Inforiau – 28 Oktober 2026 | Keputusan federal reserve system kembali menjadi magnet utama perhatian pasar keuangan dunia. Pada Rabu, 28 Oktober 2026, investor di hampir seluruh penjuru dunia memilih menahan langkah dan bersikap hati-hati menjelang pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Sikap wait-and-see ini terlihat jelas di Wall Street, pasar valuta asing, hingga bursa saham Asia, termasuk Bursa Efek Indonesia yang gagal memanfaatkan momen pencatatan perdana saham raksasa telekomunikasi Jio Platforms.
Wall Street Menanti Dua Ujian Besar
Bursa Amerika Serikat sempat mendapat angin segar pada perdagangan sebelumnya. Indeks S&P 500 naik 0,6 persen dan Nasdaq menguat 1,2 persen, memberi kelegaan setelah dua pekan tertekan. Namun, reli tersebut dinilai belum sepenuhnya meyakinkan. Kenaikan justru didorong segelintir saham teknologi berkapitalisasi besar, sementara mayoritas emiten di S&P 500 sebenarnya ditutup melemah—sinyal bahwa kondisi pasar tidak merata.
Kini Wall Street menghadapi ujian ganda. Selain menanti keputusan federal reserve system, pasar juga menunggu rilis kinerja keuangan Microsoft dan Alphabet setelah penutupan bursa. Kedua raksasa teknologi itu akan diuji apakah pertumbuhan bisnis kecerdasan artifisial mereka mampu membenarkan besarnya belanja modal yang dikeluarkan. Perhatian khusus tertuju pada pertumbuhan Azure, margin bisnis cloud, serta belanja modal Microsoft, dan pada sisi Alphabet, kinerja Google Cloud serta monetisasi AI menjadi sorotan.
Pasar obligasi turut menambah tekanan. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun masih bertengger di kisaran 5 persen, level yang membuat biaya pinjaman mahal dan valuasi saham teknologi semakin dipertanyakan.
Dolar Kokoh, Selandia Baru Kejutkan Pasar
Di pasar valuta asing, dolar Amerika Serikat bertahan di level tertinggi dua pekan. Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,3 persen ke 102,40 pada Selasa, level tertinggi sejak 14 Oktober. Euro datar di 1,1129 dolar, poundsterling stabil di 1,3307 dolar, sedangkan yen diperdagangkan melemah tipis ke 157,81 per dolar.
Kejutan datang dari Selandia Baru. Dolar Kiwi anjlok hingga 1,7 persen ke 0,5585 dolar setelah Reserve Bank of New Zealand secara tak terduga mempertahankan suku bunga di 2,75 persen. Sebanyak 22 dari 27 ekonom dalam survei sebelumnya memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga, sehingga keputusan tersebut memicu koreksi tajam. Sementara itu, dolar Australia menguat 0,1 persen ke 0,7035 dolar setelah data inflasi kuartal ketiga tercatat 1,3 persen.
Pelaku pasar memperkirakan hampir pasti federal reserve system akan mempertahankan suku bunga acuan. Alat FedWatch milik CME Group menunjukkan probabilitas 91 persen bahwa FOMC tidak mengubah kebijakan. Namun, menurut analis Pepperstone Group, Chris Weston, bank sentral tidak perlu menaikkan suku bunga untuk menggerakkan pasar—cukup dengan mengubah persepsi peluang kenaikan pada Desember.
Emas dan Perak Terkunci Menanti Arah
Pasar komoditas juga mencerminkan sikap hati-hati yang sama. Harga emas dan perak bergerak dalam rentang sempit. Di pasar internasional, kontrak emas Desember diperdagangkan di 4.058,85 dolar per ons, turun 0,39 persen, sedangkan perak Desember berada di 54,145 dolar per ons, melemah 0,67 persen.
Di dalam negeri, kontrak emas Desember di MCX diperdagangkan pada 1.43.708 rupee per 10 gram, turun 432 rupee atau 0,30 persen, dan perak Desember melemah 1.122 rupee atau 0,57 persen menjadi 1.95.601 rupee per kilogram. Analis riset independen Anuj Gupta menilai pasar bergerak dalam rentang sangat sempit karena menanti keputusan dan panduan suku bunga dari federal reserve system. Emas bertahan di atas 4.000 dolar per ons, sementara perak bertahan di zona 52–53 dolar per ons. Harapan meredanya konflik Iran serta tertahannya reli harga minyak mentah ikut menstabilkan sentimen.
Bursa Asia dan IHSG Tetap Waspada
Di Asia, sentimen justru beragam. Nikkei 225 Jepang menguat lebih dari 1 persen dan KOSPI Korea Selatan melonjak di atas 3 persen berkat antusiasme terhadap kecerdasan artifisial. Sebaliknya, pasar saham India gagal bergerak meski Jio Platforms mencatat debut gemilang di Bursa Bombay dengan harga 1.358 rupee per saham, premi 21,36 persen dari harga penawaran 1.119 rupee.
Sensex sempat anjlok hingga 995 poin dan Nifty 50 turun 252 poin sebelum memangkas kerugian. CEO Enrich Money, Ponmudi R, menyatakan pelaku pasar India cenderung berhati-hati menjelang keputusan federal reserve system, terlebih harga minyak mentah WTI masih bertahan di kisaran 100–101 dolar per barel yang memicu kekhawatiran tekanan biaya.
Bagi pasar emerging market, termasuk Indonesia, arah kebijakan federal reserve system sangat krusial. Penilaian bank sentral Amerika terhadap prospek ekonomi dan inflasi akan memengaruhi imbal hasil obligasi pemerintah AS serta nilai dolar, yang pada akhirnya menentukan aliran modal asing ke negara berkembang. Sinyal hawkish berlebihan berpotensi menekan mata uang emerging market dan memicu arus keluar dana.
Fokus Bergeser ke Konferensi Pers
Karena keputusan mempertahankan suku bunga sudah hampir pasti, perhatian pasar kini beralih ke konferensi pers Ketua Fed. Setiap petunjuk mengenai arah kebijakan Desember akan dibaca dengan cermat. Nada yang lebih hawkish berpotensi menekan kembali imbal hasil obligasi dan mengguncang saham teknologi yang valuasinya sudah tinggi. Sebaliknya, panduan yang lebih akomodatif dapat memulihkan selera risiko.
Dengan kombinasi keputusan suku bunga, rilis kinerja raksasa teknologi, serta dinamika geopolitik dan harga energi, pekan ini menjadi salah satu periode paling menentukan bagi pasar global. Investor disarankan tetap mencermati setiap pernyataan pejabat federal reserve system dan mengelola risiko dengan disiplin, karena volatilitas diperkirakan tetap tinggi hingga arah kebijakan moneter Amerika Serikat benar-benar jelas.
