Demo Mahasiswa 28 Oktober 2026: Dari Solo hingga Jakarta, Tujuh Tuntutan yang Mengguncang Panggung Nasional
Inforiau – 29 Oktober 2026 | Gelombang demo mahasiswa kembali mengguncang sejumlah kota besar di Indonesia pada Rabu, 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Aksi yang berlangsung dari pagi hingga malam hari itu tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga merambat ke Solo, Yogyakarta, dan Sukabumi. Ribuan mahasiswa bersama elemen masyarakat sipil turun ke jalan menyuarakan keresahan atas kebijakan pemerintah yang dinilai belum berpihak kepada rakyat kecil.
Di Jakarta, ratusan mahasiswa dari berbagai universitas dan organisasi nirlaba memadati Jalan MH Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman, dua ruas jalan utama tersibuk di ibu kota. Mereka membawa spanduk yang mengkritik kebijakan Presiden Prabowo Subianto, seraya menuntut penanganan serius terhadap kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Hingga malam, massa masih bertahan di bawah guyuran hujan dan terus menekan barikade pengamanan yang dijaga ketat personel gabungan.
Tujuh Tuntutan Massa Aksi
Aksi demo mahasiswa kali ini merumuskan sejumlah tuntutan utama yang disampaikan kepada pemerintah pusat. Di Solo, massa yang tergabung dalam elemen mahasiswa Soloraya dan masyarakat sipil membawa tujuh tuntutan, mulai dari penetapan karhutla sebagai bencana nasional, penurunan biaya pendidikan, hingga penghentian konflik agraria dan eksploitasi alam. Sementara di Jakarta, penyelenggara merangkum lima tuntutan utama yang secara garis besar mencakup:
- Menetapkan karhutla sebagai bencana nasional sekaligus meminta pertanggungjawaban perusahaan yang terkait dengan kebakaran.
- Mengalihkan anggaran publik untuk memenuhi kebutuhan rakyat.
- Menurunkan biaya pendidikan agar lebih terjangkau.
- Memberantas korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
- Melindungi kebebasan sipil dan hak asasi manusia.
Yoga Azka Nugraha, perwakilan massa aksi mahasiswa Soloraya, menegaskan bahwa salah satu poin krusial adalah penetapan karhutla sebagai bencana nasional. Menurutnya, persoalan lingkungan tersebut telah menimbulkan dampak luas bagi masyarakat, terutama kabut asap yang membahayakan kesehatan.
Dari Ngarsopuro hingga Bundaran Gladag
Di Solo, demo mahasiswa diawali di perempatan Ngarsopuro, Jalan Slamet Riyadi. Massa kemudian melakukan long march sekitar dua kilometer menuju Bundaran Gladag, Kecamatan Pasar Kliwon. Sepanjang perjalanan, mereka membawa spanduk dan berbagai atribut demonstrasi. Setibanya di Gladag, sejumlah peserta terlihat menaiki monumen atau patung pahlawan Slamet Riyadi sambil membentangkan spanduk merah bertuliskan “Sadar dipalak, sadar dibakar, sadar dimiskinkan”. Mereka juga membawa spanduk bergambar Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan pemerintah. Aksi itu turut diikuti perwakilan Aliansi Jurnalis Independen dan Spek HAM yang menyuarakan persoalan kebebasan sipil.
Sementara di Sukabumi, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Sukabumi menggelar aksi di persimpangan Tugu Adipura, Jalan RE Martadinata. Aksi diwarnai kepulan asap setelah massa membakar pembatas jalan dan dedaunan sebagai bentuk protes. Perwakilan Gerakan Mahasiswa Sukabumi, Muhammad Nauval Raihan, menegaskan bahwa aksi tersebut dilandasi kajian akademis yang mendalam dan merupakan respons atas sejumlah isu nasional, terutama persoalan lingkungan dan program prioritas pemerintah yang dinilai belum memberi manfaat nyata bagi masyarakat kecil.
Sorotan Internasional dan Isu Anggaran
Gema demo mahasiswa di Jakarta rupanya menarik perhatian media internasional. Salah satu peserta, Yosafat Menteng, mahasiswa asal Kalimantan yang menjabat Ketua Dewan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Palangka Raya, datang bersama lima rekannya dari Palangka Raya untuk menyuarakan dampak kabut asap. “Kami di Kalimantan sangat mendesak pemerintah untuk menyatakan kebakaran hutan yang terjadi di Sumatra, Kalimantan, dan Papua sebagai bencana nasional,” ujarnya.
Selain isu lingkungan, massa juga menyoroti penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Program Makan Bergizi Gratis dengan anggaran Rp229 triliun tahun ini dinilai membuat belanja negara membengkak dengan mengorbankan program yang lebih penting, seperti mitigasi bencana dan pembangunan infrastruktur. Kritik juga diarahkan pada pemangkasan subsidi energi dari Rp376,8 triliun tahun ini menjadi Rp261 triliun pada tahun depan. Di sisi lain, anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana disebut telah dinaikkan menjadi Rp1,08 triliun, ditambah dana siap pakai untuk keadaan darurat sebesar Rp4,62 triliun.
Di Yogyakarta, unjuk rasa mahasiswa di depan Kantor Kepatihan sempat berujung ricuh saat aparat kepolisian membubarkan massa. Pengendara pun diimbau menghindari Jalan Malioboro untuk mengantisipasi gangguan keamanan. Aksi serupa juga berlangsung di Bundaran Gladag, Solo, pada malam hari, dengan orasi dan teatrikal yang menuntut perbaikan kinerja pemerintah.
Suara Generasi Muda di Hari Sumpah Pemuda
Rangkaian demo mahasiswa pada 28 Oktober 2026 menjadi cermin bahwa semangat Sumpah Pemuda masih hidup di kalangan generasi muda. Aksi ini merupakan kelanjutan dari unjuk rasa serupa pada 20 Oktober lalu. Melalui tuntutan yang disampaikan, mahasiswa berharap pemerintah mengambil langkah lebih tegas dalam menangani karhutla, menata anggaran secara adil, serta memastikan akses pendidikan yang terjangkau bagi seluruh rakyat.
Terlepas dari perbedaan titik aksi dan jumlah tuntutan, benang merahnya jelas: mahasiswa menuntut negara hadir dan berpihak kepada kepentingan rakyat. Pemerintah kini ditantang untuk merespons aspirasi tersebut dengan kebijakan konkret, bukan sekadar janji. Sebab, gelombang suara generasi muda yang terus menguat menandakan bahwa tuntutan perbaikan ekonomi dan keadilan lingkungan tak akan surut begitu saja.
