Langit Indonesia Dikepung Operasi Modifikasi Cuaca: 9 Pesawat Tempur Api Hingga Semburan Garam Redam Polusi Jakarta
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Operasi modifikasi cuaca berskala besar tengah menggempur langit Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengerahkan sembilan pesawat untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang melanda Kalimantan serta Sumatra, sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menjalankan operasi serupa guna membasuh polusi udara ibu kota. Langkah ini menandai salah satu pengerahan modifikasi cuaca terbesar yang pernah dilakukan dalam penanganan bencana lingkungan di Tanah Air.
Ketua BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan bahwa operasi tahun ini merupakan salah satu yang terbesar. Sembilan pesawat beroperasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, sedangkan enam pesawat lainnya dikerahkan di Sumatra Selatan. Armada yang digunakan mencakup pesawat Hercules CN-295 serta pesawat milik Tentara Nasional Indonesia (TNI).
“Ada sembilan pesawat yang aktif di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, kemudian enam pesawat di Sumatera Selatan. Harapannya, minggu ini adalah periode basah, jadi ada potensi hujan,” kata Faisal di Jakarta.
Dalam pelaksanaannya, modifikasi cuaca dilakukan dengan kombinasi es kering (dry ice) dan natrium klorida (NaCl) untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah yang terbakar. Faisal menyoroti tingginya tingkat kebakaran di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah. Potensi pertumbuhan awan di Kalimantan Tengah diperkirakan tinggi mulai 26 Oktober hingga lima hari ke depan, sementara di Sumatra Selatan potensi serupa muncul mulai 27 Oktober.
Dukungan logistik pun mengalir deras. Jajaran TNI mengerahkan pesawat Hercules C-130 untuk mengirim kebutuhan operasi ke Banjarmasin. Dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, dua pesawat angkut membawa total 9,5 ton logistik berupa dry ice dan NaCl. Pesawat Hercules A-1339 mengangkut 2.295 kilogram dry ice dalam dua sorti, sedangkan Hercules A-1344 membawa 2.286 kilogram dry ice serta 5.000 kilogram NaCl dalam dua sorti penerbangan.
“Dry ice dan NaCl itu akan diolah dan disebarkan ke langit menggunakan pesawat milik TNI AU dan instansi terkait,” ujar Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayjen TNI Muhammad Nas. Ia memastikan pesawat angkut TNI selalu disiagakan untuk operasi pemadaman karhutla di seluruh wilayah Indonesia.
Hasilnya mulai terasa. Hujan yang mengguyur Kota Palangka Raya selama dua hari berturut-turut berhasil menekan ancaman kabut asap. Prakirawan BMKG Neng Arini menjelaskan, turunnya hujan merupakan buah sinergi dinamika atmosfer dengan Operasi Modifikasi Cuaca yang melibatkan BMKG, BNPB, TNI, dan Kementerian Kehutanan.
“Secara meteorologis, OMC tidak dapat menciptakan hujan dari udara kering tanpa keberadaan awan pembawa air. Ketika dinamika atmosfer menyediakan pasokan uap air dan bibit awan potensial, penyemaian awan dilakukan untuk mempercepat proses mikrofisika awan sehingga presipitasi turun lebih optimal,” jelas Neng Arini.
BMKG memprediksi Palangka Raya memasuki awal musim hujan pada Dasarian III Oktober, sementara wilayah Kalimantan Tengah lainnya baru akan memasuki musim hujan pada Dasarian III November. Penetapan resmi musim hujan tetap memerlukan verifikasi data curah hujan di atas 150 milimeter dalam tiga dasarian berturut-turut.
Sementara itu, di Jakarta, BPBD DKI menjalankan modifikasi cuaca selama sepekan penuh, 21 hingga 28 Oktober 2026, dari posko udara di Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat menyebut operasi ini menyasar penurunan angka polusi sekaligus memancing hujan.
“Saat ini, kami menggunakan NaCl sebagai bahan semai untuk bisa menurunkan hujan dan mengurangi polusi,” kata Maruli. Penyemaian tidak dilakukan sembarangan, melainkan memperhitungkan arah angin dan pergerakan awan potensial menuju Jakarta. Jika radar mendeteksi tidak ada bibit awan hujan, penyemaian dibatalkan.
Di sisi lain, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengkaji efektivitas penggunaan dry ice dalam operasi modifikasi cuaca. Kepala BRIN Arif Satria menyatakan pengujian juga menyasar inovasi berbasis material berukuran dua mikron. Koordinasi dengan TNI AU telah dilakukan dan personel serta peralatan disiapkan, melibatkan BRIN, TNI AU, BNPB, BMKG, dan Kementerian Perhubungan.
“Dry ice sudah digunakan di lapangan. Kami juga ingin mengkaji efektivitasnya seperti apa,” ujar Arif di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Meski demikian, modifikasi cuaca bukanlah solusi jangka panjang. Keberhasilan operasi sangat bergantung pada kondisi cuaca dan efektivitas teknik yang diterapkan. Kebakaran hutan yang berulang, terlebih di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, menuntut strategi pengelolaan hutan dan lahan yang berkelanjutan serta langkah pencegahan yang lebih proaktif dari masyarakat dan pihak berwenang.
Dengan pengerahan armada besar, kombinasi teknologi penyemaian awan, dan koordinasi lintas lembaga, modifikasi cuaca menjadi ikhtiar darurat untuk meredakan krisis lingkungan. Namun, tanpa perbaikan tata kelola lahan dan kesadaran kolektif, langit yang disemai hujan buatan hanya akan menjadi penawar sementara bagi persoalan yang jauh lebih mendasar.
