Di Balik Final Libertadores: Corinthians Hadapi Krisis Finansial dan Tekanan Sejarah
Inforiau – 31 Oktober 2026 | Klub Corinthians kembali menjadi sorotan menjelang laga puncak Libertadores Feminina melawan Cruzeiro, Sabtu (31/10). Namun, di balik ambisi meraih trofi ketujuh dan gelar keempat beruntun, para pemain mengungkap realitas pahit: krisis finansial yang melanda klub turut memengaruhi kondisi tim. Vic Albuquerque dan Belén Aquino secara terbuka mengakui bahwa situasi keuangan menjadi beban tersendiri, terutama karena sebagian besar pemain menanggung kebutuhan keluarga.
“Ini menjadi kekhawatiran besar, mayoritas dari kami harus menopang keluarga. Tapi kami sangat mencintai klub ini. Mau dibayar atau tidak, saya mencintai apa yang saya lakukan. Ini jauh lebih dari sekadar gaji,” ujar Vic Albuquerque dalam konferensi pers.
Belén Aquino menambahkan bahwa para pemain memilih untuk tetap fokus pada persiapan pertandingan. “Kami menagih kepada pihak yang bertanggung jawab dan fokus berlatih, bersiap untuk pertandingan. Itu juga penting,” kata penyerang asal Uruguay tersebut.
Tekanan di atas lapangan juga tak kalah berat. Corinthians datang ke final dengan status juara bertahan tiga kali berturut-turut, sementara Cruzeiro baru pertama kali mencicipi partai puncak. Meski begitu, Belén menegaskan timnya siap memikul tanggung jawab sejarah. “Terlepas dari itu menjadi tanggung jawab kami, kami akan menerimanya,” tegasnya.
Faktor pengalaman disebut menjadi keunggulan Corinthians. Vic menilai jam terbang skuadnya bisa menjadi pembeda, terutama menghadapi kondisi fisik di ketinggian Quito yang mencapai sekitar 2.850 meter di atas permukaan laut. “Kami memiliki pengalaman lebih banyak daripada mereka, jadi penting untuk berada dalam kondisi fisik terbaik. Saya pikir itu bisa sedikit menonjol. Kami percaya diri, meskipun mereka juga tim yang sangat kuat,” jelasnya.
Sementara itu, di kompetisi domestik, Corinthians tengah berjuang keras keluar dari zona degradasi. Laga melawan Mirassol pada Jumat (30/10) di Neo Química Arena menjadi duel krusial. Kemenangan menjadi harga mati bagi tim asuhan pelatih untuk menjauh dari ancaman turun kasta. Pertandingan tersebut diwarnai kartu merah langsung bagi penyerang Mirassol, Bruno Santos, pada menit ke-23 babak pertama.
Keputusan wasit Matheus Candançan mendapat dukungan dari pengamat arbitrase Globo, Paulo César de Oliveira. Ia menilai Bruno Santos sengaja meninggalkan siku di wajah André Ramalho tanpa bola. “Sangat jelas. Pemain mengatakan tangannya mengenai dada saya, tetapi gambar menunjukkan tangannya mengenai wajah saya,” ujar Ramalho saat jeda pertandingan. Insiden ini membuat Mirassol kehilangan penyerang utamanya untuk laga berikutnya melawan Chapecoense.
Di sisi lain, tensi di luar lapangan kembali memanas. Gremio secara resmi mengajukan permohonan kepada CBF agar Corinthians menjalani laga kandang tanpa penonton pada sisa musim ini. Langkah ini merupakan buntut dari ancaman yang dilontarkan Presiden Gaviões da Fiel, Alexandre Domenico, terhadap perangkat pertandingan. Gremio juga meminta pengawalan polisi untuk wasit dalam setiap laga Corinthians.
Permohonan tersebut membangkitkan trauma lama. Pada 2007, Corinthians turun kasta setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Gremio di laga terakhir, sementara Internacional kalah dari Goiás. Kini, kedua tim kembali bertemu di pekan ke-37, 29 November mendatang, dalam situasi sama-sama berjuang menghindari degradasi. Laga diprediksi berlangsung panas, mengingat sejarah panjang permusuhan kedua klub.
Dengan berbagai dinamika yang ada, Corinthians berada di persimpangan: mengejar kejayaan di kancah kontinental sekaligus bertahan di liga domestik. Komitmen para pemain untuk tetap profesional meski diterpa krisis finansial menjadi cerminan karakter tim. Kini, semua mata tertuju pada performa mereka di lapangan, apakah mampu membalas tantangan dengan prestasi atau justru terpuruk oleh tekanan yang menggunung.
