Lo Kheng Hong Beberkan Kunci Lewati Lima Krisis Pasar Modal
Inforiau – 06 November 2026 | Investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menjadi sorotan dalam Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026. Dalam seminar “Indonesia’s Economic & Investment Outlook”, Kamis (5/11/2026), pria yang akrab disapa Pak Lo itu menceritakan pengalamannya selama 37 tahun berinvestasi saham di Bursa Efek Indonesia, termasuk saat portofolionya tertekan tajam.
Lo Kheng Hong mengaku telah melewati lima krisis pasar modal, yakni 1991, 1998, 2008, 2020, dan 2026. Ia menyebut salah satu kunci bertahan adalah tidak memiliki utang. “Saya membeli saham hanya pakai uang sendiri,” ujarnya. Pada krisis 1991, kebijakan uang ketat Menteri Keuangan J.B. Sumarlin untuk menekan inflasi membuat harga saham turun dan portofolionya anjlok 50%. Setelah kebijakan dilonggarkan, kinerja sahamnya pulih.
Pada krisis 1998, Lo Kheng Hong mengenang tekanan luar biasa: dolar melonjak dari Rp2.400 menjadi Rp14.850 dan suku bunga naik hingga 70%. Banyak perusahaan berutang bangkrut, sementara sejumlah bank ditutup karena modalnya negatif. Pengalaman itu memperkuat prinsipnya untuk menghindari leverage. Laporan lain menyebut portofolionya pernah longsor hingga 85%, tetapi ia menegaskan disiplin modal sendiri membantunya melewati masa terberat.
Di CMSE 2026, Lo Kheng Hong menyoroti tiga sektor yang dinilai menarik: perbankan, batu bara, dan perkebunan kelapa sawit. Ia menempatkan perbankan sebagai sektor paling menarik karena tiga bank besar masing-masing mampu mencetak laba bersih sekitar Rp60 triliun. Menurutnya, tidak ada industri lain yang mencatat laba sebesar itu.
Lo Kheng Hong juga pernah mendivestasikan 151.432.100 saham PT Petrosea Tbk (PTRO) pada 29 September 2022 dengan harga Rp3.118 per saham, senilai Rp472,16 miliar. Dana itu kemudian diinvestasikan kembali ke saham sektor batu bara dan perbankan. Ia menyatakan sedang melirik saham “wonderful company” yang memiliki kinerja keuangan kuat.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa ketahanan investor tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memilih saham, tetapi juga oleh pengelolaan risiko. Prinsip tidak berutang, memilih emiten dengan laba besar, dan tetap disiplin di tengah krisis menjadi pelajaran berharga bagi investor pasar modal Indonesia.
Editor: Abuzar Samad
