Taktik Kuda Troya hingga Tes Kejujuran: Di Balik Barikade Demo Mahasiswa di Bundaran HI
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Barikade berlapis aparat keamanan menjadi pemandangan utama dalam aksi demonstrasi yang digelar elemen mahasiswa dan masyarakat di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Rabu (28/10/2026). Ketatnya penjagaan tidak menyurutkan langkah massa untuk menyuarakan aspirasi. Berbagai taktik lapangan pun muncul, mulai dari strategi pengalihan massa hingga aksi simbolik yang menyita perhatian publik. Dinamika di balik barikade ini meninggalkan cerita tersendiri yang kini menjadi sorotan.
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) mengungkapkan bahwa keberhasilan rombongan mahasiswa menembus barikade awal kepolisian mengandalkan strategi pengalihan yang mereka sebut sebagai taktik “Kuda Troya”. Strategi ini dirancang dengan membagi pergerakan massa menjadi beberapa gelombang dari arah berbeda untuk memecah konsentrasi pengamanan aparat di titik utama.
Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI 2026, Namora Siahaan, menjelaskan bahwa armada bus rombongan awal sengaja dikerahkan lebih dulu menuju kawasan Menara UOB di Jalan Jenderal Sudirman. Tujuannya memancing kepolisian agar memusatkan barikade utama di lokasi tersebut. Saat perhatian aparat tertuju pada titik UOB, rombongan mahasiswa lain bergerak senyap memanfaatkan transportasi umum dari arah utara dan timur.
“Di awal itu ada yang jadi pengalih perhatian di UOB, bus jadi ‘Kuda Troya’-nya biar barikade tertuju ke situ. Nanti dari utara datang angkot sama transportasi umum langsung tembus,” ujar Namora saat ditemui di Kampus UI, Depok, Kamis (29/10/2026).
Selain dari arah utara, massa aksi juga menusuk melalui Jalan Imam Bonjol di sisi timur guna memberikan efek kejutan bagi barisan pengamanan. “Dari timur nanti datang lewat Imam Bonjol. Jadi langsung caught by surprise saja, makanya akhirnya bisa langsung gampang masuk di awal,” tambahnya.
Pengalaman mendebarkan dirasakan langsung para pengemudi angkutan kota trayek T19 (Depok–Pasar Minggu) yang disewa mengantar rombongan mahasiswa. Atur Santoso, salah satu sopir, menceritakan rombongan berangkat dari Lapangan FISIP UI Depok sekitar pukul 13.30 WIB. Sekitar satu jam kemudian, iring-iringan angkot berhadapan langsung dengan barikade ketat kepolisian di persimpangan lampu merah dekat Halte Transjakarta MH Thamrin, sebelum kawasan Sarinah. Lima angkot di barisan terdepan terhenti tepat di hadapan aparat. Dalam situasi memanas, mahasiswa di dalam armada meminta sopir terus melaju memecah barikade.
Kisah serupa datang dari Marsudi, sopir angkot yang mengantar rombongan mahasiswa UI pada Selasa (27/10/2026). Berbekal bayaran Rp400 ribu, ia mengaku sempat mempertimbangkan untung rugi sebelum akhirnya bersedia. Baginya, ada keyakinan soal niat baik mahasiswa memperjuangkan nasib rakyat yang membuatnya memberanikan diri menembus barikade aparat hingga sampai di Bundaran HI.
Di sisi lain, aksi demonstrasi bertajuk “Indonesia Sadar” diwarnai manuver unik. Mahasiswa menyodorkan uang tunai kepada barikade polisi sebagai metode uji integritas terbuka terhadap aparat yang bertugas. Peserta aksi menjejalkan lembaran uang ke celah-celah tameng transparan, membagikan pecahan Rp100.000 dan Rp50.000 tepat di hadapan barisan polisi bersenjata lengkap. Langkah itu memicu sorak-sorai massa.
Namun, rekaman kamera memperlihatkan seorang polisi diduga meraih dan mengambil uang Rp50.000. Tindakan oknum aparat tersebut langsung viral dan memicu perdebatan sengit di media sosial. Inisiatif menyelipkan uang ini sengaja dirancang untuk menantang profesionalisme serta ketahanan moral aparat di lapangan, sekaligus menjadi sindiran visual agar pesan moral mahasiswa dapat langsung disaksikan publik.
Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) menyoroti barikade berlapis aparat saat aksi peringatan Hari Sumpah Pemuda dan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Sekjen Pengurus Pusat AGRA, Saiful Wathoni, menyebut ada empat lapis barisan aparat di setiap ruas jalan menuju Bundaran HI, terdiri dari pasukan antihuru-hara dengan tameng dan pentungan, pasukan pengurai massa Brimob dengan kendaraan bermotor, pasukan Brimob berseragam putih dan berompi, serta pasukan TNI.
“Akibatnya, titik aksi massa menjadi terpecah. Sebagian terpusat di Bundaran HI, sebagian tertahan di sekitar Gedung UOB di Jalan Sudirman, dan sebagian terpencar karena sulit menembus barikade penjagaan berlapis yang sangat ketat,” kata Saiful, Kamis (29/10/2026). AGRA mengecam tindakan kekerasan aparat dan menuntut agar pelaku pemukulan dihukum setimpal, serta para pemberi instruksi pembubaran dan penangkapan dicopot dan dimintai pertanggungjawaban.
Sementara di Bogor, puluhan mahasiswa gabungan PMII dan GMKI Cabang Kota Bogor berunjuk rasa di depan Istana Kepresidenan Bogor. Kericuhan pecah setelah massa berusaha menerobos barikade pengamanan Dalmas Polresta Bogor Kota untuk mendekati gerbang istana. Aksi saling dorong tak terhindarkan, dan massa sempat membakar ban bekas di tengah jalan hingga menimbulkan kepulan asap pekat. Bentrokan fisik berhasil diredam setelah jajaran pengamanan di lokasi turun tangan. Koordinator Aksi, Toni Alfazri, menyebut unjuk rasa digelar sebagai bentuk pengawasan kritis terhadap sejumlah isu nasional dan daerah yang dinilai mendesak ditindaklanjuti pemerintah pusat.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa barikade bukan sekadar penghalang fisik, melainkan cermin ketegangan antara aspirasi rakyat dan upaya pengamanan negara. Dari taktik Kuda Troya, aksi uji integritas dengan menyelipkan uang, hingga kericuhan di depan istana, setiap kejadian menegaskan bahwa ruang penyampaian pendapat masih menyisakan dinamika yang perlu dikelola dengan bijak. Diperlukan dialog yang terbuka agar aspirasi mahasiswa dan masyarakat dapat tersalurkan tanpa harus selalu berhadapan dengan barikade yang memisahkan.
