Tuntutan Demo Hari Ini: Mahasiswa Kepung Bundaran HI Bawa 5 Tuntutan, Polri Siagakan Body Camera
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Jakarta, 28 Oktober 2026 — Tuntutan demo hari ini kembali menjadi sorotan publik ketika ribuan mahasiswa dari berbagai kampus dan elemen masyarakat memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, tepat pada peringatan Hari Sumpah Pemuda. Aksi bertajuk #IndonesiaSadar itu digagas Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama aliansi mahasiswa lintas kampus, dan menjadi kelanjutan dari unjuk rasa serupa di Tugu Tani pada 20 Oktober lalu. Tuntutan demo hari ini pun tak jauh berbeda: lima poin utama yang merangkum keresahan rakyat terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Massa mulai berkumpul sejak pukul 14.00 WIB. Mereka membawa spanduk dan poster yang menuntut perubahan, dengan tajuk besar “Tepati atau Pergi”. Aksi ini juga diwarnai penggunaan simbol tiga jari sebagai lambang gerakan prodemokrasi. BEM UI menegaskan bahwa demonstrasi merupakan respons kritis atas kebijakan pemerintah yang dinilai kian menjauh dari kepentingan rakyat dan kekuasaan yang seolah berjalan tanpa kendali.
Lima Tuntutan Utama yang Disuarakan
Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI 2026, Namora Siahaan, menyebut bahwa tuntutan demo hari ini telah dihimpun dari berbagai keresahan masyarakat yang selama ini tertutupi. Lima tuntutan tersebut adalah:
- Penetapan status bencana nasional untuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bencana ekologis lainnya di Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Mahasiswa menilai parameter hukum dan manfaatnya sudah jelas, namun pemerintah dinilai masih menolak mengakui.
- Pembenahan kebijakan ekonomi agar APBN lebih berpihak kepada rakyat. Mahasiswa mendesak penghentian pemborosan anggaran untuk kepentingan politik melalui program populis, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
- Penurunan biaya pendidikan serta pemerataan akses masyarakat terhadap layanan dasar.
- Reformasi hukum dan pemberantasan KKN, termasuk penghentian penyalahgunaan hukum untuk kepentingan kekuasaan. Mahasiswa menyoroti regulasi bermasalah seperti UU TNI, KUHP, dan UU P2SK.
- Perlindungan kebebasan berpendapat sebagai hak dasar warga negara.
Tuntutan demo hari ini juga disuarakan di sejumlah kota lain, seperti Yogyakarta, dengan titik aksi di gedung DPRD, depan Istana Negara, dan Nol Kilometer. Aksi di Jakarta melibatkan mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Brawijaya (UB), serta kampus lain yang masih berkoordinasi.
Polri Kedepankan Pendekatan Humanis dan Body Camera
Menjelang aksi, Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menginstruksikan seluruh personel untuk mengedepankan penanganan humanis dan menggunakan kamera dada (body-worn camera) guna menjamin akuntabilitas serta keselamatan masyarakat. “Hal ini dilakukan agar masyarakat dapat menyampaikan aspirasi secara aman dan tertib. Sebagai bagian dari penguatan akuntabilitas, Polri juga mendorong penguatan kamera yang dikenakan personel atau body-worn camera dalam pelaksanaan tugas pengamanan,” ujar Suyudi di Jakarta, Selasa (27/10).
Kapolda Metro Jaya Komjen Dadang Hartanto juga memerintahkan personel bersikap humanis saat mengawal aksi. Rekayasa lalu lintas disiapkan untuk menghindari kemacetan di sekitar Bundaran HI. Sementara itu, di Makassar, demo mahasiswa di pintu 1 Universitas Hasanuddin menyebabkan kemacetan parah di Jalan Perintis Kemerdekaan. Kapolda Sulsel Irjen Muhammad Awal mengusulkan Lapangan Karebosi sebagai lokasi unjuk rasa agar tidak mengganggu lalu lintas, dan berdialog dengan warga. Di Bandung, tiga anggota polisi terluka akibat serangan sekelompok orang setelah mengamankan unjuk rasa, dan penyelidikan sedang dilakukan.
Pengamat menilai tuntutan demo hari ini mencerminkan meningkatnya aspirasi publik terhadap transparansi dan keadilan. Gelombang unjuk rasa serupa juga terjadi di Eropa, seperti Prancis, Italia, dan Portugal, dengan tuntutan biaya hidup dan krisis perumahan, yang diwarnai ricuh dan penangkapan. Namun di Jakarta, Polri berkomitmen menjaga aksi berjalan damai.
Kesimpulan
Tuntutan demo hari ini menjadi cermin nyata bahwa suara rakyat, terutama mahasiswa, masih menjadi kekuatan moral dalam mengawal kebijakan pemerintah. Lima tuntutan yang disuarakan—dari status bencana nasional hingga perlindungan kebebasan berpendapat—menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan panggilan untuk perbaikan. Dengan pendekatan humanis dan pengawasan body camera, diharapkan penyampaian aspirasi berjalan aman dan tertib, serta pemerintah merespons tuntutan demo hari ini dengan langkah nyata.
Editor: Abuzar Samad
