Sergio Canales dan Malam Emosional di El Sardinero: Ketika Masa Lalu Berwarna Putih Menghadang Sang Kapten
Inforiau – 02 November 2026 | Ada pertandingan yang seolah menarik seorang pesepak bola kembali ke lembaran lama dalam buku hariannya. Itulah yang dirasakan sergio canales ketika Racing de Santander menjamu Real Madrid pada jornada ke-11 LaLiga EA Sports 2026-27 di Campos de Sport de El Sardinero. Lima belas tahun setelah ia berbagi ruang ganti dengan José Mourinho di Santiago Bernabéu, gelandang asal Cantabria itu kembali berhadapan dengan sang pelatih legendaris Portugal, namun kali ini di rumah sendiri, di hadapan pendukung sendiri, dan dengan kostum hijau-putih kebanggaan Racing. Waktu memang telah menukar peran keduanya.
El Sardinero terisi hingga tribun terakhir. sergio canales melangkah keluar dari terowongan dengan langkah cepat, pergelangan tangan kanannya dibalut, dan sepatu oranye menyala yang kontras dengan rumput hijau. Nomor punggung 20 itu mengetuk-ngetuk ujung sepatunya di lapangan sambil menatap sekeliling, seolah mencari jawaban atas pertanyaan yang belum sempat ia ucapkan. Di tengah lapangan, wasit Munuera Montero bersiap memimpin undian lapangan bersama para kapten. Gradona sempat membisu, bentuk protes dari kelompok suporter Juventudes atas penarikan tifo yang rencananya akan mereka bentangkan.
Kembalinya Sang Anak Asuh Mourinho
Kisah ini berakar jauh ke belakang. sergio canales baru berusia 19 tahun ketika Madrid merekrutnya pada musim panas 2010, setelah memukau di Primera División bersama Racing. Saat itu Mourinho baru saja mendarat di bangku pelatih Los Blancos dan langsung memberikan kepercayaan besar kepada pemuda tersebut. Bahkan ketika sang gelandang mencari menit bermain di luar Bernabéu, Mourinho sempat menahannya. “Dia bilang saya harus bertahan, apa pun yang terjadi,” kenang Canales bertahun-tahun kemudian. Kini, setelah perjalanan panjang yang membawanya ke Valencia, Real Sociedad, dan Monterrey, ia pulang ke kampung halaman sebagai pemimpin tim.
Pertandingan berjalan keras sejak awal. Peluang emas datang di babak kedua ketika sergio canales nyaris berhadapan langsung dengan Thibaut Courtois, namun keputusannya menahan bola terlalu lama membuat Huijsen menyambar dan merebut si kulit bundar. Canales menggigit kerah bajunya sendiri, menahan frustrasi atas peluang yang sirna. Sebelumnya, dalam duel dengan Tchouaméni, pemain Madrid itu sempat menarik kausnya, seakan ingin menyimpan kenangan dari sang gelandang sebelum keduanya bertukar jersey di akhir laga.
Ketegangan di Balik Penalti dan Gol Mbappé
Momen paling memanas terjadi ketika Munuera Montero menunjuk titik putih. El Sardinero meledak dalam kekecewaan, dan sergio canales ikut murka. Ia menggerakkan telunjuknya sambil berkata “tidak, tidak, tidak”, lalu mengambil bola dan menyelipkannya di bawah ketiak. Ia menolak melepaskannya, berdiri kaku di tengah protes rekan-rekannya. Akhirnya, dengan pasrah, ia melepaskan bola itu, dan Kylian Mbappé yang baru saja mencetak dua gol di El Clásico tidak menyia-nyiakan kesempatan. Gol. Madrid unggul.
Canales berlari lebih keras dari siapa pun. Ia mengatur tempo, meminta rekan-rekannya tenang, dan mengarahkan posisi mereka. Ia selamat dari dua benturan dengan Tchouaméni dan Bellingham dalam satu rangkaian permainan, lalu menemukan Vicente di sepertiga akhir, meski upaya itu tak membuahkan hasil. Ketika Diomande mencetak gol yang tak terbendung, sergio canales menutup wajahnya dengan kedua tangan, isyarat ketidakberdayaan yang jelas terlihat. Kelelahan mulai menyusup; helai rambutnya menempel di wajah saat turun minum, dan ia berdiri dengan tangan di pinggang, hampir menjadi pemain terakhir yang meninggalkan lapangan.
Babak kedua memberi harapan baru. Racing tampil lebih segar, Pablo García membantu membangun serangan dari belakang, dan bola kembali mengalir ke kaki Canales. Namun cerita tak berubah: peluang kembali gagal, dan kekecewaan kembali menghantui. Setelah peluit akhir dan tradisi salam kepada Gradona, ia menuju bangku cadangan. Tak lama kemudian, ia keluar melalui terowongan bersama keluarganya, membawa sesuatu berwarna merah muda di tangannya: kaus milik Cucurella, buah dari pertukaran jersey yang menjadi penutup malam penuh emosi tersebut.
Kekalahan ini memang menyakitkan bagi Racing, tetapi malam di El Sardinero lebih dari sekadar hasil akhir. Bagi sergio canales, ini adalah pertemuan dengan masa lalunya sendiri, sebuah babak yang telah lama tertutup namun kembali terbuka dalam satu sore yang tak akan cepat ia lupakan. Sepak bola, pada akhirnya, selalu pandai mengembalikan seseorang pada cerita yang pernah ia tinggalkan.
