IHSG Dibuka Menguat ke 5.442, GOTO Jadi Saham Teraktif: Mampukah Bertahan di Atas 5.350 Pekan Ini?
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali mencuri perhatian pelaku pasar pada pembukaan perdagangan Senin pagi, 26 Oktober 2026. Indeks acuan bursa domestik itu dibuka menguat ke level 5.442,30, melanjutkan momentum positif yang terbangun pada pekan sebelumnya. Penguatan indeks harga saham gabungan ini menjadi sinyal awal yang cukup melegakan di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan global.
Meski dibuka di zona hijau, pergerakan indeks harga saham gabungan sepanjang sesi I tidak luput dari aksi ambil untung. Sejumlah saham berkapitalisasi besar justru menjadi sasaran jual investor asing. GOTO tercatat sebagai saham paling aktif dari sisi volume transaksi pada satu jam pertama perdagangan, menyusul tingginya minat pasar terhadap saham berbasis teknologi tersebut.
Rally Pekan Lalu dan Arus Keluar Asing
Penguatan indeks harga saham gabungan pada pembukaan pagi ini sesungguhnya merupakan kelanjutan dari kinerja gemilang pekan lalu. Pada periode 19-23 Oktober 2026, IHSG ditutup di level 5.439 atau naik 4,90 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Namun, di balik kenaikan tersebut, investor asing justru membukukan aksi jual bersih atau outflow sebesar Rp8 triliun di pasar reguler.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menjelaskan bahwa penguatan indeks ditopang oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Dari sisi global, kondisi pasar moneter relatif terjaga setelah The Fed, ECB, dan BoJ menaikkan suku bunga acuan. The Fed menaikkan suku bunganya ke kisaran 3,75-4,00 persen. Sementara itu, data tenaga kerja Amerika Serikat yang masih kuat turut menopang penguatan dolar AS.
Dari dalam negeri, kebijakan suku bunga Bank Indonesia dan pergerakan rupiah menjadi faktor yang dicermati pelaku pasar. BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan inflasi. Sayangnya, pada penutupan Senin, rupiah justru melemah 0,2 persen ke level Rp18.127 per dolar AS.
Rekomendasi Analis dan Level Kunci
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai bahwa selama indeks harga saham gabungan bertahan di atas level 5.350, indeks berpeluang melanjutkan kenaikan hingga 5.500 dalam jangka pendek. Ia memproyeksikan IHSG bergerak pada level support 5.350-5.400 dan resistance 5.500-5.550.
Senada, riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menyebutkan bahwa secara teknikal IHSG berhasil kembali ditutup positif. Jika mampu bertahan di atas 5.424, indeks berpotensi menuju resistance 5.520 dan 5.607-5.631. Namun, bila terjadi profit taking dan indeks gagal bertahan, IHSG berisiko kembali ke level 5.328 hingga support 5.278/5.185.
Untuk perdagangan hari ini, BNI Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham pilihan, antara lain:
- PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET)
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS)
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA)
- PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA)
Sementara itu, IPOT merekomendasikan UNTR, BDMN, PGEO, serta reksa dana Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD) sebagai alternatif investasi bagi investor yang ingin lebih selektif.
Tekanan di Penutupan dan Proyeksi Selasa
Harapan penguatan ternyata tidak sepenuhnya terwujud hingga akhir sesi. Indeks harga saham gabungan ditutup melemah 1,22 persen ke level 5.373. Seluruh sektor kompak melemah, dengan pelemahan terbesar terjadi pada sektor infrastruktur, teknologi, dan energi. Kenaikan harga minyak serta depresiasi rupiah menjadi pendorong utama koreksi setelah indeks rally beberapa hari sebelumnya.
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 5.280-5.450 pada perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026. Sementara MNC Sekuritas memproyeksikan koreksi jangka pendek berlanjut ke 5.181-5.325, dengan peluang penguatan terbuka ke area 5.460-5.651. MNC Sekuritas pun merekomendasikan saham DOOH, MBMA, MINA, TLKM, dan XPFT untuk trading.
Di sisi lain, kebijakan buyback saham tanpa RUPS yang diperpanjang hingga Juni 2027 menjadi angin segar bagi emiten. Kebijakan ini dinilai dapat mendorong perusahaan untuk melakukan pembelian kembali saham tanpa harus menunggu persetujuan rapat umum pemegang saham, sehingga berpotensi menopang harga saham di tengah volatilitas pasar.
Secara keseluruhan, pergerakan indeks harga saham gabungan pada awal pekan ini mencerminkan dinamika pasar yang penuh tantangan. Di satu sisi, momentum penguatan masih terbuka selama level support terjaga. Di sisi lain, tekanan eksternal berupa kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, dan aksi jual asing menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Investor disarankan tetap berhati-hati, menerapkan strategi buy on weakness secara selektif, serta menunggu konfirmasi lanjutan sebelum melakukan akumulasi lebih agresif. Dengan mencermati level kunci dan rekomendasi analis, pelaku pasar dapat menyusun portofolio yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.
