Suhu Surabaya Tembus 37 Derajat Celsius, Waspadai Dampak Panas Ekstrem di Sekitarnya
Inforiau – 21 Oktober 2026 | Suhu udara di Surabaya dan sekitarnya pada Rabu, 21 Oktober 2026, diprakirakan mencapai titik tertinggi hingga 37 derajat Celsius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa kondisi cuaca di wilayah Jawa Timur bagian utara didominasi cerah sepanjang hari. Panas yang menyengat ini tidak hanya terasa di Surabaya, tetapi juga meluas ke sejumlah kota penyangga seperti Gresik, Bangkalan, Sidoarjo, Lamongan, dan Mojokerto.
Berdasarkan pantauan, suhu di Surabaya bergerak antara 26 hingga 37 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan udara berkisar 30–81 persen. Sementara itu, Gresik mencatat suhu 25–35 derajat Celsius dengan kelembapan 68–91 persen. Bangkalan tidak kalah panas dengan suhu 24–37 derajat Celsius dan kelembapan 41–96 persen. Sidoarjo menjadi wilayah terpanas dengan suhu mencapai 38 derajat Celsius, diikuti Lamongan 25–36 derajat Celsius, serta Mojokerto 26–37 derajat Celsius. Kota Mojokerto dan Kota Pasuruan juga dilaporkan cerah dengan suhu yang tak jauh berbeda.
Peningkatan suhu yang signifikan ini memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan bagi warga. Paparan panas berlebihan dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan, hingga heat stroke jika tidak diantisipasi. Masyarakat diimbau untuk memperbanyak konsumsi air putih, menghindari aktivitas luar ruangan pada siang hari, dan menggunakan pelindung seperti topi serta tabir surya. Bagi pengguna kendaraan pribadi, pastikan sistem pendingin kendaraan berfungsi optimal mengingat suhu mesin juga berpotensi meningkat.
Di sisi lain, lonjakan suhu ini juga berdampak pada pola penggunaan pendingin ruangan (AC) di rumah dan perkantoran. Banyak warga yang langsung menyalakan AC dengan pengaturan suhu terendah begitu merasakan gerah. Padahal, menurut para ahli, menurunkan suhu AC hingga 16 atau 18 derajat Celsius tidak otomatis mempercepat pendinginan ruangan. Sebaliknya, AC akan bekerja lebih keras untuk mencapai target suhu yang tidak realistis, sehingga konsumsi listrik meningkat drastis. Disarankan untuk mengatur suhu AC pada kisaran 24–26 derajat Celsius, menutup rapat pintu dan jendela, serta memastikan tidak ada celah udara panas yang masuk.
Tak hanya manusia, hewan peliharaan seperti kura-kura juga rentan terhadap perubahan suhu ekstrem. Kura-kura adalah hewan berdarah dingin yang sangat bergantung pada suhu lingkungan untuk menjaga metabolisme tubuhnya. Suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat mengganggu nafsu makan dan kesehatan kura-kura. Pemilik disarankan untuk menyesuaikan suhu kandang atau akuarium agar tetap stabil, serta menjaga kualitas air dan kebersihan lingkungan.
Fenomena suhu tinggi juga menjadi perhatian dalam penanganan bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menguji efektivitas dry ice untuk mengatasi kabut asap. Salah satu tantangan utama adalah inversi suhu atmosfer, yaitu kondisi ketika lapisan udara hangat berada di atas udara dingin sehingga menghambat pergerakan asap ke atas. Inversi suhu ini membuat asap terperangkap di dekat permukaan bumi dan menghambat pertumbuhan awan hujan. Teknologi dry ice diharapkan dapat memengaruhi kestabilan lapisan atmosfer tersebut, meskipun efektivitasnya masih dalam evaluasi.
Sebagai perbandingan, wilayah Serang dan Cilegon di Banten pada Selasa, 20 Oktober 2026, hanya mengalami cuaca berawan dengan suhu maksimum 35 derajat Celsius. Sementara itu, Surabaya dan sekitarnya mencatat suhu lebih tinggi, mencapai 37–38 derajat Celsius. Perbedaan ini menunjukkan bahwa faktor geografis dan kondisi atmosfer lokal sangat memengaruhi suhu udara di suatu wilayah.
Menyikapi kondisi ini, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan menjaga kesehatan. Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan informasi cuaca secara berkala serta menyediakan fasilitas umum yang mendukung, seperti ruang terbuka hijau dan tempat berteduh. Dengan begitu, dampak negatif dari suhu ekstrem dapat diminimalisasi.
Secara keseluruhan, kenaikan suhu di Surabaya dan sekitarnya menjadi pengingat akan pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim. Suhu yang mencapai 37 derajat Celsius bukan hanya angka, tetapi sinyal bagi kita untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan kesehatan. Mari bijak dalam menggunakan energi, menjaga hidrasi tubuh, dan memperhatikan makhluk di sekitar kita agar tetap nyaman menjalani aktivitas di tengah cuaca panas yang melanda.
