Bursa Efek Indonesia Bergolak: IHSG Anjlok 7%, Rp721 Triliun Menguap, dan 18 Emiten Terancam Delisting
Inforiau – 01 November 2026 | Guncangan hebat melanda bursa efek Indonesia pada pekan terakhir Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ambruk 7,03 persen dalam sepekan, dari posisi 5.439 menjadi 5.057. Kekacauan di bursa efek ini bukan sekadar angka di layar, melainkan pukulan nyata bagi investor yang harus menanggung kerugian besar.
Kapitalisasi pasar BEI menyusut drastis hingga Rp721 triliun, turun 7,52 persen menjadi Rp8.862 triliun dari sebelumnya Rp9.583 triliun. Sepuluh saham tercatat menjadi biang keladi utama, dengan harga anjlok antara 28 hingga 30 persen sepanjang periode 26–30 Oktober 2026. Nama-nama seperti VKTR dan MORA masuk daftar top losers yang paling menyakitkan bagi pemegang sahamnya.
Lesunya Aktivitas Transaksi di Bursa Efek
Gelombang tekanan ini tercermin dari melemahnya seluruh indikator perdagangan di bursa efek. Rata-rata volume transaksi harian turun 18,85 persen menjadi 32,428 miliar saham. Nilai transaksi harian pun terpangkas 29,49 persen menjadi Rp14,339 triliun, sementara frekuensi transaksi terkoreksi 20,99 persen menjadi 1,54 juta kali.
Di tengah kepanikan, investor asing terus melepas portofolionya. Pada perdagangan Jumat (30/10/2026), asing membukukan penjualan bersih Rp138,71 miliar. Secara kumulatif sepanjang 2026, net sell asing di bursa efek telah menembus Rp97,921 triliun, sinyal bahwa kepercayaan pasar masih rapuh.
Deretan Saham yang Justru Melawan Arah
Meski mayoritas saham terpuruk, sejumlah emiten berhasil mencuri perhatian dengan penguatan signifikan. Mantan saham gocap, PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT), memimpin klasemen top gainers dengan lonjakan 83,33 persen dari level 6 ke 11. Berikut daftar saham yang tetap bersinar di tengah badai:
- MKNT menguat 83,33 persen dari level 6 ke 11
- MMIX menguat 34,75 persen dari level 590 ke 795
- BOGA naik 27,78 persen dari level 1.530 ke 1.955
- ALKA naik 26,14 persen dari level 4.380 ke 5.525
- NATO naik 25,79 persen dari level 795 ke 1.000
Ancaman Delisting dan Bayang-Bayang MSCI
Tekanan di bursa efek kian berlapis. BEI telah memutuskan penghapusan pencatatan saham 18 emiten yang efektif berlaku 10 November 2026. Tujuh di antaranya dinyatakan pailit, sementara sisanya dinilai gagal mempertahankan status pencatatan. Delisting menjadi risiko nyata bagi investor karena saham yang terhapus tidak lagi memiliki fasilitas perdagangan reguler, sehingga dana sulit dicairkan.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap alasan utama MSCI membuka opsi reklasifikasi pasar Indonesia menjadi standalone market. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Agus, menyatakan MSCI menilai langkah pencegahan dan penegakan hukum di pasar modal belum memadai. MSCI menuntut adanya preventive action, enforcement action, serta efek jera terhadap pelanggar.
Meski mengakui sejumlah reformasi seperti keterbukaan kepemilikan saham di atas 1 persen, perincian klasifikasi investor dari sembilan menjadi 39 kategori, pelaporan high shareholding concentration, dan peta jalan free float hingga 15 persen, kekhawatiran MSCI belum sirna. Konsultasi berlangsung hingga April 2027, dengan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027.
Kesimpulan
Pekan ini menjadi cermin kerasnya tantangan yang dihadapi bursa efek Indonesia. Amblesnya IHSG, hilangnya Rp721 triliun kapitalisasi pasar, derasnya net sell asing, hingga ancaman delisting 18 emiten dan sorotan MSCI menuntut investor lebih cermat dan selektif. Di tengah ketidakpastian, disiplin dalam memilih saham serta mencermati kondisi fundamental perusahaan menjadi kunci utama agar tidak ikut terpuruk bersama pasar.
Editor: Sukri Mustakim
