Peta Baru Gas Dunia: Dari Kebangkitan Gas Malaysia hingga Biomethane Pertamina
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Industri gas global tengah memasuki babak baru yang penuh dinamika. Di tengah fluktuasi harga dan transisi energi, sejumlah negara dan perusahaan berupaya memperkuat posisi mereka dalam rantai pasok gas. Mulai dari Malaysia yang bersiap menikmati pemulihan laba, Amerika Serikat yang menghadapi tekanan inflasi, hingga Indonesia yang mengembangkan sumber gas alternatif dari limbah sawit, semuanya menunjukkan bahwa gas tetap menjadi komoditas strategis yang diperebutkan.
Gas Malaysia Bhd, perusahaan pengirim gas terbesar di Semenanjung Malaysia dengan pangsa pasar 83% per Juni 2026, diprediksi akan mengalami pemulihan laba pada tahun depan. Analis dari UOB Kay Hian Research menaikkan peringkat saham perusahaan ini menjadi ‘beli’ seiring dengan prospek harga gas alam yang lebih tinggi dan potensi liberalisasi pasar pasokan gas nasional. Langkah tersebut dinilai akan membuka peluang pertumbuhan baru bagi perseroan.
Menariknya, Gas Malaysia juga disebut memiliki peluang besar dari transisi energi Malaysia. Pemerintah menargetkan pembangunan lebih dari delapan gigawatt kapasitas pembangkit listrik berbahan bakar gas baru hingga tahun 2031. Selain itu, liberalisasi rantai pasok gas di sektor kelistrikan memungkinkan pembangkit listrik untuk mengamankan pasokan gas secara mandiri, tidak lagi bergantung sepenuhnya pada perusahaan pengirim seperti Gas Malaysia.
UOB Kay Hian Research juga menyoroti potensi bisnis co-generation off-grid. Operator pusat data yang ingin mengamankan pasokan listrik sendiri disebut dapat menjadi pasar baru bagi Gas Malaysia. Perusahaan ini telah memiliki pengalaman mengoperasikan pabrik co-generation di Penang, sehingga dianggap siap memanfaatkan peluang tersebut. Tak hanya itu, proyeksi menunjukkan bahwa gas alam akan menyumbang 56% dari total pasokan energi primer Malaysia pada tahun 2050, naik dari 47% pada semester pertama tahun fiskal 2026.
Proyek terminal regasifikasi Yan (RGT Yan) di Kedah dengan kapasitas rencana 500 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd) dijadwalkan mulai beroperasi komersial pada kuartal pertama 2031. Analis memperkirakan hingga 90% kapasitasnya telah diamankan, dan proyek ini berpotensi meningkatkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (Ebitda) sebesar 13% serta memberikan nilai ekuitas sekitar RM0,58 per saham.
Sementara itu, di Amerika Serikat, kepercayaan konsumen pada Oktober naik 7,5 poin menjadi 91,7 dari 84,2 pada September, seiring dengan penurunan moderat harga bensin. Meski demikian, harga bahan bakar masih jauh lebih mahal dibandingkan tahun lalu. Menurut auto club AAA, harga rata-rata bensin reguler per galon pada Selasa adalah US$4,27, turun dari US$4,48 sebulan sebelumnya, namun masih di atas US$3,05 pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan indeks kepercayaan konsumen ini terjadi di tengah inflasi yang masih tinggi. Laporan pemerintah awal bulan ini menunjukkan inflasi konsumen naik 3,7% pada September secara tahunan, dari 3,4% pada Agustus. Secara bulanan, biaya naik 0,6% dari Agustus ke September, kenaikan terbesar dalam lima bulan. Meskipun ada perbaikan, jawaban tertulis dalam survei Conference Board yang dikumpulkan antara 1-21 Oktober masih menunjukkan pesimisme, dengan seringnya menyebut mahalnya energi, barang, dan jasa.
Di sisi lain, kawasan ASEAN menghadapi tantangan defisit gas. Proyeksi dalam forum 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) di Denpasar, Bali, menunjukkan bahwa ASEAN diperkirakan menjadi pengimpor bersih gas setelah tahun 2032. Untuk itu, negara-negara di kawasan perlu mencari sumber pasokan alternatif guna memperkuat ketahanan energi. PT Pertamina (Persero) melihat peluang dari pemanfaatan limbah cair kelapa sawit (POME) yang berpotensi menghasilkan lebih dari 200 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD) dalam bentuk biomethane.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menyatakan bahwa pengembangan sumber gas alternatif menjadi salah satu upaya yang perlu dipersiapkan untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan energi di Asia Tenggara. “Kita mendiskusikan bagaimana menangkap metana yang keluar dari limbah-limbah cair yang ada di Indonesia dan juga di negara lain. Sebagai contoh, untuk limbah cair ini di Indonesia saja kita punya potensi lebih dari 200 MMSCFD potensi biomethane yang bisa kita monetisasi,” ujarnya dalam forum tersebut.
Oki menambahkan bahwa kerja sama investasi antarnegara diperlukan untuk memperkuat produksi dan menjaga ketersediaan pasokan energi dalam jangka panjang. Di Indonesia, limbah cair dari industri kelapa sawit menjadi salah satu sumber yang berpotensi dimanfaatkan untuk menghasilkan biomethane melalui proses pengolahan dan pemurnian biogas. Namun, realisasi potensi ini bergantung pada kesiapan teknologi, keekonomian proyek, infrastruktur distribusi, serta kepastian pasar.
Direktur Utama Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), John Anis, mengungkapkan bahwa Pertamina mulai mengembangkan peluang komersialisasi biomethane melalui kerja sama dengan Singapore LNG Corporation (SLNG). Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengolah POME dari pabrik kelapa sawit menjadi biometana yang selanjutnya dapat diproses menjadi bio-liquefied natural gas (Bio-LNG).
Dari gambaran tersebut, terlihat bahwa gas tetap menjadi tulang punggung energi di banyak negara, baik sebagai bahan bakar pembangkit listrik maupun sebagai sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Malaysia dan Indonesia sama-sama berupaya memperkuat posisi mereka di pasar gas regional, sementara Amerika Serikat masih bergulat dengan dampak harga gas terhadap perekonomian. Ke depan, diversifikasi sumber gas dan inovasi teknologi akan menjadi kunci ketahanan energi di kawasan Asia Tenggara dan dunia.
