Binance Hacked: Dugaan Perampokan Bank Terbesar dalam Sejarah Kripto, Miliaran Dolar Raib dalam 15 Menit
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Dunia mata uang kripto diguncang oleh peristiwa yang oleh sejumlah pengamat industri disebut sebagai insiden binance hacked terbesar sepanjang sejarah. Bursa kripto terkemuka dunia itu menjadi korban eksploitasi keamanan yang memungkinkan pelaku memindahkan aset digital senilai miliaran dolar dalam waktu yang sangat singkat, memicu kekhawatiran luas terhadap ketahanan infrastruktur keuangan digital global.
Peristiwa yang mencuat pada Kamis, 29 Oktober 2026, itu bermula ketika Binance mengumumkan penangguhan sementara penarikan dana melalui akun resmi mereka di platform X pada pukul 22.15 UTC. Dalam pernyataannya, tim teknis perusahaan menyatakan tengah melakukan pemeriksaan keamanan menyeluruh dan berjanji penarikan akan kembali dibuka begitu persoalan keamanan tuntas sepenuhnya. Pihak bursa menegaskan bahwa dana pengguna tetap aman.
Menariknya, sikap korporat Binance mengalami pergeseran dalam hitungan jam. Awalnya perusahaan menyebut insiden tersebut sebagai “potensi masalah keamanan”, namun kemudian secara resmi mengategorikannya sebagai “masalah keamanan” yang nyata. Pada pukul 23.06 UTC, pembatasan teknis diperluas hingga ke produk Binance Alpha, menandakan skala penanganan yang semakin besar.
Skala Kerugian yang Belum Pernah Terjadi
Angka-angka seputar serangan ini mencerminkan pergerakan dana yang luar biasa besar. Laporan dari firma analitik on-chain dan catatan pasar menempatkan transfer mencurigakan kumulatif berada pada kisaran 3,55 miliar dolar hingga 5,80 miliar dolar yang berasal dari dompet panas (hot wallet) yang terhubung ke internet. Sejumlah sumber industri lain menyebut dana yang dicuri mencapai 5,50 miliar dolar.
Arkham Intelligence, perusahaan yang melacak aktivitas industri kripto, memperkirakan aset kripto senilai lebih dari 5,8 miliar dolar atau sekitar 4,3 miliar poundsterling telah diambil dari Binance. Jika terkonfirmasi, insiden binance hacked ini akan melampaui peretasan bursa Bybit tahun lalu yang mencatat kerugian 1,5 miliar dolar.
Ari Redbord, kepala kebijakan di perusahaan analitik kripto TRM Labs, menyebut peristiwa ini sebagai peretasan yang luar biasa, baik dari sisi ukuran maupun responsnya. Ia menjelaskan bahwa pelaku mampu memindahkan miliaran dolar melintasi delapan jaringan blockchain hanya dalam waktu sekitar 15 menit. Intelijen awal bahkan mengaitkan serangan tersebut dengan peretas dari Korea Utara.
Modus Operandi: Eksploitasi EIP-7702
Metode teknis yang digunakan melibatkan eksploitasi transaksi di bawah standar EIP-7702 pada jaringan Ethereum. Catatan penjelajah blockchain menunjukkan bahwa sebuah alamat yang didanai melalui Tornado Cash berhasil mendelegasikan kontrak pada dompet panas Binance, sehingga memungkinkan penarikan berkelanjutan tanpa memerlukan tanda tangan manual untuk setiap transaksi.
Untuk melindungi modal sebelum sempat masuk daftar hitam, pelaku beralih ke protokol terdesentralisasi. Data transaksi mengungkap bahwa pelaku menggunakan Uniswap untuk mengonversi sejumlah besar mata uang fiat yang ditokenisasi menjadi Ether. Selain itu, mereka menyetorkan 60 juta dolar dalam bentuk USDT sebagai jaminan ke Aave untuk meminjam sekitar 19.762 ETH, guna menghindari likuidasi langsung atas token yang dapat dibekukan.
Respons Cepat Penerbit Stablecoin
Respons dari perusahaan penerbit stablecoin berhasil membatasi ruang gerak eksploitasi. Paolo Ardoino, CEO Tether, mengonfirmasi pembekuan lebih dari 1,567 miliar USDT yang tersebar di dompet-dompet mencurigakan. Sementara itu, Jeremy Allaire, CEO Circle, melaporkan pembekuan lebih dari 800 juta USDC melalui koordinasi langsung dengan aparat penegak hukum.
He Yi, co-CEO Binance, juga melaporkan bahwa Ripple turut bekerja sama membekukan 200 juta dolar aset yang terkait dengan stablecoin RLUSD, yang sempat dicoba pelaku untuk ditukar senilai 36 juta dolar menjadi Ether. Secara keseluruhan, setelah masalah keamanan teridentifikasi, aset digital senilai lebih dari 3 miliar dolar berhasil dibekukan, sehingga berpotensi mencegah dana tersebut dicairkan oleh aktor jahat.
Juru bicara Binance, Ross O’Leary, menegaskan bahwa penangguhan penarikan merupakan langkah pencegahan sebagai respons terhadap insiden keamanan. Sejalan dengan itu, pendiri bersama Changpeng Zhao secara terbuka menyatakan bahwa dalam kapasitasnya sebagai pemegang saham, ia mengharapkan dana pengguna dapat ditanggung sepenuhnya. Pihak bursa juga menyatakan tim mereka bekerja sepanjang waktu untuk menyelesaikan persoalan ini dan menegaskan seluruh kerugian akibat peretasan akan ditanggung.
Peristiwa binance hacked ini menjadi pengingat keras bahwa sektor keuangan digital masih sangat rentan terhadap serangan siber canggih yang bergerak dengan kecepatan belum pernah terjadi sebelumnya. Skala dan kecepatan peretasan menempatkan insiden ini sebagai salah satu yang paling signifikan dalam sejarah industri, sekaligus menegaskan pentingnya koordinasi lintas platform, penerbit stablecoin, dan otoritas hukum dalam memitigasi dampak.
Meski dana pengguna dijanjikan aman dan sebagian besar aset telah dibekukan, insiden binance hacked tetap meninggalkan pertanyaan besar tentang ketahanan sistem. Pengamat menilai kejadian ini akan mendorong penguatan standar keamanan, pengawasan transaksi on-chain, serta percepatan adopsi mekanisme perlindungan berlapis di seluruh ekosistem kripto global. Bagi investor, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik potensi keuntungan besar, risiko keamanan siber tetap menjadi tantangan yang harus dikelola dengan serius oleh seluruh pelaku industri.
