Komdigi Bidik Internet Rumah Cepat dan Murah: 100 Mbps Hanya Rp140 Ribu per Bulan
Inforiau – 31 Oktober 2026 | Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menggencarkan upaya untuk menghadirkan internet rumah yang cepat dan terjangkau bagi masyarakat. Dalam program prioritasnya, Komdigi bidik internet rumah cepat dan murah 100 Mbps cuma Rp140 Ribu per bulan. Target ambisius ini diharapkan dapat memperluas akses broadband berkualitas tinggi hingga ke pelosok negeri, sekaligus mendorong transformasi digital nasional.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa percepatan pembangunan jaringan fiber optik menjadi kunci utama untuk mewujudkan harga internet yang lebih kompetitif. Menurutnya, saat ini tarif internet tetap 100 Mbps masih bervariasi di pasaran, namun dengan perluasan infrastruktur dan peningkatan efisiensi, harga di bawah Rp200 ribu per bulan sangat mungkin tercapai. Bahkan, Komdigi bidik internet rumah cepat dan murah 100 Mbps cuma Rp140 Ribu sebagai standar baru yang bisa dinikmati masyarakat luas.
Perluasan Jaringan Fiber Optik sebagai Fondasi
Untuk merealisasikan target tersebut, pemerintah mendorong penyedia jasa telekomunikasi untuk memperluas cakupan jaringan fiber optik hingga ke tingkat kecamatan dan desa. Langkah ini dinilai mampu menekan biaya investasi per rumah tangga, sehingga tarif layanan dapat ditekan. Selain itu, pemanfaatan teknologi baru seperti Fixed Wireless Access (FWA) dan optimalisasi spektrum frekuensi juga menjadi opsi untuk menjangkau daerah yang sulit dilalui kabel optik.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, menyebutkan bahwa pihaknya telah menyiapkan peta jalan (roadmap) percepatan penetrasi internet rumah. “Kami menargetkan peningkatan rasio rumah tangga berinternet dari sekitar 30 persen menjadi 50 persen dalam beberapa tahun ke depan. Dengan skala ekonomi yang lebih besar, harga layanan 100 Mbps dapat turun signifikan, sesuai dengan target Komdigi bidik internet rumah cepat dan murah 100 Mbps cuma Rp140 Ribu,” ujarnya dalam sebuah diskusi virtual, Selasa (25/2).
Dukungan Regulasi dan Insentif
Selain pembangunan infrastruktur, pemerintah juga menyiapkan sejumlah insentif fiskal dan nonfiskal bagi operator yang berinvestasi di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Insentif tersebut meliputi keringanan biaya hak penyelenggaraan (BHP) telekomunikasi, kemudahan perizinan, hingga dukungan pembangunan ducting dan tiang bersama. Dengan begitu, biaya operasional penyedia layanan dapat ditekan, yang pada akhirnya berdampak pada tarif yang lebih murah bagi konsumen.
Pengamat telekomunikasi dari Universitas Indonesia, Rizky Firmansyah, menilai bahwa target Komdigi bidik internet rumah cepat dan murah 100 Mbps cuma Rp140 Ribu sangat realistis jika didukung oleh kolaborasi semua pihak. “Selama ini harga internet di Indonesia relatif mahal karena biaya backhaul dan akses last mile yang tinggi. Jika pemerintah mampu memangkas hambatan regulasi dan mendorong sharing infrastructure, harga Rp140 ribu untuk 100 Mbps bukan hal yang mustahil,” jelasnya.
Tantangan dan Strategi Pencapaian
Meski demikian, sejumlah tantangan masih membayangi, seperti kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan pedesaan, keterbatasan pasokan perangkat optik, serta rendahnya literasi digital sebagian masyarakat. Untuk mengatasinya, Komdigi akan menggandeng pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku industri dalam program literasi digital dan penyediaan perangkat murah. Selain itu, pengawasan terhadap kualitas layanan (quality of service) juga akan diperketat agar konsumen tidak hanya mendapat harga murah, tetapi juga layanan yang andal.
Dalam jangka panjang, pemerintah berharap kebijakan ini dapat meningkatkan produktivitas ekonomi digital, membuka lapangan kerja baru, dan mempercepat adopsi teknologi seperti kecerdasan artifisial, komputasi awan, dan Internet of Things (IoT) di tingkat rumah tangga. Dengan demikian, Komdigi bidik internet rumah cepat dan murah 100 Mbps cuma Rp140 Ribu bukan sekadar janji, melainkan langkah nyata menuju konektivitas yang inklusif dan berkeadilan.
Sebagai penutup, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada konsistensi pemerintah dalam mengawal implementasi di lapangan, komitmen operator untuk berinvestasi, serta partisipasi aktif masyarakat dalam memanfaatkan internet secara positif. Jika semua elemen bersinergi, target internet cepat dan murah bukan lagi angan-angan, melainkan kenyataan yang bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
