Rupiah Terus Tancap Gas di Tengah Bayang-Bayang Skenario Rp22.000, Siapa yang Harus Waspada?
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tajinya pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, 30 Oktober 2026. Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda dibuka menguat 17 poin atau 0,09 persen ke level Rp18.120 per dolar Amerika Serikat. Pergerakan positif ini melanjutkan tren penguatan yang terjadi sehari sebelumnya, ketika nilai tukar rupiah ditutup menguat 47 poin atau 0,26 persen di level Rp18.137 per dolar AS.
Penguatan tersebut tidak lepas dari melemahnya dolar AS ke level 101,738 atau turun 0,29 persen. Tekanan terhadap mata uang Paman Sam datang dari penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta gelombang aksi jual pada saham-saham sektor kecerdasan buatan yang membuat investor berbondong-bondong beralih ke aset aman. Namun di tengah euforia penguatan ini, sejumlah peringatan keras justru mencuat dan menjadi sorotan pelaku pasar.
Peringatan Hashim soal Skenario Terburuk
Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, melontarkan peringatan yang cukup mengejutkan. Ia menyebut nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga Rp22.000 per dolar AS apabila persoalan pasar modal yang menjadi sorotan Morgan Stanley Capital International tidak segera dimitigasi.
“Saya sudah hitung bisa jadi Rp20.000 sampai Rp21.000. Ada yang bilang Rp22.000,” ujarnya dalam Rapat Pimpinan Nasional Kadin di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.
Menurut Hashim, keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia akan memperbesar tekanan terhadap nilai tukar. Jika MSCI menurunkan peringkat Indonesia menjadi stand-alone market, sumber dana untuk pasar modal akan semakin kering dan beban pembayaran pinjaman luar negeri berpotensi meningkat. Ia juga menyoroti indikasi praktik perdagangan saham tidak sehat, seperti saham gorengan dengan free float terbatas dan rasio harga terhadap laba yang tidak masuk akal, yang menjadi salah satu fokus sorotan investor asing.
BI Minta Publik Tak Panik
Menanggapi peringatan tersebut, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti langsung turun tangan menenangkan pelaku pasar. Ia meminta publik tidak terpaku pada skenario terburuk capital flight, melainkan melihat ketahanan ekonomi domestik yang dinilai masih tangguh.
“Kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif oke dibandingkan dengan peer group kita,” tegas Destry.
Bos bank sentral ini memaklumi kekhawatiran yang beredar, namun mengingatkan bahwa pergerakan nilai tukar merupakan hal lumrah dalam mekanisme pasar. Fluktuasi saat ini tidak melulu akibat persoalan internal, melainkan sangat bergantung pada dinamika permintaan dan penawaran serta sentimen global. Ia mencontohkan langkah The Fed yang menahan suku bunga acuan baru-baru ini yang langsung memberikan napas segar bagi penguatan rupiah. Destry memberikan garansi bahwa bank sentral akan berjuang di garis depan mempertahankan stabilitas nilai tukar agar sektor riil tidak mati lemas dan lapangan pekerjaan tetap terbuka.
Ancaman Inflasi Impor di Depan Mata
Di sisi lain, ekonom mengingatkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah berisiko mendorong kenaikan inflasi barang impor atau imported inflation. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada harga barang jadi impor, tetapi juga bahan baku dan barang penolong yang dibutuhkan industri dalam negeri.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies, Nailul Huda, menilai pelemahan rupiah membuat biaya impor semakin mahal sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri dan menekan daya beli masyarakat. “Inflasi akan lebih terdorong lagi jika rupiah kita semakin melemah. Dampaknya adalah daya beli masyarakat kita bisa semakin terpukul,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam mengambil kebijakan terkait harga energi bersubsidi. Menurutnya, pemerintah tidak boleh menaikkan harga Pertalite maupun LPG 3 kilogram karena kenaikan tersebut berisiko semakin membebani pengeluaran masyarakat. Nailul menyarankan realokasi anggaran, termasuk program Makan Bergizi Gratis, untuk memperkuat pembiayaan subsidi bahan bakar minyak.
Dampak ke Pasar Emas dan Global
Tekanan pada nilai tukar rupiah juga tercermin pada pasar komoditas. Harga emas perhiasan di Palembang terpantau stabil di kisaran Rp13,6 juta per suku atau setara 6,7 gram pada akhir Oktober 2026, sementara emas Antam berada di angka Rp2.598.000 per gram. Pengamat ekonomi Sumatera Selatan, Soekanto Sairuki, menyebut pergerakan harga emas dipengaruhi permintaan pasar, indeks harga saham gabungan, nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp18 ribu per dolar AS, serta gejolak geopolitik dan kebijakan Amerika Serikat.
Sementara itu, dari kawasan Asia, yen Jepang stabil menjelang keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Jepang yang diperkirakan mempertahankan suku bunga di angka 1,25 persen. Euro berada di posisi stabil pada 1,1185 dolar AS, poundsterling menguat 0,1 persen menjadi 1,3390 dolar AS, dan dolar Australia nyaris tak berubah di level 0,7030 dolar AS.
Secara keseluruhan, penguatan nilai tukar rupiah hari ini patut disyukuri, namun kewaspadaan tetap diperlukan. Sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan pelaku pasar menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah badai sentimen global. Reformasi pasar modal yang sehat, pengelolaan subsidi yang tepat sasaran, serta komunikasi kebijakan yang menenangkan akan menentukan apakah rupiah mampu bertahan di jalur penguatan atau justru terpeleset ke skenario terburuk yang telah diperingatkan.
