Marseille di Tengah Badai: Dari Drama Runtuhnya Rue d'Aubagne hingga Kebangkitan Sepak Bola
Inforiau – 02 November 2026 | Kota Marseille kembali menjadi sorotan setelah serangkaian peristiwa penting terjadi dalam sepekan terakhir. Mulai dari dimulainya sidang banding tragedi runtuhnya dua bangunan di Rue d’Aubagne yang menewaskan delapan orang, aksi solidaritas warga, hingga kebangkitan klub sepak bola Olympique de Marseille (OM) di kancah Ligue 1. Marseille seolah menjadi panggung bagi kisah duka dan harapan yang berjalan beriringan.
Sidang Banding Tragedi Rue d’Aubagne
Hampir delapan tahun setelah tragedi yang mengguncang Marseille, sidang banding kasus runtuhnya dua bangunan tidak layak huni di Rue d’Aubagne resmi dibuka pada Senin (2/11/2026) di pusat kota Marseille. Sidang yang berlangsung hingga 18 Desember mendatang ini menghadirkan 15 terdakwa dan hampir 90 pihak korban. Keluarga dari delapan korban berharap adanya hukuman yang setimpal bagi para pihak yang bertanggung jawab atas trauma kolektif warga Marseille.
Pada 5 November 2018 pukul 09.07, bangunan di nomor 63 dan 65 Rue d’Aubagne ambruk dalam hitungan detik meskipun telah ada berbagai peringatan yang diabaikan. Sehari sebelumnya, ratusan orang mengenang delapan korban dengan meneriakkan slogan ‘Hunian layak melawan ketidaklayakan’ dan ‘Tidak akan terulang lagi’.
Pada akhir 2024, pengadilan tingkat pertama menjatuhkan denda 358.000 euro, enam pembebasan, dan sepuluh hukuman, termasuk tiga penjara tanpa masa percobaan. Putusan ini dinilai terlalu ringan dibandingkan tuntutan jaksa. Kekecewaan terutama tertuju pada hukuman dua tahun penjara dengan masa percobaan dan larangan profesi bagi dua terdakwa utama. Richard Carta, seorang ahli bangunan, dinilai bersalah karena ‘kelalaian berat’ dalam melakukan pemeriksaan cepat, sementara Julien Ruas, mantan wakil wali kota, dituduh mengabaikan laporan warga.
Pengacara Ruas, Erick Campana, menegaskan bahwa pelanggaran yang dituduhkan tidak disengaja dan tidak ada kesalahan yang dilakukan berdasarkan informasi yang ada. Jaksa juga mengajukan banding terhadap putusan untuk para pemilik properti, termasuk Gilbert Ardilly dan pengacara Xavier Cachard, yang dijatuhi hukuman empat tahun penjara, dua di antaranya tanpa masa percobaan dengan pengawasan elektronik. Pengadilan menilai mereka menunjukkan ‘ketidakpedulian’ terhadap kondisi hunian yang rusak, dan Cachard dianggap melakukan ‘strategi obstruksi’ terhadap perbaikan yang diperlukan.
Wali Kota Marseille, Benoît Payan, menyerukan agar pengadilan ‘menjadi teladan dan menunjukkan kepada semua orang realitas tragedi hunian tidak layak di kota kami dan di tempat lain’. Ia menegaskan bahwa ‘hunian tidak layak membunuh, menghancurkan terlalu banyak nyawa: hal itu tidak boleh lagi dibiarkan tanpa hukuman’.
Festival Solidaritas dari Anak Korban
Di tengah proses hukum yang berjalan, Léo Lavieille, putra salah satu korban, Fabien Lavieille, meluncurkan Festival Rue d’Aubagne edisi pertama yang akan digelar pada Sabtu (7/11/2026) di Marseille. Acara amal ini menggabungkan perjuangan melawan hunian tidak layak melalui konferensi, serta musik dan pesta dengan konser dan DJ set. Bagi Léo, festival ini adalah cara untuk ‘melanjutkan memori para korban’ sekaligus ‘merayakan kehidupan’.
Léo yang saat itu baru berusia 20 tahun mengaku mendapat banyak dukungan dari warga Marseille, pengacara, dan publik yang mengikuti persidangan. ‘Saya ingin menuangkan solidaritas dan persatuan itu ke dalam festival ini. Dan juga keinginan untuk membela tujuan bersama yang menyentuh kita semua: kita semua pernah menjadi mahasiswa, tinggal di tempat yang tidak layak, memiliki kerabat dengan situasi perumahan yang tidak normal,’ ujarnya.
