Siklon Arnab Guncang Dua Benua: Puluhan Ribu Warga India Dievakuasi, Nepal Siaga Longsor, Indonesia Diminta Tenang
Inforiau – 27 Oktober 2026 | Kemunculan siklon dahsyat bernama Arnab di atas perairan Teluk Benggala telah memicu gelombang evakuasi besar-besaran di pesisir timur India, sekaligus menebar kewaspadaan hingga ke dataran tinggi Himalaya. Badan Meteorologi India melaporkan bahwa siklon tersebut terus menguat sejak Senin dan diperkirakan mencapai daratan di negara bagian Andhra Pradesh pada Rabu pagi, membawa angin kencang serta hujan deras ke sejumlah wilayah, termasuk negara bagian tetangga, Odisha.
Hingga Senin malam, hampir 50.000 orang telah dipindahkan dari kawasan rawan ke tempat penampungan sementara. Direktur Pelaksana Otoritas Manajemen Bencana Negara Bagian Andhra Pradesh, Prakhar Jain, menyatakan bahwa proses evakuasi masih terus berlangsung dan menargetkan sekitar 400.000 orang yang dinilai perlu diselamatkan dari jalur lintasan badai.
“Proses evakuasi masih berjalan dan kami terus menambah titik penampungan seiring mendekatnya badai,” ujarnya saat dihubungi awak media.
Dampak siklon ini juga merambat ke sektor transportasi. Otoritas perkeretaapian regional membatalkan sedikitnya 12 perjalanan kereta di wilayah timur India, sementara layanan kereta pada 53 rute di sepanjang pesisir selatan dihentikan sementara pada Selasa dan Rabu. Rekaman televisi memperlihatkan ombak besar menghantam pantai yang telah dikosongkan, dengan toko-toko di sepanjang jalan tutup sejak pagi.
Di Odisha, Komisaris Khusus Penanggulangan Bencana, Rajesh Prabhakar Patil, menyebut pihaknya belum melakukan evakuasi massal, namun pemerintah setempat telah menutup sekolah dan perguruan tinggi di lima distrik. Larangan melaut bagi nelayan serta penyiagaan tim penyelamat juga diberlakukan sebagai langkah antisipasi.
Langkah serupa diambil Sri Lanka yang menutup seluruh sekolah sebagai tindakan pencegahan, sementara Pemerintah Kepulauan Andaman dan Nikobar menghentikan kegiatan belajar selama dua hari. Teluk Benggala memang dikenal sebagai salah satu kawasan utama pembentukan siklon tropis di dunia, membuat pesisir timur India langka dari ancaman cuaca ekstrem yang berkaitan dengan laut.
Nepal Waspadai Longsor dan Badai Salju
Di negara tetangga, Nepal, otoritas meteorologi memperingatkan wisatawan agar tidak bepergian ke daerah dataran tinggi. Kekhawatiran muncul karena siklon Arnab berpotensi memicu hujan deras, badai salju, dan longsor di wilayah Himalaya mulai Kamis malam hingga Sabtu. Risiko ini datang saat Nepal baru mulai pulih dari bencana banjir bandang mematikan pada Agustus yang menelan sekitar 1.500 korban jiwa.
Indonesia: Tidak Ada Dampak Langsung, Namun Tetap Waspada
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa siklon Tropis Arnab bergerak menjauhi perairan Nusantara sehingga tidak memberikan dampak signifikan terhadap cuaca dan gelombang laut di Indonesia. Berdasarkan analisis pada Selasa pukul 07.00 WIB, sistem badai berada di koordinat 15,9 derajat Lintang Utara dan 86,0 derajat Bujur Timur dengan kecepatan angin maksimum 65 knot atau sekitar 120 kilometer per jam dan tekanan udara minimum 985 hPa.
“Dalam 24 jam ke depan, siklon tropis ini diprakirakan bergerak ke arah barat laut dengan intensitas yang berpotensi meningkat hingga 70 knot,” kata Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani.
Meski demikian, hujan ekstrem yang mengguyur Aceh dan Sumatera Utara dalam tiga hari terakhir dipastikan bukan akibat badai tersebut. Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan curah hujan harian tertinggi mencapai 187 milimeter di Pos Hujan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, serta 103 milimeter di Labuhanbatu Utara. Cuaca ekstrem itu lebih dipengaruhi sirkulasi siklonik di Laut Andaman, aktivitas Madden-Julian Oscillation, dan Gelombang Rossby Ekuatorial.
Kendati begitu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tetap meminta warga Aceh dan Sumatera Utara waspada terhadap potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang. Bibit siklon tropis 98B di Teluk Benggala disebut mendukung pertumbuhan awan konvektif yang dapat memicu banjir, banjir bandang, serta tanah longsor. Masyarakat pesisir dan nelayan diminta memantau kondisi gelombang sebelum melaut, sementara warga di lereng perbukitan diminta berhati-hati saat hujan berlangsung lama.
Peringatan ini menjadi penting mengingat banjir bandang yang melanda tiga provinsi di Sumatera bagian utara pada November 2025 mengakibatkan 1.189 korban jiwa, dengan 550 korban dari Aceh, 375 dari Sumatera Utara, dan 231 dari Sumatera Barat, serta 141 orang hilang dan 195.542 jiwa mengungsi.
Dengan pergerakan siklon Arnab yang terus dipantau lintas negara, otoritas di India, Nepal, Sri Lanka, dan Indonesia menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas utama. Evakuasi dini, penutupan sekolah, pembatalan perjalanan, serta peringatan dini cuaca menjadi kunci untuk menekan risiko korban jiwa. Bagi masyarakat Indonesia, kewaspadaan tetap diperlukan meski badai menjauh, terutama terhadap dinamika atmosfer lokal yang kerap memicu hujan ekstrem di wilayah utara Sumatera.
