Arsenal Tersingkir! Kartu Merah Dowman dan Reaksi Arteta Jadi Sorotan
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Kejutan besar terjadi di ajang Carabao Cup ketika arsenal harus tersingkir secara dramatis oleh Fleetwood Town, tim yang berada 84 peringkat di bawah mereka dalam piramida sepak bola Inggris. Kekalahan melalui adu penalti 3-5 setelah bermain imbang 1-1 di waktu normal ini bukan hanya menjadi salah satu kejutan terbesar dalam sejarah kompetisi, tetapi juga membuka diskusi panas mengenai kartu merah remaja 16 tahun, Max Dowman, serta reaksi manajer Mikel Arteta terhadapnya.
Laga yang digelar di Highbury Stadium itu berjalan di luar dugaan. Fleetwood, yang saat itu berada di posisi ke-18 League Two, justru unggul lebih dulu melalui gol Aaron Loupalo-Bi pada menit ke-21. Arsenal mendominasi penguasaan bola hingga 78 persen dan melepaskan 26 tembakan, namun hanya mampu menyamakan kedudukan lewat Viktor Gyokeres setelah jeda. Peluang demi peluang terbuang, dengan Kai Havertz menjadi salah satu yang paling banyak menyia-nyiakan kesempatan emas.
Petaka bagi arsenal datang pada menit ke-86. Dowman, yang tampil sebagai starter kedua musim ini, terlibat benturan dengan bek Fleetwood, Harrison Neal. Meski tidak sepenuhnya menendang, gerakan kakinya ke arah lawan membuat wasit Michael Salisbury memberikan kartu merah langsung atas tuduhan melakukan kekerasan. Ini menjadi kartu merah keduanya bagi Dowman dalam sebulan terakhir, setelah sebelumnya juga diusir saat membela Timnas Inggris U19.
Momen paling disorot terjadi saat Dowman meninggalkan lapangan. Arteta terlihat mencondongkan tubuh dan melontarkan sesuatu kepada sang remaja saat melewatinya menuju terowongan. Sikap pelatih asal Spanyol itu langsung menuai kritik dari sejumlah pengamat. Legenda Arsenal, Paul Merson, menilai Arteta seharusnya merangkul pemain muda tersebut alih-alih menegurnya di tengah situasi sulit.
“Kalau itu Gyokeres, pemain internasional berpengalaman, dia tidak akan melakukan itu, tapi dia melakukannya pada anak berusia 16 tahun? Dia bukan orang terakhir yang mendapat kartu merah untuk Arsenal, juga bukan yang pertama. Kalau saya, saya akan merangkulnya,” ujar Merson. Senada dengan itu, mantan pemain Jobi McAnuff menyebut reaksi Arteta tidak tepat, mengingat Dowman masih sangat muda dan berpotensi menjadi masa depan arsenal.
Arteta sendiri enggan mengungkapkan secara detail apa yang ia katakan. “Itu sesuatu yang sudah kami diskusikan sebelum pertandingan,” ujarnya singkat. Ia juga menegaskan bahwa keputusan wasit sudah final dan tidak ingin berkomentar lebih jauh soal insiden tersebut. Meski begitu, ia mengakui bahwa timnya seharusnya memanfaatkan banyaknya peluang untuk memperbesar margin kemenangan.
“Pertama-tama, selamat kepada Fleetwood yang lolos ke babak berikutnya. Hari yang sangat menyedihkan bagi kami. Saya tidak bisa menyalahkan sikap para pemain sama sekali, tetapi kami punya banyak bola, banyak peluang, dan banyak tembakan. Jika ingin margin lebih besar dari adu penalti, kami harus memaksimalkannya,” jelas Arteta.
Di kubu seberang, euforia tak terbendung. Manajer Fleetwood, Matt Lawlor, menyebut kemenangan ini sebagai momen yang sangat emosional dan bersejarah bagi klub. Ribuan pendukung tumpah ke lapangan untuk merayakan keberhasilan tim berjuluk Cod Army itu melangkah ke perempat final Piala Liga untuk pertama kalinya.
“Ini yang Anda hidupi sebagai penggemar sepak bola. Bisa menjadi bagian dari momen ini sungguh luar biasa, terutama bagi para penggemar Fleetwood,” kata Lawlor sambil menahan haru. Kiper Jay Lynch menjadi pahlawan lewat penyelamatannya atas penalti Bruno Guimaraes, sebelum Conor Haughey mencetak penalti penentu kemenangan.
Bagi arsenal, kekalahan ini menjadi pukulan telak sekaligus ujian karakter bagi para pemain mudanya. Insiden Dowman memunculkan perdebatan tentang bagaimana seharusnya seorang pelatih membimbing talenta muda yang masih rentan secara emosional. Kekalahan dari tim yang berada 84 tingkat di bawah mereka menegaskan bahwa dalam sepak bola, dominasi statistik tak selalu berbanding lurus dengan hasil akhir. Kini Arsenal harus segera bangkit dan mengalihkan fokus ke kompetisi lain, sementara Fleetwood menikmati salah satu malam paling bersejarah dalam sejarah klub mereka.
