Antonio Conte Bukan Solusi? Manchester United Diingatkan soal Risiko dan Rekam Jejak
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Nama Antonio Conte kembali mencuat sebagai kandidat pengganti Michael Carrick di kursi pelatih Manchester United. Tekanan terhadap Carrick kian memuncak setelah serangkaian hasil buruk, termasuk kekalahan telak 0-3 dari Bournemouth di Old Trafford. Meski demikian, muncul peringatan keras dari mantan staf pelatih United, Rene Meulensteen, yang menilai bahwa Antonio Conte bukanlah sosok yang tepat untuk membangun kembali fondasi tim yang sedang terpuruk.
Meulensteen, yang pernah menjadi tangan kanan Sir Alex Ferguson, secara terbuka menolak ide penunjukan Conte. Menurutnya, meski pelatih asal Italia itu bisa memberikan efek kejutan instan, dampaknya tidak akan bertahan lama. “Saya sudah dengar tentang nama yang diperbincangkan, dan saya tidak mendukung penunjukan itu sama sekali,” ujar Meulensteen. “Saya kira itu mungkin akan mendapat sedikit peningkatan, tapi setelahnya akan jatuh dengan sangat-sangat cepat mengingat cara Conte menjalankan pekerjaannya.”
Kritik Meulensteen tidak berhenti pada sosok Conte. Ia menyoroti masalah struktural yang lebih dalam di Old Trafford, yakni kontrol berlebihan dari jajaran pemilik klub. Menurutnya, pergantian manajer hanyalah solusi permukaan jika pemilik tetap enggan mengubah cara mereka mengelola klub. “Masalahnya adalah pemilik klub telah mengendalikan Manchester United sepenuhnya. Itulah masalahnya dan mereka tidak bisa keluar dari situ,” tegasnya.
Senada dengan itu, komentar legendaris Sir Alex Ferguson dua tahun lalu seolah menjadi ramalan mengapa Antonio Conte sulit beradaptasi dengan struktur klub modern. Ferguson menegaskan bahwa peran manajer yang mengendalikan segala aspek klub sudah tidak relevan lagi. “Peran manajer [segalanya] sudah hilang sekarang. Penting untuk memiliki kepribadian dan keterampilan komunikasi yang baik, serta kemampuan organisasi yang mumpuni,” ujarnya. Conte dikenal sebagai pelatih old school yang menuntut kontrol penuh atas transfer dan menerapkan metode latihan intensitas tinggi, yang dianggap semakin asing di era sepak bola modern.
Di sisi lain, muncul argumen kontra. Sebagian pengamat justru menilai karakter Antonio Conte yang tegas dan tak kenal kompromi adalah satu-satunya harapan untuk membenahi budaya tim yang telah lama terpuruk. United mencatat awal musim terburuk sejak 1986 dengan hanya meraih satu kemenangan dari delapan laga liga dan kini berada di posisi 16, hanya unggul satu poin dari zona degradasi. Kekalahan dari Como dan Bournemouth memperlihatkan rapuhnya mentalitas skuad. Conte, yang memiliki rekam jejak gelar bersama Juventus, Inter Milan, Chelsea, dan Napoli, dianggap mampu mendisiplinkan pemain yang tampak sudah tidak lagi berjuang untuk Carrick.
Hingga saat ini, belum ada kontak resmi dari pihak Manchester United kepada Antonio Conte. Pelatih berusia 57 tahun itu masih berstatus tanpa klub setelah meninggalkan Napoli pada musim panas. Ia sempat menyatakan ketertarikannya untuk melatih klub yang “kehilangan jati diri historisnya” dan ingin mengembalikan kejayaan tersebut. Namun, laporan menyebut bahwa manajemen United belum menghubunginya secara langsung, dan mereka masih mempertimbangkan opsi lain seperti Eddie Howe dan Julian Nagelsmann.
Carrick dipastikan tetap memimpin tim saat menghadapi Chelsea pada Sabtu mendatang. Ia diberi kesempatan untuk membalikkan keadaan, meski dengan catatan bahwa kesabaran manajemen mulai menipis. Bagi United, keputusan soal Antonio Conte bukan sekadar soal nama besar, melainkan soal arah jangka panjang klub. Apakah mereka memilih pelatih bergelimang gelar namun berisiko konflik dengan struktur modern, atau tetap mencari sosok pembangun yang sesuai dengan visi baru. Yang jelas, pergantian pelatih tanpa perbaikan tata kelola klub hanya akan mengulang siklus kegagalan yang sama.
