kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Rencana ini menjadi sinyal keras bahwa konflik yang semula bersifat militer konvensional kini melebar ke ranah infrastruktur digital yang menopang perekonomian global.
Menurut keterangan para pejabat tersebut, Iran tidak hanya berencana memutus kabel, tetapi juga berupaya mencegah upaya perbaikan pascaserangan guna memperpanjang gangguan komunikasi, termasuk koneksi internet. Salah satu pejabat menegaskan bahwa jika Iran diserang, tidak ada lagi garis merah. Mulai dari kabel bawah laut hingga pangkalan militer, termasuk yang rahasia, semuanya dapat menjadi sasaran. Ia juga memperingatkan Washington agar tidak bermain api, seraya menegaskan bahwa Iran memiliki akses penuh ke kabel bawah laut dan dapat dengan mudah menghancurkannya.
Peringatan dari IRGC dan Dewan Keamanan Nasional
Ancaman ini diperkuat oleh pernyataan sejumlah pejabat tinggi Iran. Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, menyebut terdapat tujuh kabel internet utama yang membentang di dasar Selat Hormuz. Ia mengklaim seluruh lalu lintas data internet dan komersial melewati jalur perairan strategis tersebut. Dalam sebuah upacara di Taman Museum Pertahanan Suci, Teheran, Mohebbi menegaskan bahwa target-target baru akan diungkapkan dan senjata-senjata baru akan diperkenalkan. Ia juga bersumpah akan mengusir apa yang disebutnya sebagai sisa-sisa kekuatan Amerika Serikat dari kawasan.
Senada dengan itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa infrastruktur teknologi terkait AS di kawasan, yang nilainya diperkirakan mencapai lebih dari US$2 triliun, bisa terancam jika pertempuran kembali berlanjut. Ia menyebut nadi ekonomi Amerika di kawasan mengalir melalui wilayah Iran, merujuk pada investasi besar AS dalam bentuk pusat data dan fasilitas kecerdasan buatan di seluruh Timur Tengah. Sejauh ini, kata Rezaei, aset-aset tersebut belum dimasukkan ke dalam daftar target, tetapi jika perang pecah, banyak kabel, pusat data, fasilitas AI, dan berbagai situs lainnya akan hancur.
Dampak Global dan Respons Internasional
Ancaman bahwa Iran siapkan rencana pemotongan kabel internet bawah laut, investasi raksasa AS di Teluk terancam bukanlah isu sepele. Menurut data Badan Telekomunikasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (ITU), kabel bawah laut membawa sekitar 99 persen lalu lintas internet global. Kendati demikian, direktur penelitian firma riset telekomunikasi TeleGeography, Alan Mauldin, menilai dampak global dari serangan Iran mungkin terbatas karena kurang dari satu persen bandwidth internasional melewati Selat Hormuz. Selat tersebut memisahkan Iran dan Oman, menghubungkan Teluk ke Teluk Oman dan Laut Arab.
Meski dampak global diperkirakan terbatas, gangguan pada kabel di jalur strategis ini tetap berpotensi mengacaukan konektivitas digital regional. Dampaknya dapat menjalar ke penyedia layanan internet, perusahaan teknologi, hingga aktivitas ekonomi yang memerlukan pertukaran data lintas negara. Departemen Luar Negeri AS dan Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan para pejabat keamanan tersebut, dan hingga kini belum ada pernyataan dari negara-negara Teluk.
Wacana bahwa Iran siapkan rencana pemotongan kabel internet bawah laut, investasi raksasa AS di Teluk terancam menunjukkan pergeseran doktrin pertahanan Teheran yang kian berani menyasar aset sipil bernilai tinggi. Serangan terhadap infrastruktur digital tidak hanya berdampak pada militer, tetapi juga pada perekonomian dan kehidupan masyarakat luas, sehingga eskalasi ini berpotensi menciptakan krisis baru di kawasan yang sudah lama dilanda ketegangan.
Sebagai penutup, ancaman Iran terhadap kabel internet bawah laut dan fasilitas teknologi AS di Timur Tengah menegaskan bahwa medan pertempuran modern tidak lagi terbatas pada darat, laut, dan udara, melainkan telah merambah ke ruang digital. Jika diplomasi antara Teheran dan Washington tetap menemui jalan buntu, risiko bahwa Iran benar-benar mengeksekusi rencana pemotongan kabel internet bawah laut akan semakin besar, dan investasi raksasa AS di Teluk terancam menjadi korban pertama dari perang generasi baru ini. Dunia pun dituntut untuk segera mendorong deeskalasi sebelum ketegangan berubah menjadi krisis digital yang sulit dikendalikan.
