Israel Election 2026: Netanyahu Unggul Tipis, tetapi Tanpa Mayoritas—Arab Parties Jadi Penentu?
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Hasil israel election 2026 masih menyisakan teka-teki besar. Dengan lebih dari separuh suara telah dihitung, blok yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mempertahankan keunggulan tipis, namun belum ada satu pun kubu yang berhasil mengamankan 61 kursi yang dibutuhkan untuk menguasai Knesset yang beranggotakan 120 orang. Pemilu nasional yang digelar Selasa, 27 Oktober 2026, ini menjadi pemilihan umum pertama di Israel sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, dan hasilnya justru menghadirkan kebuntuan politik yang dramatis.
Berdasarkan penghitungan suara sementara, Partai Likud milik Netanyahu diproyeksikan meraih kursi terbanyak, yakni 27 kursi, sementara partai Yashar yang dipimpin mantan Kepala Staf Militer Gadi Eisenkot menyusul dengan 21 kursi. Secara keseluruhan, blok Netanyahu diperkirakan mengantongi 55 hingga 57 kursi, sedangkan blok oposisi Eisenkot berkisar 49 hingga 50 kursi. Partai-partai Arab yang tergabung dalam Joint List dan Ra’am memegang sisa 15 hingga 16 kursi—sebuah hasil luar biasa yang menjadikan mereka sebagai blok ketiga yang berpotensi menjadi penentu arah pemerintahan berikutnya.
Partisipasi Pemilih Tinggi, Ketegangan Meningkat
Dari total 7.331.981 warga Israel yang berhak memilih, hampir 77,7 persen menyalurkan hak suaranya. Angka ini melampaui tingkat partisipasi pada pemilu 2022 yang hanya sedikit di atas 70 persen. Tingginya antusiasme mencerminkan besarnya taruhan politik dalam israel election kali ini, yang oleh banyak pihak disebut sebagai pemilu paling menentukan untuk menghentikan pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel.
Warga Arab Israel, yang mewakili seperlima populasi dan kerap mengidentifikasi diri sebagai warga negara Palestina, tampil dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketua Joint List, Yousef Jabareen, menegaskan posisi tawar komunitasnya: “Dalam skenario politik apa pun, mereka tidak bisa mengabaikan kami.”
Exit Poll Sempat Berbalik, Kubu Netanyahu Tetap Optimistis
Hasil exit poll sempat berbalik pada Selasa malam. Saluran 12 Israel memproyeksikan blok Netanyahu meraih 52 kursi dan blok Eisenkot 49 kursi, membalik tren awal yang sempat mengunggulkan oposisi. Meski demikian, sebagian besar stasiun televisi menilai persaingan terlalu ketat untuk menentukan pemenang.
Netanyahu, yang telah berusia 77 tahun, langsung menyerukan pembentukan pemerintahan “sayap kanan” yang “kuat dan bersatu”. Ia menolak keras segala bentuk pemerintahan yang didukung partai Arab Israel. Sementara itu, Eisenkot menegaskan bahwa pemilih telah menolak kepemimpinan lama dan mengklaim momentum perubahan. Namun ironisnya, Eisenkot pun hampir menutup pintu kerja sama dengan partai-partai Arab, sehingga jalannya menuju kekuasaan semakin terjal.
Mengapa Keduanya Jauh dari Mayoritas?
Sistem pemilu Israel menggunakan representasi proporsional, di mana pemilih memilih partai, bukan kandidat tunggal. Partai harus meraih minimal 3,25 persen suara nasional untuk masuk parlemen. Dengan fragmentasi politik yang tajam, tidak ada satu partai pun yang mampu berdiri sendiri. Berikut gambaran singkatnya:
- Likud (Netanyahu): 27 kursi, tulang punggung blok kanan.
- Yashar (Eisenkot): 21 kursi, penggerak utama oposisi.
- Partai Arab (Joint List & Ra’am): 15–16 kursi, pemegang kunci keseimbangan.
- Partai religius sayap kanan (Ben-Gvir & Smotrich): total 13 kursi, bagian dari blok Netanyahu.
Dua partai sayap kanan religius pimpinan Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich tidak mengalami kenaikan signifikan, tetapi tetap menjadi bagian penting dari aritmetika koalisi Netanyahu. Di sisi lain, anggota Knesset dari Joint List, Ofer Cassif, menyatakan bahwa banyaknya kursi partai Arab berarti blok perubahan pimpinan Eisenkot harus segera mengambil keputusan. “Pemilu lagi hanya akan menjadi hadiah bagi Netanyahu. Bola kini ada di tangan blok perubahan,” ujarnya kepada Army Radio.
Jalan Panjang Menuju Koalisi
Penghitungan resmi diperkirakan rampung pada 30 Oktober, dengan pengumuman formal hasil pada 4 November. Setelah itu, Presiden Isaac Herzog akan berkonsultasi dengan para pemimpin partai untuk menentukan kandidat yang memiliki peluang terkuat membentuk pemerintahan. Kandidat tersebut diberi waktu 28 hari, yang dapat diperpanjang hingga 42 hari, untuk bernegosiasi membangun koalisi.
Jika gagal mengumpulkan 61 kursi, kandidat masih dapat mencoba membentuk pemerintahan minoritas dengan dukungan partai kecil, atau menegosiasikan kesepakatan rotasi jabatan perdana menteri. Situasi kebuntuan ini bisa menguntungkan Netanyahu, yang berpotensi tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara selama negosiasi panjang berlangsung—atau bahkan hingga pemilu berikutnya digelar.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan mengklaim bahwa dukungannya turut membantu posisi Netanyahu dalam israel election kali ini, menambah dimensi internasional pada peta politik yang kian rumit.
Analis mengingatkan bahwa hasil awal cenderung menguntungkan wilayah dengan dukungan sayap kanan kuat, sehingga distribusi kursi masih dapat berubah. Namun satu hal yang pasti: israel election 2026 belum menghasilkan pemenang yang jelas. Dengan partai Arab yang kini memegang kunci keseimbangan, Israel berdiri di persimpangan antara kebuntuan berkepanjangan dan peluang koalisi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Yang tersisa kini hanyalah pertanyaan: siapa yang berani merangkul blok yang selama ini diabaikan?
