Carrick di Ujung Tanduk: Kekalahan Memalukan Manchester United dari Como dan Sorotan pada Harry Amass
Inforiau – 22 Oktober 2026 | Manchester United kembali menelan pil pahit di pentas Eropa. Dalam laga fase grup Liga Champions di Stadio Giuseppe Sinigaglia, Kamis (22/10/2026) dini hari WIB, Setan Merah dihancurkan Como dengan skor telak 4-1. Kekalahan ini tidak hanya mempermalukan klub, tetapi juga menempatkan posisi pelatih Michael Carrick di ujung tanduk. Di tengah reruntuhan performa tim, nama Harry Amass justru ikut menjadi sorotan setelah ia masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-79 menggantikan Matthijs de Ligt, dalam pertandingan di mana lini belakang United porak-poranda dan kebobolan empat gol.
Laga baru berjalan dua menit, gawang United yang dikawal Senne Lammens sudah bobol. Lucas da Cunha mengirim umpan kepada Nico Paz, yang dengan tenang melewati Harry Maguire sebelum melepaskan tembakan kaki kiri melengkung yang tak mampu dihalau kiper. Gol cepat itu langsung mengguncang mental para pemain United dan menjadi awal dari mimpi buruk sepanjang malam.
United berusaha bangkit, namun tekanan tuan rumah tak terbendung. Pada babak kedua, Carrick memasukkan Carlos Baleba dan Amad Diallo, tetapi perubahan itu nyaris tidak berdampak. Empat menit setelah jeda, Paz kembali menjadi aktor utama dengan mengirim umpan terobosan kepada Anastasios Douvikas, yang dengan dingin mengangkat bola melewati Lammens untuk menggandakan keunggulan. Pada menit ke-57, Paz mencetak gol keduanya setelah merebut bola dari Baleba dan melepaskan tembakan melengkung yang kembali menembus gawang United.
Gol keempat Como datang pada menit ke-76 melalui Jacobo Ramón memanfaatkan umpan Kaiki. Satu-satunya hiburan bagi United adalah gol Joshua Zirkzee pada masa tambahan waktu, memanfaatkan assist Amad Diallo. Namun gol itu tak berarti apa-apa di tengah kekalahan yang disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah klub di kompetisi Eropa.
Rapor pemain United malam itu nyaris seluruhnya merah. Maguire mendapat nilai terburuk karena dianggap tertidur pada gol pembuka dan jauh dari posisinya saat gol keempat. De Ligt tampak kehilangan kecepatan setelah absen 11 bulan, sementara Dalot dan Mazraoui kesulitan mengimbangi pergerakan pemain sayap Como. Di tengah keterpurukan itu, kehadiran Harry Amass di menit-menit akhir setidaknya memberi gambaran bahwa Carrick mulai mencari opsi baru di lini pertahanan yang rapuh.
Menariknya, masuknya Harry Amass terjadi ketika United sudah tertinggal jauh dan pertahanan mereka benar-benar hancur. Bek muda itu memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas kekalahan, tetapi situasi tersebut menunjukkan betapa dalamnya krisis yang melanda tim. Pengamat menilai kehadiran Harry Amass seharusnya tidak sekadar menjadi pelengkap di menit-menit akhir, melainkan bagian dari regenerasi yang serius di lini belakang.
Kekalahan ini merupakan kekalahan kelima Carrick dalam 11 pertandingan musim yang buruk ini, sekaligus kekalahan Liga Champions kedua secara beruntun setelah sebelumnya tumbang 2-0 dari Atletico Madrid. Statistik juga memperlihatkan dominasi Como, dengan United hanya menguasai 45 persen bola dan mencatat xG untuk lawan sebesar 2,04. Sebanyak 13 umpan silang United ke kotak penalti tidak membuahkan hasil karena kekuatan udara mereka berhasil diredam.
Setelah peluit panjang berbunyi, Carrick berjalan sendirian ke arah sedikit suporter tandang yang masih bertahan di stadion, mengangkat tangan sebagai permintaan maaf. Pemandangan itu mengingatkan pada laga perpisahan Ole Gunnar Solskjaer di Watford pada November 2021, yang juga berakhir dengan kekalahan 4-1. Banyak pihak menilai jika ini menjadi pertandingan terakhir Carrick, maka itu adalah penyerahan yang menyedihkan.
Di media sosial, para pendukung United meluapkan kekecewaan. Seorang penggemar menyebut struktur klub busuk hingga ke akarnya dan menyamakan situasi ini dengan era Solskjaer. Pertanyaan besar kini menghantui: berapa lama lagi United akan berjalan dalam tidur sepanjang musim yang menyedihkan ini?
Di tengah badai kritik, sosok seperti Harry Amass menjadi simbol harapan sekaligus cermin masalah. Jika Carrick bertahan, ia dituntut berani memberi kepercayaan lebih kepada pemain muda seperti Harry Amass untuk membenahi lini pertahanan yang selama ini menjadi titik terlemah. Sebaliknya, jika Carrick didepak, masa depan Harry Amass dan generasi muda United akan bergantung pada pelatih baru yang datang.
Malam di tepi Danau Como itu akan dikenang sebagai salah satu malam paling kelam dalam sejarah Manchester United di Eropa. Kekalahan dari Como bukan sekadar kehilangan tiga poin, melainkan cerminan krisis identitas, taktik, dan mental yang tengah melanda klub raksasa Inggris tersebut. Tekanan terhadap Carrick semakin besar, dan keputusan yang diambil manajemen dalam beberapa pekan ke depan akan menentukan arah musim ini, termasuk bagaimana nasib pemain-pemain muda seperti Harry Amass yang kini berada di pusat sorotan.