Festival ini akan menampilkan talkshow dengan para ahli dan orang-orang yang terlibat dalam perjuangan melawan hunian tidak layak dari pukul 14.00 hingga 16.00, dilanjutkan konser dari pukul 17.00 hingga 21.00, dan DJ set dari pukul 21.00 hingga 04.00. Semua artis tampil tanpa dibayar setelah dijelaskan tujuan acara. Seluruh keuntungan festival akan disumbangkan kepada asosiasi Just (Justice et Union pour la transformation sociale) dan Assemblée des délogés, organisasi kecil yang berjuang di Marseille.
‘Ini adalah dorongan harapan: runtuhnya bangunan sudah terjadi, kita tidak bisa kembali, tapi sekarang, apa yang kita lakukan dengan ini?’ kata Léo. Ia berharap festival ini menjadi agenda budaya Marseille yang berkembang dari tahun ke tahun dan mampu mengumpulkan dana semakin besar. Tahun ini, festival belum mendapat pendanaan sama sekali, namun tahun depan ia berharap ada subsidi atau donasi.
Mengenai sidang banding, Léo mengaku lebih siap dibandingkan sidang pertama. ‘Saya sulit membayangkan hukuman apa pun akan setara dengan apa yang telah hilang, apa pun yang terjadi. Saya percaya pada pengacara saya dan membiarkannya berjuang untuk itu. Saya lebih memilih fokus pada apa yang saya lakukan dengan kisah ini secara pribadi dan profesional, bagaimana saya melanjutkan duka saya,’ tuturnya.
Kebangkitan OM di Ligue 1
Di sisi lain, Marseille juga mencatatkan kabar baik di dunia sepak bola. Olympique de Marseille terus menunjukkan pemulihan dengan meraih kemenangan liga keempat berturut-turut setelah mengalahkan Toulouse 2-0 di Stade Velodrome pada Minggu (1/11/2026). Amine Harit membawa Marseille unggul pada menit kedua, dan Amine Gouiri memanfaatkan kesalahan pertahanan Toulouse untuk membuat skor menjadi 2-0 pada menit ke-25.
Kemenangan ini membawa Marseille naik ke peringkat keenam klasemen Ligue 1. Sementara itu, Olympique Lyonnais dan Paris FC juga meraih kemenangan pada hari yang sama. Lyon mengalahkan Angers 2-0 berkat gol Ernest Nuamah dan Corentin Tolisso, sedangkan Paris FC mengalahkan AS Monaco 3-1 dengan dua gol Lassine Sinayoko dan satu gol Pablo Pagis. Kemenangan ini membawa Lyon dan Paris FC mengumpulkan 17 poin dari sembilan pertandingan, tertinggal tiga poin dari pemimpin klasemen Paris Saint-Germain dan satu poin dari Lille di posisi kedua.
Kebangkitan Marseille di liga menjadi angin segar bagi para pendukung setelah awal musim yang buruk. Kemenangan beruntun ini menunjukkan bahwa tim asuhan pelatih tersebut mulai menemukan performa terbaiknya dan siap bersaing di papan atas.
Harapan di Tengah Tantangan
Marseille adalah kota yang penuh kontras. Di satu sisi, kota ini masih bergulat dengan masalah hunian tidak layak yang telah menelan korban jiwa dan menghantui ribuan warga. Data menunjukkan masih ada sekitar 40.000 rumah tidak layak huni di kota ini, meskipun pemerintah kota baru mengklaim telah menyelesaikan status darurat untuk seribu bangunan. Di sisi lain, semangat solidaritas warga dan prestasi tim sepak bola kebanggaan kota memberikan harapan baru.
Tragedi Rue d’Aubagne menjadi pengingat pahit bahwa kelalaian dan ketidakpedulian terhadap hunian layak dapat berakibat fatal. Proses hukum yang sedang berjalan diharapkan membawa keadilan bagi para korban dan menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Sementara itu, festival yang diinisiasi Léo Lavieille menunjukkan bahwa dari duka dapat tumbuh solidaritas dan tekad untuk menciptakan perubahan.
Di lapangan hijau, kebangkitan OM memberikan hiburan dan kebanggaan bagi warga Marseille. Sepak bola memang bukan solusi atas masalah sosial, tetapi semangat juang tim dapat menjadi inspirasi bahwa dengan kerja keras dan kebersamaan, Marseille mampu bangkit dari keterpurukan. Kota ini terus melangkah, menghadapi tantangan dengan keberanian dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
