Tekanan Menggila di Old Trafford: Michael Carrick Tetap Pede Tak Akan Dipecat MU
Inforiau – 02 November 2026 | Posisi Michael Carrick di kursi manajer Manchester United kini berada di titik terpanas. Setelah kekalahan 0-2 dari Chelsea di Stamford Bridge pada Sabtu (31/10/2026) malam WIB, Setan Merah resmi melewati sembilan pertandingan tanpa kemenangan di semua kompetisi. Meski tekanan dari berbagai arah kian meninggi, pria berusia 44 tahun itu justru menunjukkan keyakinan penuh bahwa ia masih akan memimpin timnya pada laga berikutnya.
Kekalahan di London menjadi pukulan telak bagi Manchester United. Morgan Rogers membuka keunggulan Chelsea tak lama setelah babak kedua dimulai, sebelum Cole Palmer memastikan kemenangan tuan rumah lewat titik putih. Petaka bertambah ketika Lisandro Martinez diusir wasit pada menit ke-63 akibat dua pelanggaran ceroboh, sehingga MU harus menghabiskan sisa pertandingan dengan sepuluh pemain.
Rangkaian Terburuk Sejak 1988
Hasil tersebut memperpanjang catatan buruk Michael Carrick bersama Manchester United. Dari sembilan laga tanpa kemenangan, rinciannya adalah enam kekalahan dan tiga hasil imbang. Catatan ini menjadi periode terburuk klub dalam hal rentetan hasil negatif sejak tahun 1988. Di ajang Liga Inggris sendiri, MU baru meraih satu kemenangan dari sembilan pekan, dengan empat hasil imbang dan empat kekalahan, sehingga baru mengoleksi tujuh poin dan tertahan di peringkat ketujuh belas klasemen.
Ironi memang terasa kian dalam. Musim lalu, Carrick masuk di tengah perjalanan dan berhasil mengantar MU finis di peringkat tiga. Banyak pihak saat itu optimistis bahwa Setan Merah bisa menjadi penantang serius gelar jika Carrick memegang kendali penuh sejak awal musim. Namun kenyataan berbicara sebaliknya. Ketika akhirnya dipercaya penuh sejak pekan pertama, MU justru tampil terseok-seok dan sudah tertinggal dua digit angka dari Arsenal yang memuncaki klasemen dengan 24 poin.
Sebagai pembanding, Arsenal tampil solid dengan hanya sekali kalah dari sembilan laga, termasuk kemenangan tipis di markas Liverpool berkat gol tunggal Kai Havertz. Kontras antara kedua tim ini semakin menyorot kiprah Michael Carrick di Old Trafford.
Dukungan dari Solskjaer
Di tengah gempuran kritik, mantan pelatih Manchester United Ole Gunnar Solskjaer angkat bicara. Ia meyakini bahwa Carrick adalah sosok yang tepat untuk membawa Manchester United melangkah maju, meski tekanan terhadap mantan rekan setimnya itu kian meningkat. Dukungan ini setidaknya menjadi angin segar di tengah badai yang menerpa ruang ganti Setan Merah.
Sejumlah laporan menyebutkan manajemen Old Trafford mulai mengevaluasi situasi. Nama-nama seperti Antonio Conte bahkan dikabarkan masuk bursa calon pengganti. Meski demikian, Carrick diperkirakan tetap mendampingi tim pada laga Liga Champions melawan AS Roma di Old Trafford tengah pekan nanti, serta pada laga Liga Inggris melawan Aston Villa akhir pekan berikutnya, sebelum evaluasi menyeluruh dilakukan saat jeda internasional.
Carrick Akui Beban Emosional
Saat ditanya apakah dirinya masih akan menangani tim melawan Roma, Michael Carrick memberikan jawaban tegas. Ia juga mengakui besarnya tekanan emosional yang dirasakan setelah rentetan hasil buruk tersebut.
“Ada banyak emosi saat ini. Kami adalah klub sepak bola yang hebat dan ingin memenangkan pertandingan, sementara para pendukung datang, mengerahkan banyak usaha, serta mengeluarkan banyak uang untuk menyaksikan kami bermain,” ujar Carrick.
Ia mengakui timnya kehilangan kendali setelah turun minum melawan Chelsea, tetapi tetap melihat sisi positif dari penampilan sebelum jeda. Menurutnya, MU sempat menunjukkan permainan menjanjikan di babak pertama dan menciptakan sejumlah peluang melalui Bruno Fernandes, Amad Diallo, serta Matheus Cunha. Fokus utama Michael Carrick saat ini adalah segera bangkit dan kembali meraih kemenangan.
Ujian Berat Menanti
Laga melawan AS Roma di Liga Champions akan menjadi ujian sekaligus pembuktian bagi Carrick. Kemenangan bisa sedikit meredakan tekanan dan memberi ruang bernapas bagi tim, sementara kekalahan berpotensi mempercepat keputusan manajemen. Pertanyaan besar kini menggantung: apakah keyakinan Carrick akan terbukti, ataukah kursi pelatihnya benar-benar akan goyah dalam waktu dekat?
Terlepas dari polemik yang ada, satu hal yang pasti, Manchester United sedang berada di persimpangan jalan. Dukungan dari figur seperti Solskjaer menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap Michael Carrick belum sepenuhnya sirna. Namun di dunia sepak bola, hasil di lapangan adalah mata uang utama. Tanpa kemenangan, segala keyakinan dan pembelaan akan sulit mempertahankan posisi seseorang, sekalipun ia pernah menjadi pahlawan di masa lalu.
Editor: Sukri Mustakim
