Juventus F.C. Menang di Lecce, tapi Bayang-Bayang Kritik Masih Menghantui Si Nyonya Tua
Inforiau – 27 Oktober 2026 | Kemenangan 2-0 atas Lecce pada akhir pekan lalu menjadi oase bagi Juventus F.C. di tengah gurun tekanan yang tak kunjung surut. Setelah dua pertandingan beruntun tanpa kemenangan, tim berjuluk Bianconeri itu akhirnya kembali ke jalur kemenangan berkat dwigol yang tercipta hanya dalam sepuluh menit di babak pertama. Hasil ini sekaligus mengakhiri penantian panjang selama 35 hari bagi Juventus F.C. untuk merasakan tiga poin penuh di ajang liga, sekaligus mengangkat mereka ke posisi ketujuh dengan koleksi 14 poin.
Namun, di balik angka di papan skor, performa Juventus F.C. masih menyisakan pertanyaan besar. Babak pertama memang tampil meyakinkan, tetapi babak kedua memperlihatkan sisi rapuh tim dengan sejumlah kelalaian di lini belakang yang nyaris berbuah petaka. Kemenangan ini pun tak serta-merta meredam kritik yang datang dari berbagai arah, termasuk dari mantan pemain dan pengamat sepak bola Italia.
McKennie dan Douglas Luiz Jadi Sorotan Positif
Salah satu berkah tersembunyi dari laga di Lecce adalah penampilan apik duet gelandang Weston McKennie dan Douglas Luiz. Keduanya menjadi motor permainan di lini tengah dan menyumbang masing-masing satu gol. Jurnalis Italia, Maurizio Pistocchi, menilai penampilan keduanya sebagai titik terang yang layak diapresiasi.
“Dengan dua gol dalam sepuluh menit, Juventus menang di Lecce dan membawa pulang tiga poin. Bianconeri meyakinkan di babak pertama, bukan hanya karena dua gol itu, tetapi kurang begitu di babak kedua, dengan beberapa kelalaian pertahanan yang bisa merugikan mereka,” ujar Pistocchi.
Ia secara khusus memuji McKennie yang dinilai selalu siap terlibat dalam permainan, serta Douglas Luiz yang disebut tampil sebagai yang terbaik, bukan hanya karena golnya. Meski demikian, Pistocchi menyoroti masalah mendasar: Juventus F.C. masih minim pemain yang benar-benar berkarakter sebagai gelandang nomor delapan murni. Keterbatasan individual, menurutnya, hanya bisa diatasi jika tim berkembang secara kolektif.
Boniek: Bukan Tim Juara, Hanya Pemain Bagus
Kritik yang lebih tajam datang dari legenda Juventus, Zbigniew Boniek. Mantan penyerang asal Polandia itu menilai Si Nyonya Tua kini berada dalam situasi yang rumit dan tak lagi layak disebut sebagai kandidat juara Serie A.
“Ketika saya menonton Juventus, saya tidak melihat tim berisi para juara, hanya pemain-pemain bagus. Dan itu yang membuat perbedaan,” kata Boniek dalam wawancaranya dengan Radio Anch’io Sport.
Boniek juga menepis anggapan bahwa kemenangan atas Lecce menunjukkan dominasi. Menurutnya, gol pertama lahir dari situasi bola mati yang sedikit beruntung, ketika kiper terkecoh oleh McKennie. Ia menegaskan bahwa Juventus F.C. saat ini bukanlah pesaing utama gelar scudetto, dan hal itu terlihat dari cara mereka menderita di kompetisi Eropa. Ia bahkan menyindir gaya bicara pelatih Luciano Spalletti yang dinilai terlalu rumit untuk dipahami.
Pernyataan Boniek menambah lapisan ironi mengingat hubungannya dengan klub yang pernah berlangsung hangat, namun sempat memanas sejak era Calciopoli. Pada 2010, ia sempat terpilih menerima bintang di Juventus Stadium, tetapi penghargaan itu dibatalkan setelah protes dari kelompok suporter, dan posisinya digantikan Edgar Davids.
Tekanan di Kursi Pelatih dan Agenda Berikutnya
Situasi di sekitar Juventus F.C. semakin rumit dengan dinamika di kursi pelatih. Tekanan terhadap Spalletti tak bisa dilepaskan dari kebutuhan klub akan stabilitas jangka panjang. Di sisi lain, kabar dari kompetisi domestik menyebutkan bahwa Massimiliano Allegri terkena sanksi dua pertandingan larangan mendampingi tim serta denda sebesar 10 ribu euro akibat insiden dalam laga Napoli melawan Roma. Sanksi itu membuat Allegri dipastikan absen saat timnya menjamu Juventus F.C. di Allianz Stadium pada pekan berikutnya, sebuah pertandingan yang diprediksi berlangsung sengit.
Bagi Juventus F.C., perbaikan di lini tengah menjadi fondasi yang harus dijaga. Kombinasi McKennie dan Douglas Luiz memberi harapan bahwa tim bisa tampil lebih solid, asalkan kelalaian di lini belakang segera diperbaiki. Laga-laga mendatang akan menjadi ujian sesungguhnya, apakah kemenangan di Lecce merupakan titik balik atau sekadar kilatan sesaat di tengah musim yang penuh gejolak.
Secara keseluruhan, kemenangan atas Lecce memang penting untuk meredakan tekanan, tetapi belum cukup untuk menjawab keraguan. Juventus F.C. masih harus membuktikan bahwa mereka mampu tampil konsisten, bukan hanya mengandalkan momen-momen individual. Selama persoalan kedalaman skuad dan kualitas di lini tengah belum tuntas, kritik seperti yang dilontarkan Boniek akan terus bergema. Kini bola berada di kaki para pemain dan staf pelatih untuk membuktikan bahwa Si Nyonya Tua masih pantas diperhitungkan di panggung tertinggi sepak bola Italia.
